<%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%> ceritanet

 ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis   edisi 108 kamis 8 september 2005,  po box 49 jkppj 10210

laporan Mau Cium atau Parkir?
Ningrum N. Sirait

Memang paling enak kalau sedang jalan-jalan ke negeri orang dan ada pula kesempatan untuk jadi pengamat. Bukan menjadi pengamat politik seperti yang sering tampil di TV, tetapi menjadi pengamat bagaimana sebenarnya kehidupan di negeri orang itu berbeda dengan di negeri sendiri. Kali ini aku mendapat kesempatan kesekian kalinya mengunjungi Amerika Serikat di musim panas. Lain padang lain belalalang, dan lain musim lain pula pemandangan dan pengalamannya.

Suatu saat ketika aku menuju Washington DC naik Metro yang merupakan transport umum, dan konon kabarnya Bang Yos sedang merencanakan transpor yang sama untuk Jakarta. Ketika masuk ke stasiun Metro, aku melihat ada 2 tanda di pintu; Kiss and Ride dan Park and Ride. Akupun bertanya apa makna tanda itu ke kawan yang mengantar.

Ternyata memang betul; lain tempat maka lain pula aturan. Kalau di jalur Kiss and Ride artinya orang tidak boleh memarkir kendaraan. Perintahnya sederhana saja: cium penumpangnya, katakan selamat tinggal, turunkan dia, dan mobil langsung pergi. Tidak lebih dari 2 menit.

Yang membuatku kagum adalah kepatuhan atas aturan sederhana itu sehingga tidak ada klakson yang menegaskan ketidak-sabaran dari mobil dibelakang. Bahkan kadang-kadang terlihat pemandangan yang cukup manis; antrian ciuman para suami atau istri, kekasih atau anggota keluarga yang mengantarkan penumpang jenis Kiss and Ride.

Kalau urusan dan aturan untuk Park and Ride lain lagi. Kita diijinkan parkir karena memang banyak orang yang mengendarai mobil, parkir, dan naik transportasi umum seperti Metro untuk bekerja. Jenis ini khusus untuk para commuters yang bekerja di pusat kota tetapi naik transport umum menuju tempat kerja, dan sorenya ketika pulang baru mengambil kembali kendaraan di tempat parkir.

Biaya parkir tidaklah murah sehingga untuk menghemat maka banyak orang yang memilih langganan parkir bulanan. Pelanggan bulanan akan mendapatkan tanda pass masuk Park and Ride dan mendapat potongan dibanding membayar harian. Makanya setiap kali lewat stasiun, sering terlihat tempat parkir penuh dengan mobil tanpa ada yang menunggui sampai jam pulang kantor sore.

Cukup rumit juga kalau kita tidak mempunyai kendaraan sendiri dari stasiun Metro kerumah karena biaya taxi tidaklah murah dan sering taxi harus di telepon lebih dahulu sebelum datang menjemput. Aku senyum sendiri membayangkan taxi di Jakarta yang berseliweran setiap waktu. Atau ada juga bus umum dari stasiun Metro yang melewati daerah perumahan.

Kuperhatikan tidak banyak orang yang menggunakan bus menuju rumah mereka karena jadwalnya yang jarang dan harus menyambung dengan jalan kaki untuk sampai ke rumah. Jadi kupikir, pada akhirnya mereka tentu sangat tergantung pada mobil pribadi. Dan aku berangan-angan buka bisnis ojek tentu akan panen besar.

Lain lagi cerita tentang masalah 3 in 1 yang ternyata bukan menjadi problem Jakarta saja. Aku baru tahu bahkan di Amerika Serikat, yang penduduknya mestinya lebih teratur, punya akal-akalan untuk bisa masuk jalur cepat 3 in 1 --yang disebut High Occupancy Vehicle (HOV)-- pada jam sibuk di pagi dan sore hari. Bedanya kalau di Jakarta pada jalan menjelang diberlakukannya 3 in 1 --baik pagi maupun sore hari-- telah berjejer para joki komersial yang harus dibayar setiap kali 'menyelamatkan' pemilik mobil yang masih kurang dari 3 orang.

Di negeri Paman Bush ini terdapat satu jalur untuk sukarelawan yang terletak di kawasan sebelum masuk ke 3 in 1 yang disebut dengan slug line. Kawasan ini menjadi tempat menjemput para sukarelawan yang mau menumpang gratis memasuki HOV. Mereka bukanlah para joki komersial tetapi para penumpang yang berpikiran 'sama-sama membutuhkan dan sama-sama diuntungkan.'

Tempat penjemputan ini cukup rapi dan sifatnya untung-untungan. Para polisi mengetahui keberadaan slug line ini dan mungkin berpikir bahwa mereka bukan melanggar peraturan karena tentu saja penumpang gratis ini adalah kemauan dan pilihan sukarela dari para pihak yang bersangkutan.

Ketika aku bertanya kepada kawanku apa pendapatnya mengenai slug line dan kenapa dia tidak memanfaatkannya, jawabannya tidak membuatku surprise karena tentu saja di Amerika Serikat maka, tindakan naik ke mobil orang lain secara sukarela dapat berubah menjadi malapetaka. Tidak ada yang bisa mengetahui secara pasti dengan siapa kita naik dan sampai dimana kita bisa menumpang.

Aku mencoba melempar argumentasi bahwa sukarelawan itu paling tidak para pekerja yang membutuhkan tumpangan gratis dan pemilik mobil yang menerima penumpang adalah juga orang yang bekerja yang perlu melewati jalur HOV dengan kendaraan pribadi. Kawan itu malah menakut-nakuti dengan cerita kriminal mengenai penculikan, perampokan atau cerita serial killer yang bermula dari sebuah tumpangan gratis.

"Tapi tentu juga bisa menjadi awal perkenalan yang romantis bukan?" tantangku.

Kawanku, si orang Amerika tulen, berpendapat dibandingkan dengan resikonya, rasanya perasaan was-was lebih besar daripada romantisme. Bagaimanapun paling tidak jika secara rutin melewati slug line tentu saja ada kemungkinan mendapat penumpang atau pelanggan yang bisa saling mempercayai, membutuhkan, dan akhirnya setuju untuk cost sharing atau membagi biaya bensin, misalnya.

Kurasa, memang betul juga pada akhirnya segala sesuatunya bisa menjadi perhitungan ekonomi, tapi tetap saja kalau beruntung kita bisa mendapat kawan baru dari urusan slug line. Iinilah yang tidak bisa dibandingkan dengan 3 in 1 di Jakarta, karena para joki melakukannya demi kebutuhan ekonomi, sedang pemilik mobil demi kebutuhan melewati kawasan tersebut. Persamaannya? Akal manusia memang mampu mengakali peraturan.

Atau peratuan memang dibuat untuk dilanggar?
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 108

sajak Eiffel
Laura Paais

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000