ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis  
 edisi 118 rabu 10 mei 2006,  po box 49 jkppj 10210

cerpen Mawar Emas
Konstantin Paustovsky
Dialih-bahasakan oleh Dr. Victor A. Pogadaev

Sastra dicabut daripada hukum mereput.
Hanya sastra menolak kematian.
Saltikov-Shedrin*

Selalu patutlah mencita-citakan hal yang indah.
Onore Balzak*

Saya tidak ingat lagi bagaimana saya mengetahui kisah tentang tukang sapu Paris Jean Chamet itu. Jean mencari nafkah hidup dengan menyapu bengkel-bengkel perajin tangan di kawasan kotanya.

Chamet tinggal di sebuah pondok kecil di pinggiran kota. Tentu saya bisa mengisahkan pinggiran itu dan dengan demikian mengalihkan perhatian para pembaca daripada jalan utama cerita. Tetapi patutlah kiranya hanya menyebut di sini bahwa sampai sekarang di pinggiran Paris kekal tembok tanah daripada kubu lama. Pada masa berlakunya cerita itu, tembok itu masih ditumbuhi dengan belukar dan pohon-pohon kecil tempat burung bersarang.

Pondok tukang sapu itu rapat dengan kaki tembok tanah utara berhampiran dengan pondok-pondok tukang besi, tukang sepatu, pengumpul puntung rokok dan pengemis.

Sekiranya Maupassant* tertarik oleh kehidupan penghuni pondok-pondok itu, mungkin dia sempat menulis beberapa lagi cerita yang indah. Mungkin cerita itu menambah kemasyurannya yang sedia ada.

Malangnya orang luar tidak menjengok ke tempat itu kecuali anggota polisi. Tetapi mereka pun datang hanya bila mencari barang-barang curian.

Para tetangga menjuluki Chamet dengan nama 'burung belatuk.' Kiranya dia itu kurus melidi, berhidung mancung, dengan jambul rambut yang selalu tampak daripada bawah topinya dan yang serupa dengan mahkota burung.

Ada masa ketika Jean Chamet menempuh hidup yang lebih baik. Dia pernah berdinas sebagai serdadu di tentara Napoleon Kecil *selama perang Mexico*

Chamet beruntung. Di Vera Crux* dia mengidap demam teruk. Serdadu sakit itu yang belum menyertai satu pun tembak-menembak yang serius dikembalikan ke tanah airnya. Komandan resimen menggunakan peluang itu dan meminta Chamet membawa anak perempuannya Suzanne yang berusia delapan tahun ke Perancis.

Komandan resimen itu ialah duda dan karena itu terpaksa membawa anaknya bersama ke mana-mana pun. Tetapi kali ini dia mengambil keputusan berpisah dengan anaknya dan mengantarkannya kepada adik perempuannya di Rouen*. Iklim Mexico ialah sangat merugikan bagi kesehatan anak Eropa. Tambahan pula perang gerilya yang kucar-kacir menimbulkan banyak bahaya yang tak diduga.

Selama perjalanan pulang Chamet ke Perancis. Samudera Atlantik diselubungi panas terik. Gadis itu selalu diam membisu. Bahkan ikan yang meloncat dari air yang berminyak dilihatnya tanpa senyum di bibir.

Chamet menjaga Suzanne sebisa-bisanya. Tentu dia mengerti bahwa anak itu memerlukan bukan saja jagaan tetapi kasih sayang juga. Tetapi dari mana dia, serdadu tentara kolonial bisa mendapati kasih sayang itu dan menghiburkan hati gadis itu? Pasti bukan dengan permainan terup atau lelucon kasar tentara.

Akan tetapi tidak patutlah juga selalu mendiam saja. Chamet semakin sering menangkap pandangan hampa gadis itu. Akhirnya dia menguatkan hatinya dan mulai dengan tak teratur menceritakan tentang kehidupannya dengan mengingat sampai terperinci kampung nelayan di pantai La Manche*, pasir jerlus, lumpur selepas pasang surut, gereja kecil kampung dengan lonceng pecah, ibunya yang merawat tetangga daripada rasa pedih di perut.

Dalam kenangan itu Chamet tidak sempat menemui sesuatu yang bisa menghiburkan Suzanne. Tetapi heran juga gadis itu mendengar kisahnya dengan penuh perhatian dan bahkan meminta mengulangkannya dengan perincian yang baru.

Chamet memerah otak dan menceduk perincian itu sehingga akhirnya dia sendiri tidak pasti apakah perincian itu benar-benar ada dalam kenyataan. Kenangan itu baginya bukan kenangan lagi tetapi bayangannya tipis saja. Bayangan itu lambat laun hilang seperti kabus reda. Benar juga Chamet tak pernah memikirkan bahwa pada suatu hari dia akan terpaksa mengenang kembali peristiwa lama itu.

Pada suatu hari timbul kenangan samar tentang mawar emas. Apakah Chamet sendiri pernah melihat mawar kasar itu yang ditempa daripada emas menghitam dan tergantung pada salib di rumah nelayan perempuan tua atau pernah dengar cerita tentang mawar itu dari orang sekitarnya.
Ya, kiranya sekali dia bahkan melihat mawar itu dan ingat bagaimana ianya gemerdipan meskipun hari gelap dan badai suram berkecamuk di selat. Makin lama makin jelas Chamet ingat gemerdipan itu: beberapa percikan api yang terkilau di bawah atap rumah yang rendah.

