cerpen
Ada
KKR
di
Meja
Makanku
Liston
P. Siregar
“KKR ini jauh berbeda dari KKR
di negara-negara lain,” katanya.
Aku
masih mau menyerap, tapi istriku
langsung nyelutuk, “KKR itu apa
sih?”
“
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi,” jawabnya.
“
Seperti yang di Afrika Selatan,” tambahku,
supaya lebih nangkap. “Ok,” jawab
istriku sedikit agak paham.
“
Tidak, jelas tidak sama. Amat beda,” sergapnya
keras dan tajam.
Belasan
tahun lebih tidak bertemu, Lina tak
banyak berubah. Lebih gemuk
sedikit, tapi potongan rambut masih sama
seperti jaman kuliah dulu; lurus, pendek
dan praktis. Gaya berpakaian juga tetap
senada; jins dan hem warna-warna
dasar --walau ada tambahan kecil; asesoris
kaca mata hitam yang tergantung di saku
kanan atas. Sedang karakternya, aku yakin
malah menjadi-jadi. Makin keras, makin
terus terang, makin tajam, dan makin
anti omong kosong.
Selepas
kuliah, kami praktis putus kontak.
Aku mendengar dia jadi
pegiat LSM di kota asalnya, Solo, sedang
aku berangkat ke rimba belantara Jakarta
mencoba menelusuri karir jurnalistik.
Tahun 1990an awal kami bertemu sekejap
di sebuah seminar tentang kekerasan atas
anak jalanan. Dia salah seorang panitia
dan juga pembicara, aku wartawan junior.
Dia sibuk mengatur sana sini, aku lontang-lantung
mencari angle berita. Kami bertukar nomor
telepon, yang belasan tahun tak pernah
digunakan.
“Sorry kalau terlalu bodoh, tapi
apa bedanya?” tanyaku rada malu.
Seorang redaktur desk nasional di harian
terbesar di negara berpenduduk 200 juta
--yang selama 60 tahun naik turun secara
politik, budaya dan ekonomi-- tidak tahu
masalah KKR.
“ Konsep KKR yang sekarang ini belum apa-apa
sudah mengutamakan amnesty. Jadi para
pejabat tinggi kehakiman pergi jalan-jalan
ke Afrika Selatan untuk study banding
dan pulang-pulang yang mereka bawa...
yang mereka tiru...cuma amnestynya.”
“
Tapi bukannya memang itu salah satu tujuaannya.
De Klerk mendapat pengampunan,” bantahku
sok tahu.
“
Ya, setelah persidangan panjang
dan setelah dinyatakan bersalah,” tantangnya.
Aku
diam kembali mencoba menyerap. Suaminya
--seorang pria Inggris yang beberapa
tahun lalu pernah magang belajar Bahasa
Indonesia di koran kami-- asyik main
domino dengan
kedua anakku. Istriku berupaya ikut
pembicaraan kami. Meja makan yang tidak
terlalu besar, ternyata bisa juga rapi
terbagi dua; KKR dan domino. Keduanya
sama seru.
“Apakah
bukan seperti itu yang dimaui?”
“
Sama sekali tidak. Konsep yang ada sekarang
hanya ingin mempertemukan korban dan
tersangka satu per satu di ruang tertutup,
dan tersangka minta maaf sedang korban
memberi maaf. Urusan tersangka langsung
beres,
tapi korban masih harus berjuang untuk
mendapatkan kompensasi, entah berapa
tahun lagi dan entah dapat atau tidak,” jawabnya.
“
Mungkin,” tanggapku berhati-hati, “konteks
budayanya masih belum terlalu pas. Rasanya
tidak ada tradisi di masyarakat kita
untuk secara terbuka mengorek-ngorek
kesalahan masa lalu.”
“ Memang itulah selalu yang jadi alasannya,
KKR itu konsep Barat, tidak sesuai dengan
budaya, tidak berorientasi pada masa
depan. Tapi apakah para korban harus
menderita terus dengan stigma yang mereka
derita selama bertahun-tahun, dan budaya
seperti apa pula yang membunuhi kawan
sendiri, memenjarakan kawan sendiri.
Kenapa 40 tahun kemudian baru bicara
budaya.”
Rencana
kedatangan Lina dan suaminya
cukup
mengagetkan. Setelah
tak ada komunikasi selama belasan tahun,
tiba-tiba saja suaranya
nongol. “Suamiku
tiba-tiba ingat kantormu, dan tahulah
kalau kami dua kenal kau. Dunia
memang kecil,
jadi kami mau ketemu,” katanya
ketika menelepon ke kantor dua hari lalu. "Akhir
pekan, kalian kosong?”
Waktu
kuliah dulu, aku dan Lina tidaklah
berkawan akrab.
Menurutku, dia terlalu
liar, tak bisa diatur, selalu lain sendiri,
dan agendanya njelimet. Menurutnya, aku
terlalu steril, hanya berkutat di kehidupan
kampus; mengelola majalah kampus, bikin
kelompok diskusi, ikut seminar sana sini,
hadir di setiap ruang kuliah –“Kewiraan
saja kau dapat B,”-- dan tamat
tepat waktu dengan Indeks Prestasi
2,8 –cukup
untuk memenuhi syarat jika ingin melanjutkan
ke program S2.
Yang
paling kuingat adalah ketika kami bertengkar
hebat karena dia --sebagai
salah seorang reporter majalah kampus--
ngotot mau memasukkan laporan unjuk rasa
penghuni liar di pinggir rel kereta dekat
stasiun Tawang, Semarang, ke majalah
kampus. “Ya nggak relevan,” tegasku.
Dia berkeras karena laporannya itu, katanya,
mau dibedah dengan analisa jaringan sosial. “Selama
puluhan tahun mereka tinggal di situ,
mau digusur, tapi masyarakat marginal
ini ternyata bisa mengkonsolidasi opininya,
bisa mengelola ekspresi opininya dan
sekaligus memfasilitasinya.”
Kami
berdua berdebat keras di kantor kecil,
di samping kantor
Senat dan beberapa
orang dari kantor sebelah melongok –antara
ingin tahu dan melempar isyarat
teguran agar suara kami diperkecil. Lelah
melayani
perdebatannya, sore itu juga aku undang
semua pengurus majalah kampus dan kami
voting. “Jadi
kau kirim saja ke harian umum,” saranku
ketus. “Kau
pasti lebih tahu dari aku kalau koran
umum tidak akan mungkin memuatnya.
Majalah kampus inilah satu-satunya
peluangnya tapi langsung kau bunuh.
Dasar pengecut steril!”
Belasan
tahun kemudian, di meja makan rumahku,
aku lebih bersimpati
padanya.
Sebagai salah seorang tamatan Publisistik
di universitas daerah, maka jabatan redaktur
desk pada usia 42 tahun di sebuah koran
nasional bertiras terbesar cukuplah untuk
digolongkan ke dalam kategori berhasil.
Aku kawin, dikarunia dua anak, mampu
mencicil rumah dan mobil. Sedang dia
baru menikah pada usia 41 tahun, dengan
pegiat LSM asal Inggris, lompat dari
rumah kontrak yang satu ke yang lain,
datang ke rumah kami dengan naik bis
nyambung dua kali, ditambah jalan kaki
500 meteran melewati jalan tanah yang
kering kerontang. Dengan parameterku
--yang sebenarnya amat picik—aku
seperti terbeban untuk bersimpati padanya.
“Jadi apakah
KKR Afrika Selatan yang ideal?”
“ Tidak juga karena KKR Afrika Selatan
dibentuk dengan semangat kompromi politik
dalam era transisi.”
“ Apakah itu berarti KKR kita harus sampai
pada penghukuman.”
“
Bukan, kalau itu asumsi dasarnya juga
tidak tepat. Sebaiknya KKR
memberi kesempatan kepada para korban
guna mengungkapkan versinya, juga ada
sebuah komisi investigasi independen
yang bertugas mengumpulkan fakta-fakta.
Selama ini tidak pernah kita dengar versi
korban, padahal hampir semua dipenjara
di Pulau Buru tanpa kesalahan apapun.
Berapa pula yang mati diganyang begitu
saja… Tapi kalian
sendiri apa tidak tertarik memberitakannya?”
“
Sudah pernah dimuat, tapi
repotnya kami memang harus berpikir
dalam
kerangka
news
peg.
Dan hampir
setiap seminar dan diskusi KKR kami muat,” belaku.
“ Tapi cuma berita dan bukan penjelasan
apa kelemahan dari konsep KKR yang berkembang
sekarang ini. Masyarakat hanya tahu ada
KKR, tapi mereka tidak mengerti bahwa
KKR ini justru mengorbankan kembali para
korban”
Aku
sendiri punya cukup alasan untuk bersimpati
dengan apa yang disebut korban
peristiwa G30S/PKI. Tak lama setelah
Presiden Soeharto jatuh, hasrat ingin
tahu mendorongku ikut menemani
reporter deskku untuk mewawancarai
seorang mantan
dokter yang dipenjara
selama 21 tahun di Pulau Buru. Keluar
dari penjara, Ibu Salami bertekad mengumpulkan
data sebanyaknya tentang para tapol
dan napol 1965. Di ruang tamu rumahnya
yang
sempit, di sebuah kawasan perumnas
di salah satu pelosok Bekasi,
Ibu Salami ditemani seorang keponakannya
menerima telepon, fax, dan surat dari
seluruh Indonesia. Di buku merah tebalnya
yang selebar kertas folio, terlihat
daftar yang semakin panjang.
Pada
usia 69 tahun, sewajarnya dia tinggal
menikmati hari-hari
bersama cucu,
tapi juga sama sekali tidak ada nada
kemarahan yang terlintas sedikitpun dari
wajah dan suaranya. Yang dia lakukan
terlihat seperti panggilan takdir, yang
tak bisa dipungkiri lagi selain mengalir
ditekuni. Dua puluh satu tahun dia habiskan
di Pulau Buru, dan hanya setengah dari
masa itu saja sudah bisa digulirkan untuk
menikah, punya dua anak, dan bermetamorfosa
dari reporter menjadi redaktur –atau
naik gaji hampir tiga kali lipat. Sore
itu juga, begitu keluar dari pintu rumah
Ibu Salami aku bertekad tidak akan mengeluh
lagi jika terperangkap macet, dan berhasil!
Aku juga ingat seorang pamanku, mantan
seorang dosen di Medan, yang mendekam
di LP Binjai selama 15 tahun lebih
hanya karena disebut-sebut ‘terlibat
G30S/PKI.’ Kami sekeluarga sayang
padanya dan tahun 1994, aku undang
dia dari Medan untuk hadir ke pesta
perkawinanku di Jakarta, lengkap dengan
tiket. Tapi tanteku datang sendirian; ‘pamanmu
kurang sehat.’ Bapakku masih
agak sedikit terus terang; ‘dia
bilang terlalu repot kalau datang.’
Aku tahu dia tidak mau datang karena
kuatir predikat bekas Eks Tapol, ET,
di KTPnya bisa-bisa akan mempengaruhi
karirku di sektor media massa, yang ketika
itu harus bersih total dari bau G30S/PKI,
yang langsung ataupun tidak langsung.
Sampai sekarang, hatiku rasanya masih
tergores membayangkan suasana ketercabikan
dan ketakutan akibat dari yang dimomokkan
oleh Orde Baru sebagai G30S/PKI.
“Maaf kalau aku terlalu praktis,
tapi mungkin ada semacam kendala untuk
tidak menangani G30S/PKI sebelum insiden
kekerasan negara yang lebih baru belum
tersentuh. Mungkin akan lebih gampang
mensosialisasikan jika insiden kekerasan
1998 atau Tanjung Priok ditangani dulu,” aku
mencoba menawarkan cara pandang lain.
