<%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%> ceritanet

ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis    edisi 117 selasa 18 april 2006,  po box 49 jkppj 10210

cerpen Dokter Lenggogeni
Farah Rachmat

“Lenggo,” suaraku melemah, aku tak sanggup melihatnya pergi menjauh dariku. Tubuh jangkung, dengan mata teduh yang selalu bersinar baik. Ah, Lenggo, aku tak sanggup melihat kau menjauh dariku. Aku tak sanggup. Skenario yang pernah terlintas dalam hidupku beberapa tahun lalu melintas dalam benakku, berputar dengan begitu jelas.

Lenggogeni, Siapa yang sangka aku bisa date dengan dia? Dokter super sibuk dengan dunia organisasi nirlabanya itu masih mau date di tempat nyaman seperti ini.

Aku memang jatuh simpati dengan lelaki tinggi kurus dengan gaya tertawanya yang santai, yang selalu menyapa orang dengan gaya santai-simpatik. Aku merasa ada sesuatu dalam dirinya, kekerasan hati dan kelembutan. Apakah karena dia dokter? Hmmmhhh, tak tahulah, apa hubungannya, ya?  Padahal aku hanya bertemu dengannya beberapa kali dalam beberapa pertemuan formal kantor.

Ah, itu dia, aku melihat wajahnya yang lelah, walau wajah yang selalu tersenyum. Matanya lembut, membuatku tak canggung memperlihatkan kesalahanku padanya. Aku pikir dia benar-benar membuka tangannya untuk bekerjasama. Ah, Lenggo.

“Hei, sudah lama? Maaf aku selalu bikin orang menunggu. Sudah pesan minum?”

Aku tersenyum menyambut serentetan kalimat tanya seperti tak ada jeda. “Hei, duduklah. Aku sudah pesan minum, kopi.” telunjukku mengarah ke cangkir di depanku.

Good. Aku pesan juga, ah.” Dia mencari pelayan. Pesanannya seperti biasa, cappuccino.
“Apa kabarmu,cantik?” dia bertanya sambil menyambar penganan kecil di atas meja.
“Biasa saja, kau bagaimana, ganteng?”
“Beginilah…”sambutnya dengan senyum lebarnya. “Aku tidak bisa tidur semalaman. Aku keluyuran di rumah sakit, ngobrol dengan kawan-kawan muda yang masih harus jaga. Hhhh, tak kusangka, aku sudah melewati itu lama sekali.”

“Aku juga tak bisa tidur semalaman.”
“Eh, kok sama? Kalau begitu bisa janjian sebenarnya, ya? Bisa kutemani tidur,” tawanya berderai, hidungnya mengerenyit.
“Aku tidak bisa tidur karena aku baru saja pindah rumah. Teman serumahku pergi seminggu dan aku tak tahan dengan bunyi-bunyian baru. Setelah secangkir Milo dan mengetik cerita, aku hampir tertidur, itupun sudah hampir subuh, jadi aku teruskan sampai Subuh datang.”
“Payah sekali, kamu. Kan kamu tahu aku ada di sini, kenapa tidak telepon?”
“Hehehehe, mana aku tahu kau juga susah tidur?”

Tawa kami berderai bersamaan. Obrolan kami bergulir terus dari topik satu ke lainnya diseling tawa, tawa terbahak-bahak berderai. Dan tak terasa waktu semakin larut, dan café itupun akan tutup.

“Suatu hari, aku akan ceritakan sepenggal cerpen Hamsad Rangkuti yang aku baca di Kompas Minggu 15 Februari 1998. Aku masih menyimpan potongan itu.”
“Apa judulnya?”
“’Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?’ Judulnya menggelitik, kan? Oh aku ingat, cerpen itu sudah dalam buku kumpulan cerpen Kompas.”
“Aaaah, aku dengar darimu saja, kalau diceritakan ‘kan seperti anak-anak. Kita ketemu lagi di tempat yang nyaman nanti kau bisa membacakannya untukku.”

Matanya dan mataku bersitemu dan aku menghindar.  Aku bahagia sekali. Lenggo mengantarku sampai ke rumahku.

“Kau tidak takut sendirian kan? Apa perlu aku temani?”
Uh, inginku dia menemaniku. Sungguh. “Boleh saja, kau mau?”
“Boleh.”
Maka aku bukakan pintu agar ia bisa memasukkan mobilnya ke pekarangan rumah kontrakanku itu.

“Aku tak dapat lagi tetap begini, Ni.”

Aku berhenti dari kesibukanku menyiapkan sayur bayam. Aku menghadapkan wajahku padanya. “Apa maksudmu dengan tetap begini Go?”
“Ya begini ini, tanpa kepastian, tanpa ikatan apa-apa.”
“Kau maunya apa?” tanyaku
“Menikah denganmu.” ujarnya.
“Menikah denganku?” ulangku, aku terdiam.
 “Ya, Lini. Menikah, Ni, kau tak mau menikahi aku?” Lenggo. Lelaki bertubuh jangkung, senyum yang lebar dan mata yang teduh. Ah. Tak ada yang kupungkiri dalam hati ini, betapa aku mencintainya.

Betapa aku ingin bersamanya. Kenapa aku selalu punya masalah begini kalau sampai pada saat seorang lelaki ingin meminangku. Apa masalahku? Hhhhhhh. Aku ingin bersama Lenggo, Tuhan, aku ingiiin bersamanya, ingiiin…apakah ia memang kau takdirkan untukku, ya Tuhan?

“Go, kupikir dalam malam ini, ya?” kusiapkan makanan.
“Ni, sungguh ya, kau pikirkan hal ini. Aku ingin kita menikah.”

Aku mengangguk. Hari itu menjadi hari yang tidak bisa kulupakan. Kami, Lenggo dan Lini menikah. Semua bahagia, ayah-ibu, Papa-Mama Lenggo, sanak saudara. Semua. Aku memandang Lenggo, lelaki bertubuh jangkung, senyum lebar dan mata yang teduh. Ia memang baik, aku tidak menyangkal. Dari sudut mataku, Lenggo memandangku dengan matanya yang teduh, matanya bersinar bahagia. Aku yakin itu, ia bahagia.

Sejauh hari kami berdua melangkah dalam dunia pernikahan kami. Aku sungguh merasa beruntung bersama Lenggo. Lenggo yang penuh pengertian, Lenggo yang penuh kasih sayang, Lenggo yang…jadi menantu kesayangan ayah. Lenggo. Lenggo. Lenggo. Aku merasa beruntung perasaan insecure dalam diriku tak muncul lagi. Aku merasa demikian. Mungkin, semuanya karena aku berserah padaNya. Apapun yang terjadi, hanya Ia-lah yang tahu.

Aku sedang membaca risalah rapat organisasi ketika kudengar Lenggo tiba. Kudengar mobilnya masuk halaman. Kemudian, pasti dengan ritualnya, masuk dari pintu samping, masuk ke dapur, melempar kuncinya di meja dapur dan ke kamar. Pintu kamar terbuka. Lenggo berdiri di pintu, “Ni, pergi yuk?”

“Eh, tumbeeen, ada apa?” sahutku sambil meletakkan bahan bacaanku. Dia tersenyum.
“Keluar saja, makan atau apalah.”
“Hmm, ada apa dulu?”
“Nanti kubicarakan sambil kita jalan.”

Malam itu kami berdua habiskan dari jalan di sepanjang jalan pertokoan, berhenti di tempat es krim. Aku merasa Lenggo menyimpan bom waktu. “Go, kau mau cerita apa?”
“Hmmm, sebenarnya aku hanya ingin kita menikmati malam ini saja. Sudah lama kita tidak jalan-jalan,kan?”mata teduhnya tepat menatap mataku. Ah, mata itu, sekelibat gelisah nyata dalam matanya.
“Kenapa, Go?
Ia menghela nafas. Lalu tersenyum, “Biarkan aku menyelesaikan sendiri sementara, Ni. Nanti kuceritakan. Sekarang kita nikmati ini saja.”

Aku mengusap tangan Lenggo. Mata kami bertemu, ah matamu, Go. Ada apa? Tanya itu masih ada dalam relung hatiku, membuatku sedikit resah.

Setiba di rumah malam itu, kami melupakan masalah Lenggo, kami melewati dengan mentautkan hati kami, melarutkan malam dengan saling bercumbu, bercinta. Ah, Lenggo. Lenggo. Lenggo. Dalam dekapmu, malam ini aku merasakan gelisahmu, aku merasakan keinginanmu keluar dari gelisahmu. Ah, Lenggo.

Lenggo akan pergi ke Thailand untuk beberapa minggu. Memang biasa dia pergi ke luar kota atau ke luar negeri. Sebelum kami menikah, perjalanan sudah bagian dari hidupnya.. Hanya, aku merasa aneh dengannya. Sepertinya ia tidak sepenuhnya ingin pergi. “Ni, aku pergi hanya beberapa minggu. Tidak apa, kan?”

Aku menggeleng. “Pergilah, Go, kan memang kau harus pergi karena pekerjaanmu, biasa saja kan? Aku tetap di sini.”

Lenggo menciumku lembut, lama sekali seperti tidak ingin melepasku. “Go, ada apa?” kuusap punggungnya lembut. Pelukannya semakin erat. Aku merasakan detak jantungnya yang berdegup keras.
“Aku ingin kau ikut, Ni…aku ingin kau bersamaku.”bisiknya di telingaku. Tak terasa air mataku merembes.

Aku memandang wajahnya, mengapa rasainsecure itu muncul di diri Lenggo kini? “Lenggoku sayang, aku juga ingin bersamamu. Tapi kita kan berpisah seperti ini biasa kan? Waktu sebelum menikah kau juga selalu pergi.” Ia menghapus airmataku dengan jemarinya, dan ia memelukku lagi.

“Tapi sekarang aku merasa lain, Ni. Aku merasa sangat sedih meninggalkanmu sendiri.”
“Hei, hei, sayang…aku akan baik saja. Pergilah, Go.” Aku membalas pelukannya, erat.

Minggu berganti minggu, Lenggo tak lepas meneleponku atau SMS. Aku merasakan betapa menderitanya ia sendirian di sana. Ah, Lenggo. Aku pun sama. Tidakkah ini yang kita inginkan, selalu bersama? Tinggal beberapa hari lagi Lenggo akan tiba di rumah lagi. Aku tidak sabar lagi menunggu. Tak kusangka bahwa aku merasakan lelah sendirian tanpanya. Aku kira aku bisa mengatasi rasa itu, tetapi aku merasakan rasa rindu itu, terus menderaku selama berminggu-minggu Lenggo pergi. Ah, Lenggo…Lenggo…Lenggo.

Beep. SMS masuk, aku menyambar handphone yang tergeletak di meja. Lenggo. Dia akan terbang hari ini. Esok malam ia akan tiba di sini. Lenggo. Aku tidak mengerti juga dengan diriku ini. Di satu sisi aku merasakan Lenggo adalah kawan sejatiku, ia selalu ada jika aku memerlukannya. Di sisi lain, aku merasakan janggalnya ia menjadi suamiku. Aku mengerti dan merasakan rasa kasih sayangnya selama hampir dua tahun kami bersama dalam dunia pernikahan ini.

Kalau kuingat saat pertama kali mengenalnya, ah! Memang kami tidak pernah menyebut hubungan kami itu pacaran, apalagi hubungan serius, kami berkawan akrab memang. Sampai satu saat Lenggo ingin menikahi aku. Kupikir, ini ada andil dari orang tuaku. Tapi aku tidak menyesali apapun, aku memang ingin bersama Lenggo, hanya aku juga merasa ada yang perlu kuselesaikan sebelum aku menerimanya dalam pernikahan ini. Aku tak tahu, ini hanyalah skenarioNya. Kita bukankah makhlukNya yang hanya menjalankan saja?

Hampir semua penumpang dengan jurusan yang sama dengan Lenggo sudah keluar, aku  tidak melihat sosok Lenggo di antara penumpang yang keluar dari pintu keluar di bandara. Senyumku berubah menjadi cemas. Aku pergi ke meja informasi. Menanyakan apakah semua penumpang dari penerbangan yang ditumpangi Lenggo sudah keluar semua. Nona itu hanya berucap ia tidak boleh mengatakan mengenai penumpang. Aku menelepon handphone Lenggo.

Tak ada jawaban. Kucoba lagi. Masih tak ada jawaban. Sampai ak berkeputusan untuk segera mencari kenalanku, minta bantuannya untuk mencarikan Lenggo di dalam mungkin ia masih ada di sana. Hampir dua jam lebih aku menungggu, kulihat kenalanku datang, kelihatan wajahnya lelah dan menyimpan duka. Ah, Lenggo.  “Bagaimana?”kusambut pelukannya.

“Bu, sebaiknya tenang dulu.” Ia menceritakan kejadian yang menimpa Lenggo selama perjalanan dari turun pesawat ke ruang pengambilan barang.

Aku hanya pasrah mengikuti langkah kenalanku ke dalam area pengambilan barang, lalu ke ruang kesehatan. Ah….Lenggo….Lenggo…Lenggo. Ia, seorang Lenggogeni, terbujur kaku di sana.
***
Nabire, 12 April 2006

 

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak Detik Purnama
Gendhotwukir

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000