ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis   
  edisi 117 selasa 18 april 2006,  po box 49 jkppj 10210

sajak Detik Purnama
Gendhotwukir
Benarkah Kau mengerti kembalinya bulan jingga ?
Di bawah pengertian malam yang suram tiada cakap ria
Aku berdiri di atas awan yang goyah
Di tengah galaksi yang menawan aku gundah
Tentu saja, aku menjadi ngeri dengan hampa
baca

cerpen Dokter Lenggogeni
Farah Rachmat
“Lenggo,” suaraku melemah, aku tak sanggup melihatnya pergi menjauh dariku. Tubuh jangkung, dengan mata teduh yang selalu bersinar baik. Ah, Lenggo, aku tak sanggup melihat kau menjauh dariku. Aku tak sanggup. Skenario yang pernah terlintas dalam hidupku beberapa tahun lalu melintas dalam benakku, berputar dengan begitu jelas. Lagu easy listening berbahasa perancis itu mendominasi ruang café. Aku masih menunggu Lenggo di sana.
baca

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

“Zhivago,” ulang Strelnikov, waktu mereka dudui di kamarnya. “Zhivago…Pedagang agaknya. Atau bangsawan…O, bukan, dokter dari Moskow…Bepergian ke Varykino. Mengapa kamu tinggalkan Moskow untuk dusun terpencil ini?” “Demikianlah maksudnya. Mencari yang tenang, terpencil dan tak dikenal, untuk mengaso.” “Wah romantis benar! Varykino! Saya kenal kebanyakan dusun di sini. Itu dulu tanah milik Krieger. Kamu barangkali kerabatnya? Boleh jadi ahli warisnya?”
baca

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

ceritanet
©listonpsiregar2000