sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 11, Kamis 3 Mei 2001

ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis                tentang ceritanet         

esei Dari Negeri Dingin Buat Megawati
Maria Pakpahan

Ibu Megawati ,
Seperti kita semua saksikan, dengar ; situasi pertarungan kekuasaan berkaitan dengan tampuk kepresidenan di tanah air sekarang menjadi terbuka ,frontal dan kasat mata dengan adanya partai oposisi, demonstrasi, pembentukan opini publik dengan berbagai cara, dan macam-macam lainnya. Saat ini tataran pertarungan diperlebar dengan dimunculkan nama Ibu yang nyata-nyata Wakil Presiden untuk menjadi kandidat President. Ini sangat menarik dan juga paradox loh Bu.

Sementara itu ada sebagian mahasiswa yang meminta Gus Dur mundur dan ada yang memfokuskan pada agenda pertanggung jawaban Golkar dalam periode Orde Baru. Sedang saya memfokuskan pada sosok Ibu dalam konteks politik Indonesia. Dan politik di Indonesia mirip cuaca di London Bu. Dalam sehari bisa berganti-ganti lima macam, hangat, dingin, bersalju, cerah kembali, angin kencang, hujan. Dalam sehari, politik Indonesia juga berubah-ubah.

Tak kan terlupa bagaimana Ibu Megawati ditolak sebagai Presiden beberapa waktu yang lalu, mulai dengan jurus karena perempuanlah, kurang mampulah, tidak sesuai dengan ajaran agama dan entah apa lagi. Ibu Mega tentunya tidak lupa dengan ini.

Saya takjub loh Bu. Coba ibu lihat ; orang-orang yang sama yang dulu 'anti' Ibu Mega menjadi 'kesengsem' dan bagai orkes gambus saut-menyaut menyarankan, membujuk, bahkan 'nyaris' memastikan kalau jabatan wakil Presiden bukanlah tempat Ibu Megawati ; ia lebih layak sebagai Presiden. Alamak. Celaka Ibu Mega. Saya tidak menulis mengapa ini sebaiknya dijauhi, tapi saya mau membagi pikiran dari kaca mata perempuan, dan juga kepentingan perempuan yang sangat beragam loh Bu.

Inipun saya pinjam dari fenomena perempuan dan science. Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bagaimana ia (science) sering dianggap domain kaum pria, sama seperti halnya politik. Bu, ini bukan kuliah ya, mohon maaf kalau terkesan begitu. Ini murni tukar pikiran.

Begini, di kalangan feminis yang berkecimpung dalam pengamatan ilmu pengetahuan ada yang dinamai kelompok 'epistemology standpoint.' Posisi ini mengakui dan menyadari adanya bias dalam berbagai hal, mulai dari prosedur, cara pandang, seleksi, dan lain hal yang berkaitan dengan perempuan dari budaya non-Western. Kelompok ini mencoba mencari posisi terbaik untuk memahami fenomena yang diamati, dan menyadari bias ini.

Perspektif perempuan yang menyadari dan mengakui bias ini dianggap mungkin bisa meningkatkan ilmu pengetahuan ke arah yang lebih baik. Beberapa nama yang ada dibawah payung ini antara lain Sandra Harding, Evelyn Fox Keller, Hillary Rose, Elizabeth Fee, Susan Bordo, Barbara McClintock dan Donna Haraway.

Ada juga yang disebut 'epistemology feminist empiricism,' yang percaya bahwa science tidak maskulin, juga dalam metodologinya. Persoalan lebih pada penerapannya yang salah. Dalam kelompok ini diantaranya Lynn Hankinson Nelson dan Ruth Hubbard. Sekali lagi maaf kalau uraian diatas dianggap mengajari.

Gambaran diatas memang terlalu sederhana, saya sadar itu, tapi sebagai peta dasar mungkin ada gunanya. Seperti setelah kita tahu posisi Utara maka kita tahu posisi Selatan, Timur dan Barat.

Nah, kembali ke politik Indonesia ya Bu Mega, dengan konteks diterimanya kepemimpinan perempuan, saya bertanya nih Bu ; apakah politik kita lebih dekat ke epistemology standpoint atau lebih kepada kaum epistemology empiris ?

Lebih jauh lagi apakah kepemimpinan Ibu Megawati akan mencerminkan kesadaran adanya bias antara perempuan pusat dan daerah, atau adanya bias dalam pembangunan Indonesia, atau perlunya penyatuan domain kognitif dan afektif? Apakah akan menekankan pada holistik (keseluruhan), harmoni dan kompleksitas daripada reduksionisme, dominasi, militeristik dan linearity? Singkatnya apakah Ibu Mega akan berpandangan bahwa yang salah adalah penerapan? Sistimnya tidak salah, tetapi yang salah itu penerapannya atau aparatnya, atau seperangkat kendala lain.

Mengapa ini saya tanyakan?

