sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 11, Kamis 3 Mei 2001
ceritanet
situs nir-laba
untuk
karya tulis

tentang ceritanet

esei Dari Negeri Dingin Buat Megawati
Maria Pakpahan
Ibu Megawati ,
Seperti kita semua saksikan, dengar ; situasi pertarungan kekuasaan berkaitan dengan tampuk kepresidenan di tanah air sekarang menjadi terbuka ,frontal dan kasat mata dengan adanya partai oposisi, demonstrasi, pembentukan opini publik dengan berbagai cara, dan macam-macam lainnya. Saat ini tataran pertarungan diperlebar dengan dimunculkan nama Ibu yang nyata-nyata Wakil Presiden untuk menjadi kandidat President. Ini sangat menarik dan juga paradox loh Bu. Sementara itu ada sebagian mahasiswa yang meminta Gus Dur mundur dan ada yang memfokuskan pada agenda pertanggung jawaban Golkar dalam periode Orde Baru. Sedang saya memfokuskan pada sosok Ibu dalam konteks politik Indonesia. Dan politik di Indonesia mirip cuaca di London Bu. Dalam sehari bisa berganti-ganti lima macam, hangat, dingin, bersalju, cerah kembali, angin kencang, hujan. Dalam sehari, politik Indonesia juga berubah-ubah.
Selengkapnya

 

memoar Rudi Singgih dan Indonesia
Liston Siregar
Rudi Singgih mungkin sama sekali tidak berarti apa-apa, apalagi ketika banyak orang Indonesia sedang bingung apakah politisi Jakarta akan mengganti Presiden atau tidak. Nama Rudi Singgih hanya pernah tertulis di masthead Majalah Tempo --dulu sebelum dibredel--, di dekrasi Sirnagalih pendirian AJI tahun 1994 lalu, dan sekarang di sebuah batu nisan di pekuburan umum di Bandung. Rudi Singgih mati ditembak polisi Senin 23 April malam, atau Selasa 24 April subuh. Setelah itulah nama Rudi Singgih sempat tertulis sekali lagi dalam berita-berita, sebelum tertanam habis di batu nisan. Buat AJI sekalipun, Rudi Singgih, setelah ditembak polisi, sepertinya menjadi kegalauan. Ada rapat khusus, ada silang pendapat dan tetap saja galau. Di milist AJI yang demikian ramai dan panasnya --yang membahas segala hal dari yang penting sampai yang cuma sekedar salam antara dua orang teman-- nama Rudi Singgih terasa cuma numpang lewat. Memang Rudi Singgih membuat teman, kenalan, maupun korps wartawan, jadi galau.
Selengkapnya

 

cerpen Kuda Enterprise
Muhammad Uzer
Pagi sekali, Herman datang ke rumahku. Wajahnya cerah. Di tangannya ada map hijau. Aku langsung mencium bau penting, atau paling tidak serius. Tanpa basa-basi ia usulkan sebuah ide baru. Yang tadinya terasa penting, atau serius, langsung menjadi sedikit gila, menurutku. Menurutnya? Ide cemerlang.
"Sebentar Man, duduklah dulu. Mau kopi atau te?"
"Sudahlah, tak perlu repot-repot," jawab Herman tergesa-gesa, dan akupun langsung merasa ini pasti jadi masalah. Kalau yang satu menganggap cemerlang dan yang satu lagi menganggap sedikit gila, itulah namanya masalah. Ia menjual gagasan bisnis perkudaan. "Sejak dua hari yang lalu, aku selalu memikirkan ide ini. Aku yakin, usaha ini bakal jadi usaha yang dapat menghasilkan keuntungan besar. Kita akan menjadi kaya, Bung!" Herman berapi-api.
"Bisnis kuda?"
Selengkapnya


esei Manusia Modern Berlangit Banyak
Yusuf Arifin
Karena manusia mengerti akan simbol dan hidup dalam dunia simbol maka ia berbeda dengan binatang, begitu kira-kira kata Ernst Cassirer puluhan tahun silam. Manusia menciptakan aksara untuk menyimbolkan bunyi. Manusia menciptakan bahasa untuk menciptakan dan menyimbolkan realita. Manusia menciptakan norma sopan santun berkehidupan, dan juga nilai benar salah, untuk menjaga kelangsungan hidup. Dan wajah lengkap dari dunia simbol inilah yang kemudian dinamakan kebudayaan. Tentu saja kebudayaan membawa nuansa lokalitas yang kental, karena pada dasarnya kebudayaan adalah alat bagi manusia untuk hidup dalam lokalitas tertentu. Tercipta berdasar pengalaman dan pemahaman kehidupan keseharian dalam sebuah lingkup lokalitas tertentu. Manusia hidup dan berkembang dalam sebuah kebudayaan tertentu sekaligus terkungkung di dalamnya. Maka ketika para petualang Eropa datang ke Amerika (Latin) yang terjadi bukan dialog kebudayaan tetapi benturan budaya yang berujung pada pemusnahan.

Selengkapnya

 

novel Dokter Zhivago 11
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru Pada musim panas timbul kegelisahan antara para pekerja dinas kereta api di jaringan Moskow. Orang-orang dari trayek Moskow-Kazan mogok dan rekan-rekan dari trayek Moskow-Brest diharapkan ikut serta. Putusan untuk mogok sudah diambil, tapi panitia pemogokan masih berselisih tentang tanggalnya. Tiap orang jawatan kereta api tahu akan ada pemogokan ; pencetusannya hanya memerlukan suatu alasan.
Pada awal Oktober itu hawa dingin dan langit redup, tepat pada hari pembayaran upah. Sejak lama tak ada kabar dari para akuntan ; kemudian datang seorang anak lelaki ke kantor, membawa daftar gaji dan setumpukan buku kerja yang tadinya ditahan untuk memperhitungkan upah. Kasirpun mulai membagi-bagikan bingkisan-bingkisan gajian.
Selengkapnya

 

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000