<%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%> ceritanet

ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis  edisi 111, minggu 16 oktober 2005,  po box 49 jkppj 10210

memoar Yani
Lenah Susianty
Dia tiba suatu malam di musim panas. Pukul 20.00. Aku sedang membereskan rak buku. Suamiku muncul, “Ada tamu untukmu.”“Tamu? Siapa?” Aku tidak menunggu siapa pun, tidak ada juga yang berjanji akan datang. Aku tidak suka kejutan semacam ini. Takut kalau tamu yang datang tanpa diduga membawa kabar buruk.“Perempuan bawa koper,” wajah suamiku kelihatan curiga, ada tamu datang bawa koper dan aku tidak tahu?“Bawa koper? Siapa? Siapa namanya”
baca

sajak Hampir Saja Kau Bunuh Kupu-kupu
Bungarumputliar
Kupu-kupu sayap lembut itu melayang diam-diam diantara dedaunan tua kuning layu. Tak ada lagi yang baru, keluhnya. Tak ada lagi yang cukup membuatnya tinggal lebih lama. Ia mengeluh. Bosan, katanya. Kupu-kupu sayap lembut itu terbang kian mengawang, tak lagi hanya diantara dedaunan, tapi diantara roti dan kue di atas meja. Anak-anak sedang menikmati makan siangnya. Hap! Melesat jari-jari... Kupu-kupu sayap lembut yang tak mengerti.
baca

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)
Dengan dinding berderak-derak, deresi-derasi menanjak ke bukit curam. Di bawah tanggul ada semak-semak, yang puncaknya tak sampai ke permukaan jalan kereta api. Lebih rendah lagi ada padang-padang. Banjir baru saja reda, meninggalkan pasir dan pecahan-pecahan papan tersebar tak keruan. Balok-balok tentunya hanyut dari tempat lebih tinggi di bukit, tempatnya tertimbun. Belukar muda di bawah tanggul masih gundul, hampir sama dengan sewaktu musim dingin.
baca

 

 

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

ceritanet
©listonpsiregar2000