ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis     edisi 107 rabu 17 agustus 2005,  po box 49 jkppj 10210

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Waktu malam baru tiba, bangunlah Yury, dipenuhi rasa bahagia tak menentu yang kuat sampai ia bangkit. Kereta api berhenti. Stasiun bermandi magrib, mengaca, menjelang malam terang. Sesuatu yang halus dan jaya dalam gelap yang berbinar ini menyarankan tamasya luas terbuka, seolah stasiun itu berdiri tinggi atas tanah berbukit.

Orang jalan-jalan di peron lewat deresi, bicara lembut dan melangkah diam-diam bagai bayang-bayang. Yury terharu oleh kenyataan bahwa seperti sebelum perang, orang tak mau menganggu para penumpang yang sedang tidur.

Tapi sebenarnya ia salah terka. Tak ubahnya dengan di peron-peron lainnya, di sinipun orang ramai berteriak dan mengentakkan sepatu. Tapi dekat dari situ ada jeram. Kesegaran dan kebebasannya memperluas jangka malam ; inilah yang memenuhi Yury dengan kebahagiaan dalam tidurnya. Gemuruh air terjun tak henti itu mengtasi tiap bunyi lain dan menyebabkan semuanya sunyi belaka.

Yury tak tah menahu tentang air terjun itu, namun ia dibuatnya tenang dan segar, maka tidur lelaplah ia.

Dua lelaki omong-omong di bawah bangkunya.

"Nah mereka masih menantang juga?" Apakah sekarang sudah tenang?"
"Maksudmu, tukang-tukang kedai itu?"
"Ya, pedagang gandum."
"Sudah jinak! Kalau sudah ada satu dua yang kena pukul sebagai contoh, semuanya menurut saja. Daerah ini kena denda."
"Berapa?"
"Empat pulu ribu pud."
"Mana bisa!"
"Untuk apa aku bohong?"
"Empat puluh ribu semangka busuk!"
"Empat puluh ribu pud gandum."
"Bukan main!"
"Empat puluh ribu gandum yang terbaik."
"Tak apalah. Tanah ini subur. Dan perdagangan gandum sedang ramai-ramainya. Dari sini sepanjang Kali Rynva sampai Yuryatin kau jumpai dusun demi dusun, bandar demi bandar, saudagar besar demi saudagar besar."
"Jangan teriak. Kau bangunkan orang-orang ini."
"Baiklah," ia menguap.
"Tidur saja, ya? Rupanya kita jalan sudah."
Namun kereta api tetap pada tempatnya. Tapi datanglah kereta api lain dengan kencangnya dari belakang, deram-derumnya meledak membisingkan kuping, menghapus bunyi air terjun ketika dekat, expres kolot itu mengguntur lewat rel yang paralel; ia menyuling, mengedipkan sinar pada ekornya dan lenyap di kejauhan di depannya.
"Celaka. Sekarang cuma Tuhan yang tahu kapan kita akan berangkat."
"Memang. Tak mungkin segera."
"Itu kereta api baja istimewa. Tentunya Strelnikov."
"Pasti dia."
"Dia seperti binatang buas, kalau menghdapi kaun kontra revolsuioner."
"Dia kejar si Galileyev."
"Siapa itu?"
"Pemimpin Kosak Galileyev. Konon ia di luar Yuryatin dengan dilindungi tentara Ceko. Ia merebut pelabuhan-pelabuhan, si busuk itu lengket saja. Galileyev, pemimpin Kosak."
"Tak pernah dengar tentang dia!"
"Atau barangkali Pangeran Galilieyev. Namanya tak kuingat betul."
"Tak ada pangeran semacam itu. Tentunya Ali Kurban. Kau campur aduk saja."
"Mungkin Kurban."
"Itu bisa lebih diterima."
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku

Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 107

memoar Guru Kebangsaan Harry Roesli
Liston P. Siregar

sajak Salju
D. Hasanudin

ceritanet
©listonpsiregar2000