Saya, seperti layaknya warga negara lain, sangat berkepentingan untuk berlangsungnya pemerintahan yang baik, adil dan beradab, maupun terjaminnya keamanan bagi rakyat, kesejahteraan dan keadilan. Dan pandangan ibu Mega saat ini dalam mengidentifikasi persoalan Indonesia sangatlah penting dan esensial. Karena bila Ibu berpendapat bahwa persoalan di Indonesia bukanlah persoalan individual semata, bukan soal aparat yang korup semata, atau tidak berperi-kemanusiaan, atau militer yang nakal dan lemahnya penerapan hukum maupun kebijakan yang tidak sesuai, maka Ibu Mega menyadari adanya 'kesadaran yang salah' atau gampangnya 'sistim yang salah' selama ini. Memahami ini artinya memahami kompleksnya persoalan di Indonesia.

Pemahaman ini membawa konsekwensi logis berikutnya yang pada saat ini menjadi issue hangat di Indonesia, yakni Kepresidenan, Kepemimpinan dan kehidupan berbangsa Indonesia. Jadi persoalan suka atau tidak suka harus ditanggalkan, tapi lebih rasional dan jernih. Persoalan berbangsa, bernegara dan berkerakyatan kita bukanlah tugas dan tanggung jawab satu lembaga, atau lebih jelas lagi sosok Presiden semata. Ini tugas bersama. Sejak awal, saya sudah kemukakan bagaimana analisa Ibu Megawati dalam melihat persoalan Indonesia menjadi sangat essential dan krusial.

Bila Ibu lebih cenderung melihat bahwa ini lebih pada penerapan yang salah, bukan pada sistem, bisa dikatakan Ibu mengikuti arus epistemologi feminist empiris. Maka pertanyaan berikutnya siapa yang menerapkan hal-hal yang salah tersebut? Pasti ada pelaku, operator, pelaksana. Bisa jadi mereka itu personal atau lembaga dari tingkat atas hingga lokal. Inipun tidak sederhana karena bila akan menyelesaikan persoalan Indonesia dengan sudut pandang ini, maka mustinya Ibu sudah tahu siapa-siapa yang harus bertanggung jawab.

Contohnya, ya Bu, mari kita lihat sistim hukum, yang terlihat adalah sistim hukum Indonesia tidak salah, tapi kaum penegak hukum yang salah. Apa iya persoalannya sesederhana ini? Kiranya jawabannya kita sudah sepakat bahwa persoaln hukum di Indonesia bukanlah soal satu dua orang yang kerjanya tidak becus. Walaupun Aristoteles dari jauh hari sudah mengatakan manusia itu 'political animal,' tapi menerima adanya kaum 'political animal' ini bukan berarti menolak atau mengabaikan sistim hukum yang harus diperbaiki di Indonesia. Betul 'kan Bu Mega ?.

Coba Ibu Mega lihat beberapa fakta. Fakta ; Ibu Megawati adalah wakil Presiden RI. Fakta ; partai yang dipimpin Ibu memperoleh suara terbanyak dalam pemilu yang lalu. Fakta ; banyak yang tidak setuju dan bahkan berusaha agar Ibu tidak menjadi President. Fakta ; dalam pemilihan suara untuk kepemimpinan Presiden hingga 2004, mayoritas wakil rakyat saat itu tidak memilih Ibu. Fakta ; Gus Dur menjadi Presiden. Ini fakta sejarah.

Sekarang, coba tengok fakta-fakta yang berkaitan dengan 'kaum promotor' yang menelorkan gagasan dan mendukung agar Ibu bersedia menggantikan Gus Dur menjadi Presiden. Kepiawaian Ibu dalam pemimpin partai sudah teruji, hingga tidak perlu diuraikan fakta-fakta kaum promotor ini. Dengan sistim file partai Ibu yang ada, pasti bisa dilihat bagaimana posisi mereka saat pemilihan Presiden yang lalu. Bagaimana sikapnya terhadap Ibu. Ibu lebih tahu tahu fakta-fakta tersebut daripada saya yang melihat dari kedinginan Eropa.

Bu, karena Ibu di tanah air dan pastilah berkomunikasi dengan anggota DPR kita, dan berbagai lembaga lain. Jadi saya hendak gunakan kesempatan ini untuk nitip pertanyaan. Bukan hanya untuk anggota DPR tapi juga untuk pengamat politik, kaum terpelajar, orang biasa. Pendek kata, untuk kita semualah ; apakah kita memiliki pemahaman yang sama mengenai Indonesia dan persoalannya?

Tidak pun tidak apa-apa. Tapi apakah kita bisa sepaham bahwa tanggung jawab untuk mengurus bangsa negara ini bukanlah semata tugas dan tanggung jawab Presiden?

Bila ya, mengapa begitu rusuh soal kursi kepresidenan? Mengapa begitu bias terhadap kursi ini? Bukankah Presiden hanya salah satu bagian dari kita semua?

Bila tidak, siapakah kita? Mengapa dan bagaimana kita bisa menjelaskan bahwa kita bukan bagian dan punya tugas untuk membangun situasi yang lebih baik buat kita, rakyat dan negara Indonesia? Siapa yang bertanggung jawab sehingga kita dalam posisi saat ini, dan dimana peran ibu?

Ibu Mega, terima kasih banyak atas kegigihan Ibu selama . Saya cukup yakin kali inipun ketajaman Ibu dalam membedakan antara emas dan loyang tetap jitu, dan semoga ingatan sejarah Ibu tetap dalam keadaan prima.
***

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar