ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis     edisi 106 rabu 3 agustus 2005,  po box 49 jkppj 10210

sajak Bagaimana Harus Kulukis Sungai
Amir Ramdhani

bagaimana harus kulukis sungai
sedang hilang sungai ke inti laut
lalu direguk oleh lidah mentari
dan dimuntahkannya kembali
melalui awan awan karat
ke tanah tanah tajam menyengat

arus berlari deras tak terbayang
seperti mengejar hari esok yang terkurung kabut
seperti pasir yang khawatir diterjang gelombang pasang

di bawah cerlang bintang yang menopang angkasa,
selalu berserak dibenakku semata
sungai yang tercemar rusuh buih limbah
beroposisi dengan bersih
di gigir gigir kota yang tak ramah

di bawah terik bulan perak,
kutampung sungai ke dalam sajak
tempat jiwa bergolak
tapi sungai membawa cecer sampah hedonisme
dan, jiwaku menolak
berkisar antara asa
dan arus sungai yang tersiksa

ya, bagaimana harus kulukis sungai,
ia menyusuri ilalang memupus pandang
kelak jika terusik kumbang atau capung
biarlah tetap kau kenang
2005

Pemabuk Di Bangku Bar

ada denyar terdengar samar
di sela-sela musik yang hingarbingar
dan kau tersadar bagai hampir tersambar petir
yang mana cangkir-cangkir bir
tak mungkin mangkir
; seseorang memanggilmu layang-layang oleng
seseorang memanggilmu layang-layang oleng
2005

Stasiun Kota

keringatkeringat berkembangbiak
di sekitar berisik kereta,
pagar bangunan tua,
rongsokan baja.
mobilmobil terus saja berlari di lintasan kaki
tak percaya pada perhitungan nanti.
selalu berdesak
selalu, kota oleng oleh ombak

masih ada yang tak pernah punah: jalanan
kerap terperangkap pengap asap menguap
beberapa kali menusuk jantung, merobek oksigen
bisakah kita bertahan
2004
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku

Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 106

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

cerpen Ceritera Dibalik Nama
Ismeyd Babel

ceritanet
©listonpsiregar2000