Setiap penduduk kampung heran mengapa perempuan tua itu tidak mau menjual barang berharga itu. Dia bisa mendapat uang besar baginya. Hanya seorang saja yakni ibu Chamet meyakinkan semua bahwa menjual mawar emas ialah berdosa karena mawar itu dihadiahkan kepada perempuan tua oleh kekasihnya demi kebahagiaan. Masa itu perempuan tua masih gadis lucu yang bekerja di kilang sardin di Odierne.*

"Mawar emas macam itu tak banyak jumlahnya," begitu ibu Chamet. "Tetapi mereka yang mempunyainya pasti akan berbahagia. Dan bukan mereka saja melainkan semua yang menyentuhnya."

Chamet dengan tak sabar menunggu kapankah perempuan tua itu mendapat kebahagiaan. Akan tetapi tidak tampak sebarang petanda kebahagiaan pun. Rumah perempuan itu goyang ditiup angin dan pada malam hari tak pernah tampak api di dalamnya.

Akhirnya Chamet pindah ke tempat lain dengan tak sempat melihat perubahan dalam nasib perempuan tua itu. Hanya satu tahun kemudian seorang kenalannya yakni tukang api dari kapal pos di Le Havre* menceritakan bahwa anak lelaki perempuan itu, pelukis berjanggut, periang dan lucu perangainya tiba-tiba datang dari Paris dan menetap bersama ibunya. Sejak itu rumahnya berubah sama sekali. Kehidupan di sana menjadi kaya raya dan gembira. Pelukis, katanya, mendapat uang besar atas coretannya.

Pada suatu hari apabila Chamet duduk di dek kapal dan dengan sikat besi menyikat rambut Suzanne yang terurai oleh angin, gadis itu bertanya:

"Jean, mungkinkah nanti seseorang hadiahkan mawar emas kepada saya?"
"Mungkin juga," jawab Chamet. "Mungkin Suzi juga akan kedapatan seseorang yang berkerenah untuk kasih kepadamu mawar emas. Di regu saya ada seorang serdadu yang kurus badannya. Dia itu selalu beruntung. Dia menemui di padang perang gusi emas yang rosak. Kami menjualnya dan menghabiskan uang untuk minuman arak. Hal itu terjadi di perang Annam*. Serdadu meriam dalam keadaan mabuk menembak dari mortir untuk hiburan saja. Peluru kena kawah gunung api yang padam dan tiba-tiba gunung api itu mulai bernafas dan meludahkan lahar. Entah apa namanya gunung api itu? Kiranya, Keraka-Taka*. Peledakan gunung api hebat sekali! Empat puluh orang setempat menjadi korban. Bayangkan saja, empat puluh orang mati karena gusi emas yang terkutuk itu! Kemudian ternyata kolonel kamilah yang kehilangan gusi itu. Tentu perkara itu cepat ditutupi. Citra tentara mesti diutamakan. Tetapi kami betul-betul mabuk masa itu."

"Di manakah itu berlaku?" Suzanne bertanya dengan ragu-ragu.
"Saya sudah beritahu, di Annam, Indochina. Di sana, lautan berapi-api seperti neraka dan ubur-ubur serupa dengan rok berenda penari balet. Dan begitu lembab di situ sehingga selama satu malam sepatu kami penuh ditumbuhi cendawan! Berani sumpah! Biarlah saya digantung mati jika berbohong."

Dulu Chamet sering mendengar cerita karut daripada serdadu lain tetapi sendiri tidak pernah berbohong. Bukan karena tidak pandai, hanya tidak ada keperluan. Tetapi sekarang dia menganggap perlu menghibur Suzanne dengan apa cara pun.

Chamet membawa gadis itu ke Rouen dan menyerahkannya kepada perembuan berbadan tinggi dengan bibir kuning rapat terkatup yakni tante Suzanne. Perempuan tua itu berpakaian gaun hitam daripada kain bergelas dan berkilau seperti ular sirkus.
Suzanne, baru saja melihat perempuan itu, dengan rapat mendakap Chamet dan mantel tentaranya yang pudar warna.

"Tidak apa-apa," Chamet berbisik dan menolak Suzanne pada bahu. "Kami, serdadu juga tidak memilih komandan kompi. Tabahlah, Suzanne, anak serdadu!"

Chamet pergi. Beberapa kali dia menoleh pada jendela rumah yang jemu-jemu itu di mana bahkan angin tidak menggerakkan langsir. Dari warung-warung di jalan sempit terdengarlah bunyi jam. Dalam ransel serdadu kepunyaan Chamet tertinggal pita biru yang koyak dari rambut Suzanne yang mengingatkan kepadanya tentang gadis itu. Dan entah mengapa pita itu berbau begitu harum seakan-akan ianya lama disimpan di bakul bersama dengan bunga violet.
***
Bersambung

*. Salyikov-Shedrin, penulis satira Rusia (1826-1889).
*. Onore Balzak, penulis Perancis (1799-1850).

*. Maupassant, penulis Perancis (1850-1893).
*. Napoleon Kecik, julukan Napoleon III (1808-1873), maharaja Perancis pada tahun 1852-70.
*. Perang yang dilancarkan Napoleon III melawan Mexico pada tahun 1862-67.
*. Vera Crux, kota di Mexico, terletak di pantai Teluk Mexico.
*. Rouen, kota di Perancis di tepi sungai Sena.
*. La Manche (English Channel), selat antara Perancis dan Inggeris.
*. dierne, pelabuhan di Perancis.
*. Le Havre, pelabuhan di Perancis, terletak di muara sungai Sena.
*. Yang dimaksudkan agresi tentara Napoleon III di Indochina  (1858-62)
*. Yang dimaksudkan sebenarnya Krakatau di Selat Sunda

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

laporan Srey Karaoke
Rustam Pakpahan

memoar Dear Dina
Titi Supardi

ceritanet
©listonpsiregar2000