cerpen Rumah
Penjara
Penyair
Jajang
R.
Kawentar
Aku punya kawan seorang
penyair, itu kataku. Tetapi lain kata
tetangganya, ia pengangguran sinting,
tanpa beban. Banyaklah tertawanya ketimbang
menampakkan muka masam atau muka jeruk
purutnya. Kalau kata kawanku yang lain,
ia figur anti kemapanan sejati untuk
saat ini. Hidup tidak untuk masa depan,
hidup adalah saat ini dan nikmatilah
saat ini sebelum kesempatan itu mampus
bersama harapan dan kenyataan.
Aku meyakinkannya ia sebagai penyair
total. Maksudku total dalam membuat teks
atau syair serta total teks itu menjadi
kehidupannya. Apabila melihat tingkah
polah lakunya itulah syair show lifenya.
Kalau terpana atau menggelengkan kepala
tiga kali, berarti syair itu melaksanakan
tugasnya laksana sihir atau hipnotis.
Itulah salah satu kelebihan syairnya.
Sekian banyak syair yang di lahirkannya
tidak ada yang dapat dijadikannya rumah.
Namun telah menjadi rumah bagi jiwanya.
Ia tidak perduli dengan keadaan dirinya
yang menurut orang lain merusak mata
dan memekakan pendengaran. Ia jalani
lalu lintas kehidupan dengan sabar, realistis
dan kadang subversif.
Rumah kawanku itu di belakang rumah
penjara negara. Maaf, rumah penjara itu
terlalu sarkasme, terlalu subversif,
terlalu menggoco ulu hati, terlalu melecehkan,
kurang manusiawi, menyamai kekuasaan
Tuhan: untuk itu diganti dengan Lembaga
Pemasyarakatan biar terasa akrab, bersahabat,
ramah dan manusiawi alias bermoral atau
beradab; seperti istilah bencana kelaparan
menjadi rawan pangan, rasanya terdengar
menyejukkan kolbu, serasa tiada ada sesuatu
peristiwa yang tragis walau yang kelaparan
itu ribuan dan atau yang mati ratusan.
Kawanku itu namanya Samiun. Biasa dipanggil
Miun. Ia kawan satu dusunku. Dusun yang
jauh di bawah kaki gunung Dempo. Hawanya
dingin, sejuk, mata airnya jernih bening
tanpa ada campuran limbah pabrik pupuk,
kertas, atau karet. Di kaki gunung tidak
ada pabrik yang merusak ekosistem atau
mencemari alam di mana mereka bernaung.
Mereka mengakrabi alam dengan kearifan
dan kesederhanaan. Aman.
Angin semilir dihembuskan bersama wangi
bunga kawo (kopi), padi dan tanah yang
perawan, juga bau keringat para petani
yang memetik buah, menanam bibit dan
sedang menyabit rumput. Di sanalah kami
dilahirkan di dalam kesegaran alam dan
lingkungan yang mengagungkan rasa kekeluargaan
dan kekerabatan yang sangat tinggi, siapapun
saudara asal satu dusun. Begitulah di
perantauan, lain pula kalau sudah tiba
di dusun, kembali ke tabiat semula sebagai
mahluk yang juga mentasbihkan ego individualnya.
Miun syaraf, maksudnya urat syaraf
otaknya terganggu sehingga mengganggu
cara pandang berpikir dan entahlah,
mungkin gila. Orang-orang dusun mengenal
Miun dari kebiasaan yang dianggapnya
buruk, tidak wajar. Miun seringkali
berteriak-teriak atau menjerit, seperti
meneriakkan sesuatu yang tidak pernah
dimengerti warga dusun seperti sebuah
ungkapan rasa yang menghimpitnya, entah
jeritan sebuah harapannya yang seringkali
terlipat dalam ketiaknya dan ketiak
warga, atau hanya sebuah kejahilan
yang wajar dari jiwa muda, jiwa pemberontak.
Namun
apa yang diberontakinya? Ya itulah
sumur dalam dapat diukur, hati dan
jiwa orang mana kita tahu kedalamannya.
Barangkali kita tidak mau tahu dan
tidak mau belajar untuk mendalami
dan mengukurnya. Kita memang tai kucing!
Mengatakan Miun saraf, jangan-jangan
kita lebih saraf dari Miun. Huh!
Rumah Miun di belakang penjara. Bentuk
rumahnya tidak seperti rumah pada
umumnya memiliki ruang-ruang tertentu
sesuai
fungsinya. Rumahnya hanya persegi
empat, kira-kira dua setengah meter
kali dua
meter persegi, tinggi atapnya kira-kira
dua setengah meter. Ruang itulah
yang ia miliki untuk memenuhi segala
kebutuhannya.
Orang yang pernah melihat rumahnya,
mengkuatirkan konstruksi
bangunannya yang sangat melarat dari
kekuatan
semestinya guna menyangga beban yang
ditimpakan
kepada tiang-tiang dari bambu yang
dibelah dua.
Anyaman bilik sebagai dinding rumahnya
sudah mulai bolong melebar, sebagian
dilapisi koran-koran basi. Lantainya
semen campur pasir yang diaci.
Kalau dilihat dari bentuknya
bukanlah rumah,
namun tempat tinggal, karena di
situlah ia tinggal lima tahun
terakhir. Tempat
tinggal itu merupakan tempat istirahat
setelah ia berkeliling mengmpulkan
barang-barang yang dibuang orang
ke bak sampah.
Tempat tinggal itu tidak menempel ke
dinding gedung penjara. Beratap seng
plastik, maksudnya bentuk atapnya seperti
seng yang bergelombang terbuat dari plastik.
Sehingga di dalam ruangan itu terang,
baik siang atau malam. Di atas tempat
itu ada sebuah lampu milik Lembaga Pemasyarakatan
yang menyala setiap malam. Basi!
Tempat tinggal itu terlalu lebar kalau
hanya untuk ngorok sendirian, atau
hanya sekedar untuk berkencan dengan
binatang malam. Di dalamnya ada satu
gerobok dari kayu bekas, satu gantungan
pakaian, satu tikar pandan wangi, satu
sendok plastik, satu piring plastik
dan satu gelas plastik. Gelas, kok
plastik, yang namanya gelas itu pasti
beling atau kaca! Aneh? Jangan aneh
dengan jaman gilo. Lama-lama kita sendiri
yang aneh melihat kita.
Miun penyairku akan kuhabisi kau. Aku
terlalu menyayangi syair-syairmu yang
kau curi dari lubuk hatiku dan dari
otak kanan dan otak kiriku. Aku akan
menyelesaikanmu dengan kata-kataku.
Aku percaya katakata lebih tajam dari
pedang. Katakataku kuasah dengan bukubuku
dan katakataku kusekolahkan pada alam
raya dan katakataku mencatatkan katakata
dalam diriku menjadi senjata tajam.
Lebih jitu dari peluru lebih tajam
dari samurai.
Miun
telah beberapa bulan tidak lagi menempati
tempat tinggalnya. Semua tetangganya
tidak mengerti ia pergi kemana. Tidak
ada yang berani memasuki tempat tinggalnya.
Tidak ada maling yang mengincar barang-barang
buruk tidak berharga itu. Kecuali syair-syairnya
yang ia curi dari lubuk hatiku dan dari
otak kanan dan otak kiriku. Kawan-kawan
disekitar tempat tinggalnyalah yang suka
maling, mereka mengerti betul keadaan
di dalam tempat tinggal itu. Tempat tinggalnya
tidak di kunci.
Aku datang hanya sekedar untuk menanyakan
berapa banyak kata-kata kalimat gagasanku
dan yang tidak kuketahui, telah ia
rampas paksa disaat aku sedang
mengedipkan mata.
Namun niat itu tidak jadi kulakukan.
Setelah memasuki ruangan ada selembar
surat yang di sematkan di dinding bilik
bambu dengan tusuk gigi.