ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis   
  edisi 116 sabtu 25 maret 2006,  po box 49 jkppj 10210

esai Blair dan Brown, SBY dan JK
Deddy Sitorus

Jagad politik Inggris seminggu belakangan ini diramaikan oleh wacana tentang kepemimpinan ganda (dual priemership), antara Perdana Menteri Tony Blair dengan Chancellor of the Exchequer, Gordon Brown. Sang Menkeu sudah lama dijuluki ‘a leader in waiting’ dan publik sudah lama menanti tentang kapan Brown akan diberikan mahkota Perdana Menteri.

Brown adalah sekutu erat Blair dalam mentransformasikan partai buruh menjadi New Labour di awal 90 an. Banyak kalangan mengatakan bahwa Brown adalah wakil Old Labour yang dalam banyak hal memiliki cara pandang berbeda dengan Blair yang murni pembaharu.

Perbedaan antara kedua pemimpin partai buruh ini tidak terlalu rapi tersembunyi walau publik dalam hal ini media hanya bisa menduga-duga. Hanya sekali-sekali media berhasil mendapat bocoran tentang pertentangan kedua pemimpin mengenai isu-isu politik. Begitupun, kesamaan visi kedua pemimpin ini adalah dalam hal menarik partai buruh dari wilayah tradisional sosialis di spektrum kiri garis politik Inggris, yang dihuni oleh Partai Liberal Demokrat, partai terbesar ketiga saat ini.

Kesamaan lainnya adalah bahwa keduanya sangat media consciuos yang mendapat sorotan tajam karena manajemen komunikasi mereka dianggap sebagai bentuk 'spinning' atau rekayasa komunikasi untuk keuntungan politik. Tudingan ini berkaitan erat dengan peran dan fungsi para pembantu terdekat kedua pemimpin ini yang sangat mendominasi agenda media.

Publik, terutama pekerja media sangat familiar dengan nama-nama seperti Alistair Campbell dan Peter Mandelson di pihak Blair serta Charlie Whelan dan Ed Balls di pihak Brown. Para pembantu terdekat ini seringkali dianggap terlalu berkuasa hingga mempengaruhi atau mempolitisasi birokrasi yang terkenal sangat netral.

Setelah kemenangan dalam pemilu 2005 yang lalu dan dalam banyak kesempatan sesudahnya, Blair telah mengutarakan niatnya untuk mundur sebelum pemilu mendatang tahun 2009. Tetapi belum ada kabar yang jelas tentang kapan sang putera mahkota akan dilantik sehingga publik dan kalangan aktivis partai terus menanti perkembangan dari hari ke hari.

Jarang sekali Gordon Brown memberikan pernyataan-pernyataan diluar lingkup tugasnya di bidang keuangan. Hal itu, menurut kalangan dalam partai dan pemerintah adalah konsekwensi dari kesepakatan mereka berdua tentang wilayah kerja masing-masing. Karena itulah menjadi aneh dan menimbulkan gairah para pengamat politik di Inggris ketika beberapa pekan lalu Gordon Brown banyak tampil di media dan memberikan statement politik diberbagai kesempatan mengenai isu-isu seperti UU Anti Terorisme, reformasi pendidikan, dan sebagainya. Media dan para pengamat politik lalu ramai berspekulasi tentang kesepakatan tentang kepemimpinan ganda, atau sering disebut dual priemership.

Matahari Kembar di Jakarta
Hal yang kurang lebih sama dalam konteks yang berbeda menurut banyak kalangan juga telah terjadi di Indonesia dalam periode pemerintahan SBY-JK saat ini. Banyak pihak yang menengarai bahwa ada matahari kembar dalam kepemimpinan di Indonesia.

Publik sudah sejak lama mengetahui adanya pembagian tugas dan wilayah kerja kedua pemimpin ini, dengan SBY yang akan lebih banyak berkutat pada masalah-masalah politik, keamanan dan kebijakan luar negeri. Sementara sang wakil diserahi tugas di wilayah ekonomi.

