<%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%> ceritanet

ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis    edisi 109 senin 19 september 2005,  po box 49 jkppj 10210

sajak Detik Purnama
Gendhotwukir

Benarkah Kau mengerti kembalinya bulan jingga ?
Di bawah pengertian malam yang suram tiada cakap ria
Aku berdiri di atas awan yang goyah
Di tengah galaksi yang menawan aku gundah
Tentu saja, aku menjadi ngeri dengan hampa
Seorang diri menantang dewa kematian di tengah telaga

Lalu aku terbang ke arah timur
Menjemput purnama yang tertatih menerjang mega
Purnama, mengapa kau pucat pasi setelah bermil-mil pulas tertidur ?
Kita telah mengerti perjalanan ini bukan kehendak kita
Kebodohan adalah perjalanan kita
Mengarungi tobat yang sia-sia

Bukan karena cinta kau bersamaku dalam maut
Kau kebetulan hadir menjemput
Pada saat aku meremang di sudut batin
Getaran yang Kau abdikan kepadaku itu adalah cinta ibuku
Sayang, aku telah kabur dengan cinta kawan
Siapa Dia, aku tidak tahu
Mungkin, Dia juga hanya kebetulan bersamaku
Dan Kau tak peduli ketikaku melupakannya semusim lalu

Ya, kau bilang kini aku telah murtad
Kau begitu yakin aku telah gila
Padahal aku bisa saja menuduhmu lebih gila
Sementara aku menarik benang yang ruwet, kau hanya tersenyum kesumba
Jangan-jangan kita selama ini terlalu gigih mempertahankan makna hidup bersama
Sehingga ketika aku suka menyendiri memainkan melodi kehidupanku di bawah palma, kau tersenyum sinis, mengataiku Gila, murtad

Ya, Kau bisa bilang aku gila, tapi aku tak peduli
Mungkin aku menikmati kegilaanmu
Yang senyatanya adalah buah pengetahuan yang sedang aku rengkuh
Aku tak mau sudi mendengarkan kata-katamu yang tak berujung,
Mengeja tetek-bengek ajaran guru tanpa peduli dengan Mbah Sukri

Ya, Mbah Sukri yang itu, lho
Tergesa menyeret anaknya yang masih perawan pergi ke pasar brambang
Tak peduli dengan kebijaksanaan yang Kau cecar
Menjaring hidup yang kadang nanar
Karena perjalanannya adalah perjalanku yang tak peduli dengan akhir.
291102

Dagelan Altar

Dalam sajak aku meremang
Tolol rasanya mengoceh tetek bengek tentang hidup kita,
Sementara sejarah peradapan pesat meninggalkan surga
Evolusi menguak misteri kehidupan
Umur insan berkejaran di tengah noda kehidupan
Sang Pencipta tergolek lunglai
Budi menindas ritus-ritus riang berdawai

Lantas, Aku lupa siapa Kau sebenarnya ?
Diburu Kau bagai angin
Didekap kau angan belaka
Di Altar kau bagai raja
Di dunia kau adalah dagelan, mementaskan lawak anak-anak kampung

Tapi, siapa Kamu ?
Aku sudah lupa
Yang kuingat hanyalah gigitan nyamuk belaka
Maka, permaklumkanlah aku untuk berdiam membangun rincian kodratmu
Maka, lepaska aku dalam alpa
Maka, aku akan mencari kemanusiaan kita

Lihatlah, lukisan wajahmu terpahat di altar
Diinjak-injak para domba yang garang
Tapi, aku tak mau tahu, kau memar
Karena bagiku memarmu adalah girang
Untuk bertahan tak perlu mengerang
Katakan saja dimana Sang Hyangmu
Tarian populer enggan mengikat wajahmu
Selendang terpuruk, jaminan kemolekan lengan lekang

Lemah, lengah memegang kata
Tawa renyah menggelegar di terjal riak para domba
Sia-sia,
Terdampar di hutan raya
Menerjang rumput-rumput liar sebagai amarah wana
Mengunyah kebencian lalu tertawalah para domba
Tanggap akan lara

Memang, dukamu adalah sukaku
Dan, sukamu adalah dukaku

Kejarlah aku dan burulah
Maka akan Kau dapati lukamu
Membengkak, mengundang tawa lalat-lalat dan dering tawa anak-anakmu

Lalu, apa harapanmu menjelang akhir pentas dagelanmu ?
301102
***

 

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 109

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


ceritanet
©listonpsiregar2000