ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis 
edisi 118 rabu 10 mei 2006,  po box 49 jkppj 10210

memoar Dear Dina
Titi Supardi

Sorry, baru sekarang aku bisa kirim kabar, setelah seminggu lebih sejak insiden 28 April di Dili. Terus terang saja aku nggak tahu harus mulai dari mana harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di sini, karena bagi kita kejadian pada hari Jumat itu sepertinya biasa-biasa saja. Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan amuk massa di Tuban, misalnya.

Tapi, SMS-mu itu bikin aku kaget saja. Bukan isi beritanya yang membuat aku terkejut tetapi pesanmu itu datang pada tengah malam buta, waktu Timor-Leste. Mestinya aku nggak perlu kaget terima pesanmu itu, ya. Karena sehari sebelumnya aku juga menerima banyak pesan dari teman-teman maupun keluargaku, yang menanyakan tentang keadaan di Dili.

Bimo yang sangat jarang kirim kabar pun, tiba-tiba datang pesannya, “Ti, Dili rusuh, ya?” Sedangkan Rini adikku yang sangat rajin mengikuti berita di televisi segera menanyakan keadaan di Dili, “Mengapa tentara Timor-Leste mengamuk?” Ketika itu aku mencoba membalas pesan dari banyak teman agar mereka tak khawatir. Maklum, aku ‘kan gak tahu pasti informasi apa yang disampaikan oleh media di Jakarta. Ternyata, semua pesan nggak bisa terkirim. Rupa-rupanya, pada saat yang sama, semua orang berusaha menelepon atau mengirim pesan, sehingga jaringan Timor Telecom – satu-satunya jaringan telepon di negeri ini lumpuh untuk sementara waktu.

Ya, ya, di Dili terjadi runggu-rangga, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya kekacauan, tanggal 28 April lalu. Mungkin, banyak orang tak menduga sebelumnya akan terjadi kerusuhan seperti itu. Empat hari sebelumnya, memang ada demonstrasi damai yang dilakukan oleh ex-anggota FDTL (Força de Defesa de Timor-Leste, Angkatan Pertahanan Timor-Leste).

Mereka melakukan pawai pada 24 April, berangkat dari arah Comoro dan kemudian mangkal di depan kantor Kodim jaman Indonesia dulu, di sebelah Palácio do Governo. Kalau aku tak salah ingat, sebelumnya mereka kembali menyampaikan petisi ke Presiden Xanana Gusmão di Caicoli dan juga ke Parlemen Nasional. Aku dengar teman-teman, acara aksi damai dari para demonstran itu juga diisi dengan beberapa orasi. Nanti deh aku ceritakan apa isi petisi yang mereka sampaikan itu. Jalan-jalan ke arah para demonstran mangkal itu ditutup dan dijaga oleh polisi.

Beberapa teman menceritakan apa yang dilakukan oleh para demonstran, yang terdiri dari bekas anggota militer dan simpatisannya itu. Tapi,  terus terang, aku kurang berminat menyimaknya. Sejak beberapa waktu aku sedang berpikir untuk memulai rencana penelitianku tentang perempuan Timor sepanjang proses referendum lalu. Sama sekali aku nggak membayangkan akibat dari aksi damai itu menjadi serumit sekarang.

Siang itu, sekitar jam satu lewat aku dan Nug bermaksud pergi ke warung Jawa Timur di jalan Presidente Nicolau Lobato, di belakang jalan Lecidere untuk makan siang. Sudah lama Nug pengen makan rujak cingur. Ketika kami melintasi kampus Universitas Nasional Timor-Leste, dari Jalan Colmera, aku melihat banyak orang berdiri di depan kampus Liceu itu. Mata mereka memandang ke arah pelabuhan.

“Ada apa,” tanyaku pada Nug. “Mungkin mereka mendengar desas-desus lagi,” jawab Nug. Memang, selama ex-FDTL melakukan aksi damai banyak terdengar kabar burung. Jalan di pertigaan itu agak macet. Tak lama kemudian, tampak seorang polisi melaju dengan motornya, disusul oleh polisi lain. Sambil melaju kencang petugas keamanan itu meneriakkan, “Fila ba uma. Fila ba Uma.” Aku segera menyuruh Nug untuk kembali ke kantor. “Mengapa polisi itu menyuruh pulang ke rumah?” Nug tak menjawab. Di jalan dari arah Palácio do Governo aku melihat beberapa orang berlarian.

Sekali lagi aku menyuruh Nug untuk pulang. Aku agak was-was melihat banyak orang yang panik. Di jalan ke arah Colmera aku melihat banyak kendaraan melaju kencang, tidak seperti biasanya. Di depan Kantor Pengadilan Distrik Dili kami berpapasan dengan mobil polisi. Dengan megaphone seorang polisi meminta semua orang untuk pulang, “Pulang segera ke rumah! Segera pulang ke rumah! Situasi tidak baik!”

Aku tetap tak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘situasi yang tidak baik itu’. Baru aku tahu apa yang terjadi setelah kami sampai di kantor. Di bawah pohon di sebelah kantin aku melihat teman-teman berkumpul di sana. “Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya seorang teman kepada Nug, yang belum turun dari motornya. Dengan suara keras, seorang teman yang baru datang mengatakan, kantor Perdana Menteri dibakar. “Ada mobil-mobil yang dibakar di sana,” kata seorang teman yang lain. Kita semua belum tahu apa yang sebenarnya terjadi kemudian dikejutkan dengan suara deru mobil-mobil yang berjalan cepat. Rupa-rupanya, sejumlah mobil pemerintah melintas kencang ke arah rumah Perdana Menteri, di depan kantor Perkumpulan HAK yang lama, berjarak satu rumah dengan kantor yang sekarang. Kita tak bisa tahu siapa saja yang berada di dalam mobil-mobil itu. “Kaca-kaca mobil itu pecah,” teriak seorang teman yang berdiri di luar pagar kantor.

Mengapa bekas anggota Angkatan Pertahanan Timor-Leste berdemonstrasi? Ini bukan pertama kali mereka berunjuk rasa. Tanggal 9 Februari lalu, lebih dari 100 orang anggota FDTL mendatangi Palácio das Cinzas (Istana Debu) di Caicoli. Aku melihat mereka berseragam militer dan berbaris rapih di halaman kantor Presiden Xanana Gusmão itu dari aula gedung NGO Forum. Ketika itu aku dan beberapa teman tengah menyelenggarakan pelatihan jurnalisme untuk aktivis Aliansi Nasional untuk Pengadilan Internasional, di sebelah kantor Presiden itu.

Menurut teman-teman, para demonstran  menuntut agar Presiden melakukan tindakan untuk mengatasi diskriminasi yang mereka alami oleh pimpinan FDTL. Menurut para demonstran, diskriminasi itu diberlakukan terhadap anggota militer yang berasal dari Loromonu (wilayah di bagian barat Timor-Leste), sementara perlakukan yang tak adil itu tak dialami oleh mereka yang berasal dari bagian timur, yang biasanya disebut dengan Lorosae. Siang itu mereka menyampaikan surat kepada Presiden yang menyebutkan beberapa tindakan yang mereka anggap tidak adil itu. Tindakan diskriminatif itu tidak saja berupa makian-makian dari komandan mereka tetapi anggota militer itu juga terhambat kenaikan pangkat dan kariernya.

Masih menurut teman-teman, ketika itu, Presiden berjanji akan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Presiden juga meminta anggota militer yang dipimpin oleh Letnan Satu Gastão Salsinha itu kembali ke markas mereka. Menurut Presiden Xanana Gusmão, mereka telah melakukan dua kesalahan. Pertama, meninggalkan markas dan kedua, mereka telah menyampaikan surat protes tersebut kepada beberapa kedutaan besar negara asing di Dili. Ketika Presiden Xanana meminta mereka kembali ke markas untuk menyelesaikan masalah, Salsinha menolaknya. Menurut laki-laki asal distrik Ermera itu pimpinan FDTL tidak akan menyelesaikan masalahnya. Itu sebabnya mereka menyampaikan masalah mereka langsung kepada Presiden sebagai Panglima Tertinggi FDTL.

Setelah itu kehidupan di kota Dili berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi, anehnya, ketika itu aku dan Nug banyak menerima e-mail, ada yang menanyakan apakah kami aman-aman saja atau menanyakan apa yang terjadi di Timor-Leste, dan ada pula yang mengirimi berita yang ditulis oleh media asing yang menyebutkan terjadinya mutiny  (pemberontakan) oleh ratusan anggota angkatan bersenjata Timor-Leste. Wow, berita-berita itu tentu ngawur. Karena yang dilakukan para anggota-anggota FDTL itu hanyalah protes dan menolak kembali ke markas. Ketika meninggalkan markas mereka tidak ada yang membawa senjata. Mereka masih mengenakan seragam militer. Itu saja. Jadi tidak ada pemberontakan dalam tubuh angkatan bersenjata Timor-Leste seperti yang diberitakan itu.

Awal April, aku sempat protes kepada seorang wartawan di Tempo. Berita yang mereka muat juga tidak akurat. Setelah itu Nug diwawancara untuk menceritakan apa yang terjadi di Timor-Leste, berkaitan dengan isu eks anggota militer yang menyampaikan petisi. Berita yang ditulis kemudian menjadi jelas, dengan tajuk “Tentara dari Barat dan Tentara dari Timur”.

Mungkin, berita yang kamu baca menyebutkan bahwa ada 591 orang atau lebih yang dipecat. Itu juga tidak benar. Menurut informasi yang diperoleh Nug, dari semua prajurit yang melakukan protes, sekitar 130 orang yang dipecat karena 30 orang dari mereka telah kembali ke barak sesuai perintah Presiden Xanana. Jumlah 591 orang itu adalah jumlah total anggota militer yang dipecat sejak terbentuknya FDTL empat tahun silam.

Ada banyak alasan mengapa mereka diberhentikan. Kabarnya, ada yang tidak kembali setelah selesai masa cutinya dan ada pula yang telah mendapatkan pekerjaan lain yang upahnya lebih besar. Maklum, gaji sebagai anggota militer ternyata tidak seberapa jika untuk mencukupi hidup keluarganya. Mereka yang tidak kembali ke barak itu --menurut Panglima FDTL Brigadir Jenderal Taur Matan Ruak di depan Parlemen Nasional, pada pertengahan Maret-- tidak berstatus militer lagi.

Kembali ke cerita Jumat 28 April itu, ya. Seorang teman yang berada di kawasan kantor Palácio do Governo mengatakan, massa membakar tiga mobil dan memecahkan kaca-kaca mobil yang diparkir di halaman kantor pemerintah itu. Kelompok Petisioner --mereka yang melakukan aksi damai dan menyerahkan petisi itu-- kemudian berjalan ke arah Comoro. Kawasan pertokoan Colmera aman-aman saja, tak ada toko atau bangunan yang dirusak atau dijarah isinya.

Insiden terjadi lagi di kawasan Pasar Comoro, tidak jauh dari bandara. Bagian ekor dari rombongan ini mendapatkan gangguan dari orang-orang yang berasal dari arah Pasar Comoro. Entah siapa yang menghadang dan apa yang kemudian terjadi aku tak dapat informasi yang akurat. Menurut informasi, terjadi perkelahian dan polisi melepaskan tembakan untuk menghentikannya. Tidak ada korban dalam insiden ini. Rombongan melanjutkan perjalanan menuju tempat menginap mereka di kawasan Taci Tolu.

Baru di sekitar terminal Taci Tolu terjadi insiden yang lebih besar. Bangunan semi permanen yang ada di sana, kabarnya, dirusak dan dibakar. Lagi-lagi, menurut kabar, kios-kios itu milik orang-orang Lorosae. Entah siapa yang mulai menembak, kemudian tersiar kabar ada yang terbunuh di sana. Tetapi sampai sekarang berapa orang yang tewas belum ada informasi. Media massa menyebutnya dua orang tewas tetapi kemudian pemerintah mengatakan empat orang tewas diterjang timah panas.

Menurut Neves yang berhasil mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, militer yang kemudian turun untuk membantu mengatasi masalah malah menembaki ke segala arah. Tentu karena kawasan itu tidak sepi. Banyak orang yang berada di sana. Mereka panik mendengar suara tembakan. Mereka berlarian ke arah pegunungan.

Informasi mengenai peristiwa ini juga masih simpang siur. Ada teman yang menceritakan tetapi setelah dikejar lebih lanjut, mengatakan dia juga dengar dari orang lain. Media pun tidak melaporkan kejadian. Wartawan hanya menuliskan apa kata pejabat. Karena itu yang paling gampang.
*. bersambung

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

laporan Srey Karaoke
Rustam Pakpahan

cerpen Mawar Emas
Konstantin Paustovsky
Dialih-bahasakan oleh Dr. Victor A. Pogadaev

ceritanet
©listonpsiregar2000