<%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%> ceritanet

ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis   
  edisi 110, senin 3 oktober 2005,  po box 49 jkppj 10210

sajak Hujan Yang Tak Sempat Kita Keringkan
Amir Ramdhani

hujan yang tak sempat kita keringkan
tak jadi menggumpal menjadi racun
dalam rotasi ban waktu yang menggelinding
dengan payah melintasi lorong jantung
karena kita adalah hujan di musim genting
2005

Tengkorak Kematian

orang-orang
menyembahyangi gedung-gedung
di sosok kota yang jorok
di sela-sela isyarat maut
adalah ketenangan yang kian sekarat
dipecut serbuk sobekan nilai-nilai
di ranting genting yang memicu pilu
mengerudungi dosa suram berbatu-batu
ditikam angin yang beku
daun-daun memerah, disepuh musim
hari-hari adalah marjinal
penuh segala rasa sial
mencabik-cabik kaum kumal
di kegelapan halimun
melebihi tengkorak kematian
yang tanpa kain kafan
harapan tinggal setipis kapas
dalam dengus gerimis mistis
kilat-kilat halilintar menyeringai
di rusuk udara yang bungkuk dan hitam
ababil-ababil maut melontarkan geram
ke tanah paling curam
tempat terasing bernama makam
mungkin kelak kita saksikan
mayat-mayat compang camping
cemberut di gerbang neraka
dipecut dosa suram masa lalu
lebih brutal dari sanca
2005

 

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000