sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 11, Kamis 3 Mei 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

memoar Rudi Singgih dan Indonesia
Liston P. Siregar

Rudi Singgih mungkin sama sekali tidak berarti apa-apa, apalagi ketika banyak orang Indonesia sedang bingung apakah politisi Jakarta akan mengganti Presiden atau tidak. Nama Rudi Singgih hanya pernah tercantum di masthead Majalah Tempo --dulu sebelum dibredel--, di dekrasi Sirnagalih pendirian AJI tahun 1994 lalu, dan sekarang di sebuah batu nisan di pekuburan umum di Bandung. Rudi Singgih mati ditembak polisi Senin 23 April malam, atau Selasa 24 April subuh. Setelah itulah nama Rudi Singgih sempat tertulis sekali lagi dalam berita-berita, sebelum tertanam habis di batu nisan.

Buat AJI sekalipun, Rudi Singgih, setelah ditembak polisi, sepertinya menjadi kegalauan. Ada rapat khusus, ada silang pendapat dan tetap saja galau. Di milist AJI yang demikian ramai dan panasnya --yang membahas segala hal dari yang penting sampai yang cuma sekedar salam antara dua orang teman-- nama Rudi Singgih terasa cuma numpang lewat. Seminggu setelah insiden penembakan, AJI masih akan meminta penjelasan dari Polda Jawa Barat. Memang Rudi Singgih membuat teman, kenalan, maupun korps wartawan, jadi sedikit galau.

Seorang teman di kantor, yang cuma mengenal Rudi Singgih sebagai mantan fotografer Tempo, nyelutuk ringan ; 'ya habis dia mati, jadi selesai.' Yang lain bilang, ''polisi kan sudah biasa main tembak dulu baru tanya nama.'' Ada yang menulis email, ''kita tunggu saja perkembangan lebih lanjut.'' Semua berjalan normal, kecuali orang-orang --dalam hal ini salah satunya saya-- yang kebetulan mengenal seseorang yang mati ditembak polisi itu.

Rudi Singgih mungkin memang tidak ada apa-apanya. Tahun lalu di Jakarta saya sempat berbicara dengannya lewat salah satu telepon tangannya, setelah beberapa kali mencoba dan mengirim pesan. Dia memang selalu punya dua ; kalau rekening yang satu belum dibayar, yang satu lagi masih jalan. Waktu itu dia baru kedatangan anak pertama dan suaranya yang riang berjanji akan bertemu. Ada juga keingingan untuk melihat anaknya, karena Rudi Singgih sayang anak-anak dan lama baru kedatangan anak. Tapi Rudi Singgih, dan saya, bukanlah apa-apa. Keduanya tidak merasa perlu bekerja lebih keras untuk bertemu, dan juga sama sekali tidak ada masalah setelah gagal bertemu.

Sekarang baru saya menyesalkan gagalnya pertemuan itu. Seandainya bertemu, mungkin ada sedikit keping yang bisa terisi dalam dua tahun terakhir hari-harinya Rudi Singgih. Polisi menyebut Rudi Singgih terlibat dalam jaringan pencurian dan penjualan mobil mewah, tapi seorang tersangka lain --yang justru jadi otaknya-- masih belum berhasil ditangkap. Polisi mencari-cari alasan Rudi Singgih mencoba lari dan melawan pakai sangkur, tapi Rudi Singgih sudah ditembak kakinya di depan rumahnya. Polisi mengatakan Rudi Singgih dikeluarkan dari Tempo karena sering nakal, tapi Rudi Singgih --sama seperti seratus lebih karyawan Tempo lainnya-- sempat menganggur karena Tempo dibredel dan menolak masuk Gatra, yang waktu itu dicukongi Bob Hasan.

Dan tudingan menadah mobil mewah curian itu masih tetap tuduhan. Kalaupun benar, rasanya lebih pas mengunjunginya di balik terali besi dan tertawa-tertawa kecil sambil nyelutuk 'elo sih, nggak setor upeti ke polisi.' Bukan berkunjung ke batu nisan dan mengenang masa lalu bersama secara sepihak. Rudi Singgih terlalu lembut untuk melawan lima orang polisi. Rudi memang sering terdengar pamer kenalan --latar belakang keluarga membuat jaringan kenalannya meluas-- dan dia akan jauh lebih suka pamer kenal daripada kontak fisik langsung. Dia tukang omong, bukan tukang berantam. ''Saya menyerah, saya menyerah,'' seperti dikutip istrinya. Mengenal Rudi Singgih, ini yang pas

Buat AJI yang dulu, yang masih dikejar-kejar Orde Baru, Rudi Singgih menjadi salah satu warna yang mengkayakan keragaman AJI. Di tengah-tengah pakaian sembarangan dan deru motor, ada yang selalu perlente, naik Corolla tua warna hijau. Ia datang dari generasi muda kelas menengah Jakarta, yang ramai-ramai masuk kampus Universitas Indonesia di era 1970-an akhir, dan menjadi generasi fusion jazz, yang sepertinya tak akan pernah memasukkan rapat AJI dalam agenda hariannya.

Rudi Singgih tak hanya ikut rapat AJI. Ketika baru digrebek dan AJI kelimpungan, ia gunakan salah satu kantornya --event organizer di Pasar Raya Kuningan-- untuk rapat. Semuanya berkumpul di pusat jajan, baru turun satu persatu ke ruang bawah, ke kantornya. Rapatpun dimulai. Rumahnya di sudut Cinere juga pernah dipakai untuk rapat satu malaman AJI, menyusun strategi besar dan untuk memperkuat terbitan Independen. Subuh itu, kami semua bergelimangan tertidur di lantai ruang tamunya. Buat Rudi Singgih, sepertinya, jangan sampai sekedar urusan-urusan praktis harus menghambat pergerakan AJI. Dan untuk urusan seperti itu dia memang diandalkan. ''Ah itu gampang itu,'' begitulah kata Rudi Singgih.

Saya pernah pula diantarnya pulang, waktu Majalah Tempo masih hidup dan mobilnya masih Peugeot bekas warna coklat susu. Di simpang Kuningan, kami mencuri sedetik lampu merah untuk berbelok ke kanan, tapi dari depan ada motor yang begitu lampu berganti hijau langsung tancap gas. Motor menabrak bagian belakang mobil Rudi Singgih. Dia kemudian memutar mobilnya jauh di Jembatan Semanggi --walau bisa saja masuk ke jalan tol dan melupakan si pengendara motor di belakang-- untuk berbalik kembali ke Simpang Kuningan, minta maaf secara akrab dan memberi uang pengganti taksiran kerugian. ''Gua tahu itu kemahalan, tapi ya salah kita,'' katanya ringan ketika kami masuk ke mobil.

Jelas ada keping yang hilang, karena di Jakarta dalam waktu satu hari saja banyak yang bisa berubah. Tapi saya yakin bukan karakter, mungkin siasat untuk hidup. Sejak bergabung dengan Majalah Pilar, milik pengusaha Artha Graha yang terkenal, Tommy Winata, Rudi Singgih terasa masuk ke dalam ruangan yang agak jauh dari komunitas AJI. Begitulah kata beberapa kawan. Sewaktu Rudi Singgih tewas ditembak, Majalah Pilar menyatakan Rudi Singgih sedang cuti panjang satu tahun, tapi belakangan beberapa kali main ke kantor Pilar naik Mercedez Benz atau Toyota Land Cruiser.

Tahun 1998 kami sempat bertemu di Jakarta, setahun sebelum pertemuan yang gagal. Di dalam mobilnya ia bercerita panjang tentang rencana mengelola Majalah sebuah klub menembak, sambil menunjukkan sebuah stiker merah Kopassus di sudut sebelah bawah kaca mobil depannya. Ia sempat pula bercerita tentang peraturan yang mengharuskan semua pistol disimpan di klub, tapi hampir semua anggota klub membawanya dengan bebas. Saya merasa waktu itu Rudi Singgih tidak main-main masuk ke komunitas itu. Cuma perasaan saja, karena usaha mengaktualkan informasi setahun kemudian tidak berhasil.

Dan tiba-tiba saja ada email 'kawan kita Rudi Singgih ditembak polisi.'' Menurut Polisi, Rudi Singgih sudah lama jadi inceran mereka, tapi mestinya mereka tahu persis siapa dan bagaimana Rudi Singgih. Jadi terasa tidak wajar kenapa Rudi Singgih --yang amat jelas latar belakangnya dan tidak melawan-- sampai perlu ditembak punggungnya dan menembus ke jantung. Padahal waktu itu kakinya sudah ditembak lebih dulu, lantas punggung serta kepalanya memar dipukul --begitulah catatan rumah sakit. Dan yang melakukan adalah lima orang polisi yang terang-terangan datang ke rumah orang. Ini bisa menjelaskan apa yang dilakukan polisi menghadapi seorang penjahat yang tidak punya KTP, dan mencoba lari --karena mungkin tahu kalau menyerah toh bakal dihabisi juga. Dari sudut lain mungkin juga menjelaskan kenapa masyarakat membantai seorang maling motor yang ketangkap basah. Dan apa pula yang dilakukan para perampok pada korbannya?

Rudi Singgih memang cuma satu dari antara sekian. Salah satu dari sekian banyak ilustrasi dalam sebuah masyarakat yang berjalan nyaris tanpa hukum. Ilustrasi, persisnya bayaran, dari masyarakat dan penegak hukum di Indonesia yang tidak terlalu sulit untuk memvonis secara sepihak dan mengeksekusi dengan efektif. Yakinlah, sama sekali tak sulit mencari ilustrasi lainnya.

Itu juga yang membuat saya mulai mengerti kenapa seorang teman yang mengambil studi S3 kemudian memutuskan untuk bekerja di Manchester. Seorang kenalan begitu selesai S3 akan mengambil tawaran mengajar di Bristol, di pantai Barat Daya Inggris. Lantas sepasang anak muda Jakarta dari kalangan berada Menteng --yang biasa hidup serba mewah di Jakarta-- memilih tinggal dan bekerja di Brighton, kota pantai Selatan Inggris. Bukan London yang mentereng. Ada pula mantan pejabat Bappenas yang memilih pindah bekerja ke Wina. atau Candra Darusman yang tahun ini memilih bekerja di Jenewa --meninggalkan kemewahan selebritis Jakarta.

Lantas seorang kerabat jauh yang bekerja sebagai manajer di Four Season Bali sedang mengurus proses imigrasi ke Selandia Baru. Masih ingat Christianto Wibisono yang hijrah ke Amerika Serikat? Ada pula Arief Budiman, Ariel Heryanto, Iwan Jaya Azis, dan sederetan nama lain. Daftar itu akan panjang, dan sekitar sepuluh tahun lalu, orang-orang dalam daftar panjang tersebut agaknya akan lebih suka menikmati siasat hidup di Indonesia. Memang sekarang batas-batas geografis semakin kabur, tapi kalau yang terjadi hanya arus keluar semata, jelas jawabannya bukan sekedar globalissi. Sayapun rasanya tak layak lagi protes kalau seorang teman di Jakarta secara konsisten melengkapi emailnya dengan pesan 'kau beruntung tinggal di London.'

Seorang wartawan BBC asal Rumania belum lama pulang ke Rumania untuk reuni dengan teman-teman unviersitasnya dulu. Mereka menghitung-hitung berapa dari antara mereka yang tetap di Rumania dan berapa pula yang berimigrasi ke luar negeri. Hitungannya setengah-setengah. Wartawan itu kemudian mencari angka yang lebih besar, dan mendapatkan sekitar 100 ribu orang Rumania berimigrasi begitu diktator Caecescu diambrukkan. Tapi sampai sekarang reformasi di Rumania masih belum jalan juga, dan setiap tahun sekitar 10.000 orang Rumania masih keluar dari negerinya. ''Coba pertimbangkan betapa besar harganya,'' tulis wartawan itu menutup laporannya.

Rudi Singgih, bagi banyak orang, memang hanya satu ilustrasi saja. Tapi dia seorang teman yang baik, dulu dan sekarang. Di akhir hayatnya --perih rasanya membayangkan detik-detik yang ia hadapi menjelang kematiannya-- ia mengingatkan kembali betapa besar harga dari kegagalan reformasi di Indonesia. Dan entah kapan harga itu tak perlu dibayar lagi?
***

 

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar