ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis                                                                                                edisi 103 senin 20 juni 2005,  po box 49 jkppj 10210

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Walaupun sudah kasep dan segera malam akan tiba, kereta api diharapkan akan berangkat juga satu dua jam lagi. Yury dan Tonya turun untuk bersenang-senang melihat rel yang bersih itu sekali lagi, Tapi di situ tak ada seorangpun yang ketinggalan. Mereka memandang kejauhan, bertukaran beberapa kata, lalu kembali.

Waktu balik ke deresi itu, mereka dengar suara dua perempuan yang bertengkar dengan hebat dan mereka kenal itu suara Ogryskova dan suara Tyagunova; mereka bergerak ke arah yang sama, tapi disebelah lainnya dari kereta api, tersembunyi oleh barisan deresi tak berujung. Kedua perempuan itu agaknya hampir tak pernah sama jauhnya dengan Yury dan Tonya, tapi selalu lebih lanjut sedikit atau lebih ke belakang.

Rupa-rupanya mereka amat rusuh, sampai kehagisan tenaga dan menilik cara meningkatnya suara mereka sampai berteriak. lalu turun sampai berbisik, maka kaki mereka tak sanggup mendukung tubuh atapun mereka berkali-kali tersandung dan jatuh ke salju, Agaknya Tyagunova mengejar Ogryskova dan memukulnya dengan tinju, bila ia mencapainya. Ia menyebutkan dengan apa saja yang masuk kepalanya, maka suara yang halus dan berlagu itu meyebabkan semua maki-makiannya jauh lebih memalukan dan kasar lagi kedengarannya dari pada suara lelaki yang menyumpah-nyumpah.

"Babi sundal," teriaknya. "Aku tak bisa bergerak satu incipun tanpa melihat kau menggerendeng kian kemari. Apaklah badut tuaku tak cukup untukmu sampai kau main mata dengan si baji?"

"Jadi Vassya juga lakimu yang kawin dengan sah, he? Bagus!"

"Kukasi kau laki yang sah, hai penyakit busuk! Satu kata lagi dari moncongmu yang kotor dan kubunuh kau."

"Wah simpan tinjumu. Kau mau apa sih?"

"Aku mau kau mampus, hai sarang berahi, kucing kepanasan, anjing betina tak tahu malu!"

"Begitu aku, he? Wah, wah, tentulah aku cuma kucing, anjing betina, dibanding dengan nyonya besar macam kau. Kau yang lahir dalam got, kawin dalam selokan, tak laku bagi tikus dan landak karena si buyung... Tolong! Tolong! Pembunuhan. Dia bunuh aku. Tolong si yatim celaka, tolong, gadis miskin tak berdaya!"

"Mari pergi." Tonya bergegas. "Aku tak betah mendengarnya, terlalu menjijikkan. Mereka akhirnya akan berbuat keji sekali."
*
**bersambung

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku

Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 103

memoar Lonceng-lonceng Indah
Mula Harahap

ceritanet
©listonpsiregar2000