ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis     edisi 104 sabtu 2 juli 2005,  po box 49 jkppj 10210

memoar Gelang Karet
Hayat

Seingatku, pertama kali aku melihat gelang karet berwarna-warni itu awal tahun 2005. Wayne Rooney dan pemain-pemain di Liga Inggris-lah yang mengenalkannya kepadaku. “Dua gelang warna hitam dan putih yang selalu terkait itu artinya kampanye anti rasisme. “ Temanku –yang kebetulan belum lama pulang dari Inggris – menjelaskan.

Kemudian, dari berbagai sumber, aku menemukan bahwa setiap warna gelang karet punya arti sendiri yang khas. Beberapa yang terkenal; warna putih berarti sikap mendukung kampanye Make Poverty History. Lantas Oranye = Anti Merokok. Pale Blue and White itu sama dengan peduli akan Tsunami Relief, sedang Purply-Blue adalah suatu ekspresi ‘Say No To Drugs,’ dan Merah untuk Riset Aids.

Kalau yang berhubungan dengan kanker, baik untuk penggalangan dana, yang bisa sembuh dan sukses menghajar kanker, maupun penderitanya maka Pink mewakili kanker payudara. Biru tua melambangkan kanker usus, Purple untuk Pancreatic Cancer, dan Aqua Blue representasi dari Ovarian Cancer.

Tapi kegilaan gelang karet ini berangkat dari yang bertuliskan ‘Live Strong.’ Gelang karet yang digunakan Lance Amstrong Foundation ini memang fantastis. Lebih dari 47 juta gelang karet terjual selama setahun. Bahkan ketika Lance Amstrong dan pacarnya, penyanyi Sheryl Crow, di undang bareng di acara Oprah Winfrey show, maka dalam sehari saja penonton acara talk show terkenal itu memborong 900.000 gelang. Endorsement Oprah memang luar biasa.

Memang agak susah dibuktikan, tetapi gelang karet kuning bertuliskan ‘Live Strong’ tersebut diyakini sebagai trend setter, yang menjadikan gelang karet kemudian menjadi tidak hanya bagian dari kampanye penggalangan dana atau sikap kepedulian dan dukungan terhadap penderita kanker, tetapi juga sebagai bagian dari gaya, dari mode.

Dan ketika sudah menjadi item fashion, varian gelang karet itu bisa menjadi bermacam-macam. Tulisan bisa diganti-ganti. Warna bisa dicampur-campur. Di buat menyala dalam gelap. Bahkan bahan dasarnya bisa dimodifikasi supaya cocok untuk segmen tertentu. Membuat gelang karet dari Kristal Swarovsky misalnya supaya cocok buat perempuan yang tidak lagi ABG.

Kegemaranku nonton sepakbola, terutama Liga Utama Inggris –dan lebih khusus lagi Manchester United-- yang menuntunku menyukai gelang karet.

Aku juga punya penggalan kenangan tentang gelang karet, yang mungkin menurut penilaian orang sepele, tapi tidak bagiku. Aku masih ingat wajah temanku yang berbinar-binar ketika menerima satu gelang karet hijau kesayanganku. Sebelumnya dia bertanya-tanya dimana belinya dan menceritakan tentang anaknya yang masih SMP –yang sepertinya kena demam gelang karet. Sungguh tidak hanya dia, aku juga merasa bahagia disuguhi wajah ceria seperti itu.

Ketika orang membutuhkan dan kita bisa membantunya. Sungguh merupakan suatu hal yang membahagiakan. Untuk kedua belah pihak; sama-sama. Terlepas apakah sama agamanya atau tidak. Satu suku atau tidak.

Jujur saja, aku memang baru bisa melakukan hal-hal yang sederhana seperti itu. Tapi itu sungguh membuatku bahagia. Gelang karet menjelma seperti prasasti yang mengingatkan lagi bahwa tiket menuju kebahagiaan ternyata tidak selalu harus dengan biaya mahal. Tidak harus pelesiran keliling dunia. Tidak harus punya istri super model. Tidak harus bikin seribu candi. Juga tidak harus menang lotere 100 milyar dollar. Lakukan segala sesuatunya dengan cinta dan kamu akan bahagia. Mungkin --ehmm walau terdengar sedikit agak klise-- begitulah resepnya.

Beberapa bulan lalu, aku sedang mengantri di Bioskop Twenty One. Kulihat masih belum banyak yang memakai gelang karet. Beberapa menit kemudian –sambil menunggu film diputar – aku pergi membeli koin untuk main game.

“Mas, gelangnya bagus“ kata si mbak berbaju seragam Twenty One sambil menyodorkan koin. Dia tersenyum manis padaku. Aku sedikit salah tingkah. Kemudian kulepas gelang karetku dan kusodorkan padanya.

“Kamu mau?“ tanyaku.
Dia mengangguk sambil menerima gelangku. Kemudian dia tersenyum lagi; maniiesss sekali.
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku

Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 104

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000