Yang membedakan antara SBY-JK dengan Blair-Brown adalah bahwa sejak awal pemerintahan JK sudah menunjukkan dominasinya atas SBY sehingga kelihatan jelas bahwa sang presiden kesulitan untuk menandingi wakilnya sendiri. Baik dalam mendominasi ruang komunikasi publik dan agenda setting maupun dalam pengambilan keputusan soal-soal yang krusial yang mendapat sorotan publik.

Sementara dalam kasus Blair-Gordon, sang Menteri Keuangan sejak awal tidak pernah mencoba bersaing dengan sang Perdana Menteri dalam melakukan komunikasi politik maupun pengambilan keputusan. Kecenderungan JK yang super aktif dalam merespon isu politik, melakukan agenda setting dan pengambilan keputusan ini menimbulkan hubungan yang kurang harmonis yang kasat mata. Persaingan antara kedua pemimpin Indonesia ini dalam banyak hal menjadi kontra produktif dan menimbulkan kebingungan dalam pemerintahan di satu sisi dan menyebabkan mereka rentan menjadi sasaran tembak pihak oposisi di parlemen di sisi yang lain.

Tapi, dalam kasus dual premiership di Inggris, mengapa akhir-akhir ini sang menteri mendominasi wacana publik? Salah satu analisis adalah langkah Brown ini sebagai konsekwensi dari tantangan yang dihadapi oleh New Labour dan pemerintahan Tony Blair.

Yang pertama adalah munculnya pesaing tangguh dari Partai Konservatif, David Cameron yang muda belia dan cukup kharismatis. Cameron, sebagaimana Blair dulu juga sedang mengembangkan gagasan New Conservative yang berarti menarik partai itu lebih ke wilayah tengah spektrum politk dari basis tradisional di spektrum kanan.

Cameron mengklaim bahwa dulu Blair telah mewarisi banyak gagasan Tatcherisme yang konservatif, terutama di bidang ekonomi sehingga layaklah jika kini dia melakukan hal yang sama untuk mewarisi kepemimpinan Tony Blair. Kecenderungan ini dibuktikan dengan platform-platform politik berbau sosialis yang diusung oleh Cameron, seperti soal public spending, isu lingkungan dan reformasi pendidikan. Tantangan kedua yang dihadapi oleh New Labour adalah melemahnya kepemimpinan Tony Blair yang terbukti dari seringnya muncul perlawanan dari para anggota parlemen partainya sendiri (back benches) –salah satunya adalah terhambatnya proses legislasi UU Anti Terrorisme.

Melihat kenyataan di atas maka bisa dikatakan bahwa sikap pro-aktif Gordon Brown muncul sebagai taktik dalam menghadapi kedua isu utama tersebut. Tony Blair seperti memberikan panggung bagi Gordon Brown untuk menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin partai dan Perdana Menteri di masa datang dan juga mendapatkan dukungan internal.

Brown berhasil memanfaatkan momentum ini tidak saja untuk menunjukkan siapa dirinya yang sesungguhnya tetapi juga menggalang dukungan anggota partainya di parlemen. Hal ini terlihat dari kemenangan pemerintah dalam pemungutan suara untuk legislasi UU Terorisme dan larangan merokok total di domain publik. Dalam waktu yang tidak terlalu lama kita juga akan melihat apakah taktik ini juga berhasil memenangkan UU Reformasi Pendidikan yang controversial, yang menjadi taruhan politik Tony Blair.

Dalam kasus Indonesia, masalah matahari kembar adalah refleksi dari perbedaan kualitas dan gaya kepemimpinan. JK sejak lama sudah terkenal sebagai pemimpin yang berani mengambil keputusan yang tegas dan sulit, karena pendekatannya yang sangat pragmatis dan pengalamannya dalam dunia bisnis. Sedangkan SBY sejak awal sudah dituding oleh lawan-lawan politiknya sebagai pemimpin yang peragu dan sulit mengambil keputusan yang tegas dalam kondisi krisis.

SBY sangat mengutamakan harmoni dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Untuk SBY ini adalah situasi yang sulit sebab sang presiden tidak bisa serta merta meminggirkan peran JK sebab kapital politik yang dimiliknya tidak sebanding dengan kekuatan politik JK yang cukup dominan di parlemen. Kekuatan yang sangat dibutuhkannya dalam memastikan kebijakan-kebijakan politik yang diambilnya tidak mengalami kekalahan ketika membutuhkan pengesahan parlemen. Hal ini tentu sangat berbeda dengan situasi para presiden sebelum SBY dimana para pemimpin tersebut memiliki kekuatan politik yang lebih besar dari wakilnya.

2009 di Inggris dan Indonesia
Dalam kasus Blair-Brown kita melihat bahwa taktik dual premiership adalah buah dari strategi politik yang jitu meskipun memiliki resiko tinggi. Brown, jika pun akhirnya mewarisi mahota Tony Blair tentu membutuhkan legitimasi kepemimpinan lewat kemenangan dalam pemilu dan pertarungan kepemimpinan dalam Partai Buruh. Posisinya menjadi rawan jika dia harus terus menjadi bumper untuk memenangkan agenda-agenda pembaharuan yang tidak populis dari Tony Blair. Asosiasi yang terlalu melekat dengan Blair akan membuatnya mengalami kesulitan dalam ‘menjual’ kepemimpinannya dalam pemilu Inggris tahun 2009.

Banyak pihak di Inggris yang berpendapat bahwa Brown harus menarik garis yang tegas antara dia dengan Tony Blair agar dia bisa tampil sebagai pilihan baru yang segar, pada saat publik sudah mulai bosan dengan kepemimpinan Blair yang kaku dan cenderung sentralistik.

Dalam kasus JK, banyak pihak menganalisis bahwa sikap pro aktif sang wakil presiden adalah bagian dari upaya membangun modal politik dalam pertarungan pemilu 2009. Jika ini benar adanya maka pemerintahan saat ini berada dalam situasi yang rumit dan cenderung kontra produktif.

Banyak energi yang akan terkuras dalam membangun basis-basis dukungan dan sumber daya politik yang bisa berdampak dalam pelaksanaan pengelolaan pemerintahan secara efektif. Hal ini sudah terbukti dalam kasus reshuffle menteri baru-baru ini, karena pertarungan dan klik dalam pemerintahan menyebabkan momentum perbaikan ekonomi terus menerus terlewati.

Mohammad Qodari dalam salah satu tulisannya baru-baru ini mengatakan bahwa JK sudah mulai menahan diri dalam melakukan manuver-manuver politik. Satu hal yang patut dipandang positif sebab hal ini memberikan sinyal kepada publik bahwa Presiden benar-benar in-charge dalam kepemimpinan, dan disisi lain menunjukkan kedewasaan JK dalam berpolitik.

Saat ini memang sebaiknya JK berkonsentrasi pada upaya mendorong efektifitas pemerintahan dan mengelola modal politik yang dimilikinya sebagai upaya untuk membuat pemerintahan saat ini bekerja secara maksimal untuk kepentingan rakyat. Dengan melakukan ini, kita bisa menilai kualitas kedua pemimpin sebagai team work yang padu dan menjadi landasan bagi penilaian kepemimpinan mereka tahun 2009 yang akan datang. Bukan sebaliknya, sebagai rival dalam satu pertarungan politik yang akhirnya akan mengorbankan kepentingan yang lebih besar, yaitu membawa bangsa ini keluar dari krisis yang tak kunjung selesai.

Kepemimpinan ganda atau matahari kembar dalam organisasi atau pemerintahan manapun tidak akan memberikan keuntungan bagi para pemimpin itu, bagi pemerintahan dan apalagi bagi rakyat. Menarik melihat apa yang akan terjadi di Inggris dan di Indonesia tahun 2009 yang akan datang.
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 116

memoar Mempersiapkan Waktu, Mengemudikan Laut
Taufik Wijaya

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000