sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 10, Senin 23 April 2001

   ceritanet
           situs nir-laba untuk karya tulis

esei Perubahan Konstitusi dan Demokrasi
Bambang Wijayanto
Setengah abad lalu, ketika banyak bangsa melepaskan diri dari penjajahan, konstitusi dimaknai sebagai hukum dasar yang memberikan dasar identitas dan legitimasi baru bagi sang penguasa baru. Satu-dua dekade belakangan ini, konstitusi --bagi negara yang baru menumbangkan rezim diktator dari bangsanya sendiri-- dimaknai sebagai era baru menuju sistem kekuasaan yang demokratis. Tapi nampaknya, jalan yang tengah diretas Indonesia melalui perubahan konstitusi justru mengarah pada pembentukan supremasi legislatif yang jelas berbeda dengan pembentukan sistem kekuasaan demokratis. Dalam konteks Indonesia, dari berita-berita di berbagai media ; perbincangan konstitusi hanya menjadi ecek-ecek berita. Memang bagi sebagian kalangan political scientist, konstitusi 'agak diabaikan' keberadaannya. Dasar logikanya sangat menuruti akal sehat, yaitu konstitusi hanya memuat kumpulan teks, sementara permainan politik acapkali tidak didasarkan atas aturan di dalam konstitusi. Konstitusi kerapkali tak diperlukan dalam perebutan kekuasaan. Contoh paling konkrit bisa dilihat dalam kasus di Filipina dan Indonesia. Diktator Marcos dan Suharto ditumbangkan bukan karena aturan yang tersebut didalam konstitusi.
Selengkapnya

 

laporan Ketika Rasa Cemas Musnah
John Aksiman
Fajar baru saja menyingsing. Gadis itu merapikan ranselnya. Tak lupa, dia masukkan odol dan sikat gigi. Lalu sebotol air mineral dan handuk kecil. Ia tampak bersiap betul menghadapi hari yang mungkin akan sulit diduga. Maklum, ia hendak mengikuti demonstrasi. Dalam usia 20 tahun, gadis ini telah belajar banyak tentang kekerasan aparat Mahathir Mohamad. Berkali-kali ia kena seret dan ditahan karena berdemonstrasi menentang Mahathir. Maka, kalau kali inipun harus berakhir di penjara, ia ingin lebih siap. Hal-hal kecil yang mungkin diperlukan sudah tersedia dalam ransel biru kesayangannya. Beberapa jam sebelum itu, dia sempatkan menelepon sang adik ; " Dik, aku esok berangkat berdemo." Ia berbicara dalam nada tenang, tapi tak cukup menyembunyikan rasa bangga juga. Ia seperti sedang menularkan semangat kepada sang adik, "aku mengambil risiko ini, berjuang untuk Malaysia yang lebih baik."
Selengkapnya

 

puisi Sepakbola Betapa Indahnya
T Widjaja
Para lelaki kekasih istri dan ibuku bermain sepakbola. Ritual malam dan suhu penciptaan Tuhan baru. Rumput tumbuh di pahaku dan seseorang menebasnya. Bola mengelinding dan jala robek. Penonton marah. Tapi bukan kepada pemilik klub yang lidahnya menjulur ke buah dada televisi.
Aku sudah tahu dan tak mungkin kalah. Lemparan botol air mineral, nyanyian serupa Indonesia Raya, kucing-kucing yang kaget, handuk-handuk berwarna-warni, semacam lukisan Memeth yang diterjemahkan para buruh. Tak ada kenaikan gaji, istriku. Di luar jangkauan televisi, Darto mengoreng batu. Tambun dan meliuk-liuk di antara sejarah diam. Bunyi yang sunyi mendesak catatan ilmu social kemarahan ibuku. Kini semuanya tinggal kebencian. "Jangan kau tawarkan saya permainan politik. Batu-batu ini memiliki batu. Buruhlah saya!"
Selengkapnya

 

novel Dokter Zhivago 10
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru
''Ibu adalah, apa namanya...... Dia dan ibu..... Ah kata-kata kotor! Aku tak mau menyebutnya. Tapi mengapa dilihatnya aku dengan cara begitu? Aku ini anak ibu, bukan?'' Lara baru melampaui enam belas tahun, namun tubuhnya sama sekali sudah dewasa. Orang menyangka umurnya delapan belas tahun atau lebih. Pikirannya jernih, ia sangat rupawan dan mudah bergaul. Dia dan Rodya sadar bawah penghidupan tak akan gampang bagi mereka. Lain dari orang yang nganggur atau kaya, mereka tak berwaktu senggang untuk buru-buru membuat teori atau menaruh perhatian terhadap hal-hal yang belum perlu dilaksanakan. Yang keruh hanyalah yang serba mewah. Lara paling bersih antara mahluk sedunia. Kedua-duanya sudah berterima-kasih atas keuntungan kecil. Mereka tahu menghargai segala hal serta apa saja yang mereka peroleh sampai sekarang. Siapa mau maju, dia mesti memberi kesan baik. Lara belajar rajin di sekolah bukan karena ia cinta pada kepandaian secara mujarad, melainkan karena hanya murid terbaiklah yang membayar uang sekolah dengan potongan.
Selengkapnya

 

situs nir-laba untuk karya tulis ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar