ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis     edisi 105 minggu117 juli 2005,  po box 49 jkppj 10210

cerpen Rumah Penjara Penyair
Jajang R. Kawentar

Aku punya kawan seorang penyair, itu kataku. Tetapi lain kata tetangganya, ia pengangguran sinting, tanpa beban. Banyaklah tertawanya ketimbang menampakkan muka masam atau muka jeruk purutnya. Kalau kata kawanku yang lain, ia figur anti kemapanan sejati untuk saat ini. Hidup tidak untuk masa depan, hidup adalah saat ini dan nikmatilah saat ini sebelum kesempatan itu mampus bersama harapan dan kenyataan.

Aku meyakinkannya ia sebagai penyair total. Maksudku total dalam membuat teks atau syair serta total teks itu menjadi kehidupannya. Apabila melihat tingkah polah lakunya itulah syair show lifenya. Kalau terpana atau menggelengkan kepala tiga kali, berarti syair itu melaksanakan tugasnya laksana sihir atau hipnotis. Itulah salah satu kelebihan syairnya.

Sekian banyak syair yang di lahirkannya tidak ada yang dapat dijadikannya rumah. Namun telah menjadi rumah bagi jiwanya. Ia tidak perduli dengan keadaan dirinya yang menurut orang lain merusak mata dan memekakan pendengaran. Ia jalani lalu lintas kehidupan dengan sabar, realistis dan kadang subversif.

Rumah kawanku itu di belakang rumah penjara negara. Maaf, rumah penjara itu terlalu sarkasme, terlalu subversif, terlalu menggoco ulu hati, terlalu melecehkan, kurang manusiawi, menyamai kekuasaan Tuhan: untuk itu diganti dengan Lembaga Pemasyarakatan biar terasa akrab, bersahabat, ramah dan manusiawi alias bermoral atau beradab; seperti istilah bencana kelaparan menjadi rawan pangan, rasanya terdengar menyejukkan kolbu, serasa tiada ada sesuatu peristiwa yang tragis walau yang kelaparan itu ribuan dan atau yang mati ratusan.

Kawanku itu namanya Samiun. Biasa dipanggil Miun. Ia kawan satu dusunku. Dusun yang jauh di bawah kaki gunung Dempo. Hawanya dingin, sejuk, mata airnya jernih bening tanpa ada campuran limbah pabrik pupuk, kertas, atau karet. Di kaki gunung tidak ada pabrik yang merusak ekosistem atau mencemari alam di mana mereka bernaung. Mereka mengakrabi alam dengan kearifan dan kesederhanaan. Aman.

Angin semilir dihembuskan bersama wangi bunga kawo (kopi), padi dan tanah yang perawan, juga bau keringat para petani yang memetik buah, menanam bibit dan sedang menyabit rumput. Di sanalah kami dilahirkan di dalam kesegaran alam dan lingkungan yang mengagungkan rasa kekeluargaan dan kekerabatan yang sangat tinggi, siapapun saudara asal satu dusun. Begitulah di perantauan, lain pula kalau sudah tiba di dusun, kembali ke tabiat semula sebagai mahluk yang juga mentasbihkan ego individualnya.

Miun syaraf, maksudnya urat syaraf otaknya terganggu sehingga mengganggu cara pandang berpikir dan entahlah, mungkin gila. Orang-orang dusun mengenal Miun dari kebiasaan yang dianggapnya buruk, tidak wajar. Miun seringkali berteriak-teriak atau menjerit, seperti meneriakkan sesuatu yang tidak pernah dimengerti warga dusun seperti sebuah ungkapan rasa yang menghimpitnya, entah jeritan sebuah harapannya yang seringkali terlipat dalam ketiaknya dan ketiak warga, atau hanya sebuah kejahilan yang wajar dari jiwa muda, jiwa pemberontak.

Namun apa yang diberontakinya? Ya itulah sumur dalam dapat diukur, hati dan jiwa orang mana kita tahu kedalamannya. Barangkali kita tidak mau tahu dan tidak mau belajar untuk mendalami dan mengukurnya. Kita memang tai kucing! Mengatakan Miun saraf, jangan-jangan kita lebih saraf dari Miun. Huh!

Rumah Miun di belakang penjara. Bentuk rumahnya tidak seperti rumah pada umumnya memiliki ruang-ruang tertentu sesuai fungsinya. Rumahnya hanya persegi empat, kira-kira dua setengah meter kali dua meter persegi, tinggi atapnya kira-kira dua setengah meter. Ruang itulah yang ia miliki untuk memenuhi segala kebutuhannya. Orang yang pernah melihat rumahnya, mengkuatirkan konstruksi bangunannya yang sangat melarat dari kekuatan semestinya guna menyangga beban yang ditimpakan kepada tiang-tiang dari bambu yang dibelah dua.

Anyaman bilik sebagai dinding rumahnya sudah mulai bolong melebar, sebagian dilapisi koran-koran basi. Lantainya semen campur pasir yang diaci. Kalau dilihat dari bentuknya bukanlah rumah, namun tempat tinggal, karena di situlah ia tinggal lima tahun terakhir. Tempat tinggal itu merupakan tempat istirahat setelah ia berkeliling mengmpulkan barang-barang yang dibuang orang ke bak sampah.

Tempat tinggal itu tidak menempel ke dinding gedung penjara. Beratap seng plastik, maksudnya bentuk atapnya seperti seng yang bergelombang terbuat dari plastik. Sehingga di dalam ruangan itu terang, baik siang atau malam. Di atas tempat itu ada sebuah lampu milik Lembaga Pemasyarakatan yang menyala setiap malam. Basi!

Tempat tinggal itu terlalu lebar kalau hanya untuk ngorok sendirian, atau hanya sekedar untuk berkencan dengan binatang malam. Di dalamnya ada satu gerobok dari kayu bekas, satu gantungan pakaian, satu tikar pandan wangi, satu sendok plastik, satu piring plastik dan satu gelas plastik. Gelas, kok plastik, yang namanya gelas itu pasti beling atau kaca! Aneh? Jangan aneh dengan jaman gilo. Lama-lama kita sendiri yang aneh melihat kita.

Miun penyairku akan kuhabisi kau. Aku terlalu menyayangi syair-syairmu yang kau curi dari lubuk hatiku dan dari otak kanan dan otak kiriku. Aku akan menyelesaikanmu dengan kata-kataku. Aku percaya katakata lebih tajam dari pedang. Katakataku kuasah dengan bukubuku dan katakataku kusekolahkan pada alam raya dan katakataku mencatatkan katakata dalam diriku menjadi senjata tajam. Lebih jitu dari peluru lebih tajam dari samurai.

Miun telah beberapa bulan tidak lagi menempati tempat tinggalnya. Semua tetangganya tidak mengerti ia pergi kemana. Tidak ada yang berani memasuki tempat tinggalnya. Tidak ada maling yang mengincar barang-barang buruk tidak berharga itu. Kecuali syair-syairnya yang ia curi dari lubuk hatiku dan dari otak kanan dan otak kiriku. Kawan-kawan disekitar tempat tinggalnyalah yang suka maling, mereka mengerti betul keadaan di dalam tempat tinggal itu. Tempat tinggalnya tidak di kunci.

Aku datang hanya sekedar untuk menanyakan berapa banyak kata-kata kalimat gagasanku dan yang tidak kuketahui, telah ia rampas paksa disaat aku sedang mengedipkan mata. Namun niat itu tidak jadi kulakukan. Setelah memasuki ruangan ada selembar surat yang di sematkan di dinding bilik bambu dengan tusuk gigi.

Palembang, 9 Juli 2005
Kepada kawan-kawan yang aku hormati. Kini aku telah menempati rumah penjara Sel Mawar Nomor 0065. (Sel mawar emangnya bungalau). Begini, aku mengakui telah mencuri banyak, tak terhitung, kata-kata kalimat gagasan kontemporer dan yang tidak kumengerti, telah kurampas paksa disaat seorang kawanku sedang mengedipkan mata. Aku sering lupa siapa namanya. Katakata itu telah aku jual untuk menghidupiku sendiri. kini aku tidak sanggup lagi untuk menghidupi tubuh sebatangkara ini. Ya sebaiknya kuakui kesalahan itu dan aku bisa masuk rumah penjara. Entah berapa lama. Hanya aku ingin di rumah penjara sampai hari kiamat nanti. Salam,
Miun
***

Palembang, Juli 2005

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku

Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 105

sajak Sajak Kesepian
Gendhotwukir

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000