sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 10, Senin 23 April 2001

   ceritanet
                         situs nir-laba untuk karya tulis

puisi Sepakbola Betapa Indahnya
T Widjaja

Para lelaki kekasih istri dan ibuku bermain sepakbola. Ritual malam dan suhu penciptaan Tuhan baru. Rumput tumbuh di pahaku dan seseorang menebasnya. Bola mengelinding dan jala robek. Penonton marah. Tapi bukan kepada pemilik klub yang lidahnya menjulur ke buah dada televisi.

Aku sudah tahu dan tak mungkin kalah. Lemparan botol air mineral, nyanyian serupa Indonesia Raya, kucing-kucing yang kaget, handuk-handuk berwarna-warni, semacam lukisan Memeth yang diterjemahkan para buruh. Tak ada kenaikan gaji, istriku.

Di luar jangkauan televisi, Darto mengoreng batu. Tambun dan meliuk-liuk di antara sejarah diam. Bunyi yang sunyi mendesak catatan ilmu social kemarahan ibuku. Kini semuanya tinggal kebencian. "Jangan kau tawarkan saya permainan politik. Batu-batu ini memiliki batu. Bunuhlah saya!"

Ya, sepakbola memberikan semacam ketenangan. Lebih luas dari sudut-sudut dongeng surga. Buruh dan arah angin membebaskan akhir pekan. Batu harus terus digoreng. Pendekatan yang menebarkan wangi dari parfum adalah lawan. Tak ada masa yang indah kecuali menyaksikan si pemilik klub dicaci televisi. Lihatlah! Saya menembak wajahnya dengan ludah. Giginya yang tajam tetap dijaga Tuhan.

Lubang-lubang di lapangan hijau adalah tapak kaki Darto. Dia terus mengoreng batu. Tambun tanpa ayah dan ibu. Seketika saja menjadi buruh. Cukup bertahan dengan sebutir telor, mie instant, dan secangkir kopi. Sepakbola betapa indahnya.

Menjelang fajar ketakutan muncul. Tak mungkin ada kenaikan gaji, istriku.

Biarkan Darto pergi sekolah dengan mimpinya. Bakar amplop-amplop imajinasimu. Aku tolak World Bank seperti gergaji dan palu berkarat. Ya, pada saatnya hutan, sungai, dan gunung akan lahir kembali dari lapangan hijau. Bola melahirkan 1,2 giga bola. Meledak di televisi. Pemilik klub menunggu hari kemarin. Batu Darto matang. Dihidangkan pada pertemuan subuh ini. Tak ada ketakutan. Tak ada. Aku buruh yang menunggu sepakbola menjadi tak indah.

***
situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar