sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 10, Senin 23 April 2001

ceritanet situs nir-laba untuk berbagi karya tulis

novel Dokter Zhivago 10
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

''Ibu adalah, apa namanya...... Dia dan ibu..... Ah kata-kata kotor! Aku tak mau menyebutnya. Tapi mengapa dilihatnya aku dengan cara begitu? Aku ini anak ibu, bukan?''

Lara baru melampaui enam belas tahun, namun tubuhnya sama sekali sudah dewasa. Orang menyangka umurnya delapan belas tahun atau lebih. Pikirannya jernih, ia sangat rupawan dan mudah bergaul.

Dia dan Rodya sadar bawah penghidupan tak akan gampang bagi mereka. Lain dari orang yang nganggur atau kaya, mereka tak berwaktu senggang untuk buru-buru membuat teori atau menaruh perhatian terhadap hal-hal yang belum perlu dilaksanakan. Yang keruh hanyalah yang serba mewah. Lara paling bersih antara mahluk sedunia.

Kedua-duanya sudah berterima-kasih atas keuntungan kecil. Mereka tahu menghargai segala hal serta apa saja yang mereka peroleh sampai sekarang. Siapa mau maju, dia mesti memberi kesan baik. Lara belajar rajin di sekolah bukan karena ia cinta pada kepandaian secara mujarad, melainkan karena hanya murid terbaiklah yang membayar uang sekolah dengan potongan. Dengan alasan yang sama ia mencuci piring-piring ibunya dan berbelanja untuknya. Ia bergerak dengan kemolekan yang tenang dan segala sesuatu yang ada padanya --suara, bentuk badan, gerak-gerik, mata kelabu serta rambutnya yang mengkilap-- adalah sesuai dan selaras.

Hari itu Hari Minggu di pertengahan Bulan Juli dan siapa berlibur boleh tinggal agak lama di ranjang. Ia terlentang dengan tangan melingkupi kepala.

Bengkel agak sepi. Jendela terbuka mengantar pemandangan ke jalan. Lara mendengar derak-derak sebuah droshki dari jauh menjadi bunyi meluncur yang lemas, ketika roda-rodanya meninggalkan batu-batu lebuh dan menginjak alur-alur jalan trem. "Aku tidur sejenak," pikirnya. Desah kota membuatnya ngantuk seperti lagu dondang.

Lara sadar bahwa ia menyentuh seprei dengan pundak kiri dan dengan ibu jari kaki kanannya --ini menentukan ruangan yang diambilnya dalam ranjang. Segala yang ada antara pundak dan kaki itu adalah dirinya sendiri yang kini belum jelas --jiwa atau sukmanya yang ketat diselubungi garis lingkung tubuhnya dan hendak menerobos tanpa sabar ke hari depan.

"Aku mesti tidur," pikir Lara, maka dalam khalayan ia tampilkan Jalan Tukang Kereta di bagian panasnya seperti yang biasa nampak pada saat itu --kereta-kereta besar dipamerkan di lantai yang tersapu bersih dalam bangsal-bangsal para tukang kereta, banyak lentera dan beruang pajangan serta penghidupan yang mewah. Dan agak jauh lagi di jalan itu para prajurit berkuda berbaris di pelataran tangsi-tangsi Znamensky --kuda-kuda dipasang rapi dalam lingkaran dan orangpun melompat ke pelana dan lewat pelan-pelan, lalu kencang, kemudian agak cepat --dan anak-anak berderet-deret di luar bersama pengasuh dan inang, sedang menonton di dekat kisi-kisi.

Dan lebih sulit lagi, pikir Lara, itulah Jalan Petrovka. "Ya Allah, Lara, coba pikir! Aku hanya ingin menunjukkan rumah petakku kepadamu. Sudah dekat."

Hanya itu 'hari nama' Olga, anak perempuan kecil dari teman-teman Komarovsky yang tinggal di Jalan Tukang Kereta dan orang-orang dewasa merayakannya dengan dansa dan sampanye. Dia mengundang ibu, tapi ibu tak dapat keluar, ia tak begitu sehat. Kata ibu: "Ambil saja Lara. Kau selalu berpesan supaya kujaga Lara. Nah sekarang kaulah yang menjaganya." Dan dia betul-betul menjaga --alangkah lucu.

Dansa walsa itulah asal-mulanya. Gila benar! Berputar-putaran tanpa memikirkan apa-apa. Musikpun main dan lampaulah satu abad seperti kehidupan dalam roman. Tapi begitu musik berhenti, begitu hatimu tergugat, seolah air dingin seember ditumpahkan atas dirimu atau ada orang yang memergokimu telanjang. "Alasanku untuk membiarkan orang intim denganku tentulah hanya pameran --guna menunjukkan bahwa aku sudah dewasa.''

Tak pernah aku dapat membayangkan bahwa ia berdansa sepandai itu. Alangkah cekatan tangannya, alangkah amannya bila ia memeluk pinggangku! Tapi aku tak bakal membolehkan lagi orang mencium aku semacam itu. Tak pernah kumimpikan bibir orang bisa sekurang ajar itu, jika lama-lama ditekankan pada bibirku.

Kegilaan ini mesti dicegah. Sekali dan untuk selamanya. Cegahlah malu-malu kucing dan ketawa sipu-sipu dan kerlingan mata --kalau tak mau berakhir dengan malapetaka. Di sinilah tapal batas yang mengerikan. Satu langkah dan aku akan terpelanting ke jurang. Aku tak boleh inging dansa lagi. Itu akar kejahatan. Aku harus menolak tegas-tegas --pura-pura tak pernah belajar berdansa atau beralasan kaki patah.
***

 

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim karya tulis
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar