sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 11, Kamis 3 Mei 2001
tentang ceritanet

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

esei Manusia Modern Berlangit Banyak
Yusuf Arifin

Karena manusia mengerti akan simbol dan hidup dalam dunia simbol maka ia berbeda dengan binatang, begitu kira-kira kata Ernst Cassirer puluhan tahun silam. Manusia menciptakan aksara untuk menyimbolkan bunyi. Manusia menciptakan bahasa untuk menciptakan dan menyimbolkan realita. Manusia menciptakan norma sopan santun berkehidupan, dan juga nilai benar salah, untuk menjaga kelangsungan hidup. Dan wajah lengkap dari dunia simbol inilah yang kemudian dinamakan kebudayaan.

Tentu saja kebudayaan membawa nuansa lokalitas yang kental, karena pada dasarnya kebudayaan adalah alat bagi manusia untuk hidup dalam lokalitas tertentu. Tercipta berdasar pengalaman dan pemahaman kehidupan keseharian dalam sebuah lingkup lokalitas tertentu. Manusia hidup dan berkembang dalam sebuah kebudayaan tertentu sekaligus terkungkung di dalamnya.

Maka ketika para petualang Eropa datang ke Amerika (Latin) yang terjadi bukan dialog kebudayaan tetapi benturan budaya yang berujung pada pemusnahan. Orang Eropa membawa kepompong kebudayaannya ke benua yang baru dikenalnya dan tak berkehendak untuk memecahnya. Arogansi bahwa kebudayaan Eropa adalah kebenaran mutlak, yang sedikit banyak selalu saja ada dalam setiap kebudayaan, membuat mereka merasa perlu memberikan pencerahan kepada sebuah kebudayaan yang dianggap lebih rendah dan kalau perlu (bisa) mereka musnahkan begitu saja, (karenanya) tanpa ada perasaaan berdosa.

Catatan sejarah yang serupa muncul di setiap petualangan orang Eropa --dengan alasan petualangan yang berbeda-beda-- ke seluruh pelosok dunia. Tetapi secara natural kebudayaan adalah sebuah proses tanpa akhir, bergerak tanpa terminal yang jelas. Begitu manusia merasa bahwa ia, kebudayaan, berada pada terminal tertentu, pada saat yang sama ia sebenarya telah bergerak menuju nilai-nilai baru. Ia bergerak berdasar pemahaman dan pengalaman baru yang dihadapi manusia atas lingkup sekitarnya.

Berbeda dengan proses biologis penurunan sifat manusia dimana manusia baru menerima DNA dengan pasif, maka DNA kebudayaan bisa saja ditolak, dipilah, dipilih, ditambahi maupun dikurangi oleh manusia baru. Karenanya tidaklah mengejutkan setelah hiruk pikuk petualangan orang Eropa berbagai pelosok dunia tiba-tiba saja keluar sebuah pendapat yang kala itu dianggap revolusioner dari filsuf Giambattista Vico di awal tahun 1700an. Vico memberi pemahaman baru tentang bagaimana seharusnya orang Eropa menyikapi kebudayaan-kebudayaan yang baru dikenalnya.

Menurutnya manusia yang berbeda, dari masa yang berbeda, tempat yang berbeda akan mempunyai realitas yang secara fundamental berbeda pula. Karenanya kebenaran bersifat relatif dan tergantung pada bagaimana manusia membentuknya. Konsekuensi pernyataan ini luar biasa, karena sama saja dengan mengatakan tidak ada satu standar penilaian yang bisa mengatakan bahwa satu kebudayaan lebih unggul dari yang lain. Atau lebih tepatnya ia mengatakan bahwa tidak ada kebudayaan yang lebih benar dari yang lain.

Tetapi sebagaian besar masyarakat Eropa masih susah menerima pendapat
semacam ini. Hanya kalangan filsuf atau pemikir yang bisa menerima pendapat ini. Itupun juga tidak semuanya. Pertama, karena toh tidak semua orang, atau cukup banyak orang, mengalami persentuhan dengan kebudayaan lain untuk cukup mengapresiasi pendapat Vico ini. Kedua, kebesaran hati untuk menerima apa yang kemudian di kenal dengan pluralisme harus didasari sikap yang demokratis, sesuatu yang masih asing dalam kebudayaan Eropa saat itu.

Baru ratusan tahun kemudian, di penghujung 25 tahun terakhir abad 20, pendapatnya bisa benar-benar lepas landas menjadi norma bahkan di tingkat jalanan negara-negara Eropa (dan juga Eropa baru atau Amerika). Ini terjadi karena ada tiga hal yang yang saling berkolaborasi. Yang pertama adalah berkembang pesatnya alam demokrasi di Eropa. Melalui proses sejarah yang panjang, bersikap demokratis akhirnya menjadi norma budaya warga Eropa pada umumnya di ujung abad 20. Dan secara otomatis pluralisme juga menjadi norma umum sebagai konsekuensi demokrasi.

Yang kedua, dengan semakin murah, minimnya risiko dan sempurnanya alat transportasi di dunia modern, persentuhan antar budaya menjadi semakin sering terjadi. Mencicipi kehiduan budaya yang berbeda tidak lagi menjadi hak eksklusif mereka para petualang tetapi bahkan bagi mereka orang biasa yang sekadar ingin melancong. Kesadaran bahwa ada realitas kehidupan lain, yang bisa saja secara radikal sangat berbeda dengan kehidupan keseharian mereka, menjadi sesuatu yang massal.

Yang ketiga, adalah semakin canggihnya alat penyebaran informasi baik itu yang berupa buku, koran, radio, maupun televisi. Juga diciptakannya handphone yang membuat orang secara konstan terus saling berhubungan bahkan ditempat yang terpencil sekalipun. Namun yang sangat revolusioner --dan ini adalah faktor yang luar biasa-- adalah ditemukannya dunia maya internet.

Tak ada lagi langit yang berbatas maupun jarak yang tak terlintas. Manusia tercebur dalam dunia tanpa sekat, apapun nama sekat itu. Internet bukan hanya mempercepat pergerakan alur informasi hingga ke tingkat yang tak terbayangkan sebelumnya, tetapi juga melakukan desakralisasi kesucian, bahkan mendemokrasikan informasi hingga ke tingkat yang ekstrim-anarkis, dan mempopulerkan keilmiahan. Pendeknya rahasia dunia ini hanyalah satu klik saja dari hadapan kita semua. Terjadi rudimentasi besar-besaran atas fungsi makelar dalam kehidupan.

Kalau memang berkehendak fungsi kiai, pendeta, maupun lembaga sebagai makelar ajaran agama bisa disingkirkan, sehingga penafsiran realitas maupun kebenaran menjadi hak semua orang. Universitas tidak lagi menjadi maha sumber keilmuan. Masa lalu maupun masa depan terpampang sama gamblangnya pada saat yang bersamaan, tanpa kita perlu penafsiran sejarawan maupun ahli nujum.

Kolaborasi ketiga hal itu dahsyat dalam merubah wajah perilaku masyarakat modern. Kebudayaan mengalami, dalam istilah para pemikir post modernis ; dekonstruksi. Dunia tak lagi --paling tidak dalam dunia kognisi-- mempunyai apa yang dinamakan pusat kebudayaan sebagai tonggak pencapaian kesempurnaan tata nilai kehidupan. Semua kebudayaan duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Yang ada adalah pusat-pusat kebudayaan tanpa periferi. Sebuah kebudayaan yang sebelumnya dianggap pinggiran akan bisa sama kuat pengaruhnya terhadap kebudayaan yang sebelumnya dianggap pusat dalam kehidupan manusia modern.

Wajah kebudayaan yang sebelumnya dipahami sebagai proses linier yang selalu bergerak ke depan dengan berbagai penyempurnaannya juga mengalami perubahan. Ia tak lagi sekadar bergerak maju tetapi juga ke samping kiri, kanan --memadukan diri dengan kebudayaan lain-- bahkan kembali ke masa lampau kebudayaan itu sendiri.

Lokalitas kebudayaan karenanya menjadi tidak relevan lagi dan eklektisme menjadi norma kebudayaan baru. Manusia cenderung mencomot berbagai kebudayaan, mengambil sedikit dari berbagai keragaman budaya yang ada, yang dirasa cocok buat dirinya, tanpa harus mengalami kesulitan untuk survive dalam kehidupan. Tidaklah tidak mungkin sebagai misal: seorang Inggris menata rumahnya dengan perhitungan fengshui cina, mengisi rumahnya dengan benda-benda asal Amerika Latin, menganut ajaran karballa, dan menyukai musik gamelan.

Atau contoh yang ekstrim: seorang sosialis namun bekerja untuk perusahaan yang kapitalistik dan menikmati fasilitas hidup dari sistem perekonomian yang kapitalistik. Pepatah mengatakan di mana bumi dipijak, di sana langit diangkat. Kini langit tak lagi harus satu. Kita dihadapkan dengan pepatah baru: Di mana bumi dipijak, silahkan angkat berapa langit yang anda suka.
***

 

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet
 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar