ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis     edisi 105 sabtu16 juli 2005,  po box 49 jkppj 10210

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Selama Yury tidur sepuas-puasnya, musim semi tambah panas dan melelehkan seluruh jumlah slaju tak terbilang itu yang telah turun antero Rusia; semua salju yang turun di Moskow pada hari keberangkatan mereka dan terus saja turun sepanjang jalan sejak itu; semua Tiba-tiba berobahlah cuaca dan pemandangan. Tanah datar berakhir, jalan kereta api melilit banyak bukit dan teras di tanah pegununugan. Angin Utara yang tak kunjung henti kini reda, maka datanglah hembusan hangat dari Selatan laksana dari tungku.

Di sini hutan tumbuh di lereng-lereng, menonjol dari landaian gunung-gunung, maka taktkala kereta api melintasinya, ia harus mendaki tanah terjal berbukit, sampai tiba ke tengah hutan, lalu turun lewat tanah curam. Kereta api berderak-derak dan ngah-ngah lewat hutan, nyaris tak mampu menyeret diri, seolah-olah ia penjaga hutan tua yang berjalan di depan dan menuntun para penumpang yang berpaling ke kiri dan ke kanan untuk melihat-lihat apa yang nampak.

Tapi belum ada yang patut dilihat. Hutan rimba masih lengang dalam tidur nyenyaknya di musim dingin. Hanya di sana sini sebatang dahan goyang berkerosok, membebaskan diri dari beban salju yang hinggap, seakan-akan melepaskan kerah bajunya.

Yury letih dan ngantuk. Berahri-hari ia terbaring di bangkunya dan tidur dan bangun dan berpikir dan menyimak, Namun tak ada yang perlu didengarkan.
***bersambung

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku

Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 105

memoar Gelang Karet
Hayat

ceritanet
©listonpsiregar2000