“ KKR ini bukan hanya untuk 1965, juga
bisa untuk 1998, untuk Tanjung Priok,
untuk Sampang, untuk Lampung. Bukan hanya
1965.”
“ Tapi yang sekarang kan untuk 1965
dan, seperti kau bilang tadi, jadinya
agak dipaksakan. Kalau memang tidak urgen,
dimentahkan saja lagi dan dikasih waktu
lebih panjang.”
“
Korban 1965 itu semua sudah tua, dan
sebentar lagi mereka akan meninggal.
Kesempatan mereka tidak banyak lagi.
Jadi KKR 1965 ini perlu dan amat mendesak.
Jangan sekedar ada,” tegasnya.
“
Apakah itu tidak bisa dilihat sebagai
hambatan. Bukan aku setuju…tapi
anggapan bahwa para korban dan pelaku
sudah semakin tua membuat
semacam kesadaran bahwa toh semuanya
akan segera
hilang. Bukan berarti aku setuju, jangan
salah sangka, tapi mungkin begitulah
cara berpikir
mayoritas.”
“ Begini. Ini sebenarnya bukan sekedar
rehabilitasi para korban dan hukuman
para pelaku. Tapi pelurusan sejarah,
untuk mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi tahun 1965 supaya tragedi
berdarah yang, katanya, membunuh sampai
2 juta orang tak berdosa, kelak
tak berulang lagi. Kau tahu nggak bahwa
aksi 1965 itu menjadi cikal bakal dari
seluruh kekerasan negara yang ternyata
berulang kembali di Tanjug Priok, di
Lampung, di Trisakti, di Semanggi, di
Papua, di Aceh. Perilaku buruk TNI
dan
intelijen mendapat legitimasi dari sana,
dari tahun 1965, dan bertahan sampai
sekarang, tahun 2005. Kalau kita tidak bisa menjelaskan, bagaimana
mau mengatasinya di masa depan nanti.”
Aku
selalu menghadapi kesulitan jika dihadapkan
pada pilihan-pilihan
ideal
atau praktis. Seorang teman mengatakan
situasi itu mestinya dilihat sebagai
kelebihan –“kau selalu punya
kesempatan untuk melihat dua sudut pandang,” katanya.
Tapi aku lebih sering tak nyaman dan
bingung. Bahwa kemudian ada jalan keluar,
biasanya lebih karena dialirkan begitu
saja, bukan sebuah solusi
yang dikelola dengan rapi. Mungkin itu
pula yang membuat aku sering cemburu
pada orang-orang seperti Lina, yang seratus
persen yakin idealismenya akan kelak
terwujud tanpa mau perduli kenyataan
praktis. Di sisi lain aku juga cemburu
pada seorang kawan yang pada usia 40
tahun sudah jadi Direktur Utama salah
satu BUMN karena, begitulah pengakuannya, tinggal
mengiyakan atasan saja. Hidup mereka –baik
yang di sisi kiri maupun kanan— terasa
lebih mudah dan menyenangkan.
“Tahun
ini, peringatan 40 tahun G30S/PKI.
Mungkin perlu kalian buat laporan
khusus,” sarannya.
“
Mungkin bisa, tapi coba kalian juga bikin
acara apalah, supaya ada news pegnya,
jadi tidak ujuk-ujuk…” saranku
pula.
“40 tahun itu pegnya,” tekannya.
“
Ya bisalah,” aku mencoba lepas
sedikit dari tekanannya.
“
Aku bisa bantu kalau mau wawancara para
korban. Aku juga bisa kasih
laporan penggalian beberapa kuburan
di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada juga
cerita sampingan menarik. Banyak
tahanan di Pulau Buru yang dulu belajar
akupunktur dan karena tidak ada kegiatan
lain mereka jadi ahli. Di Yogyakarta
banyak ahli akupunktur yang alumni
Pulau Buru. Kan menarik,” desaknya
lagi.
Segera
terbayang wajah pemimpin redaksi, dan
di belakangnya
ada bayang-bayang
hitam wajah pemilik koran kami, yang
diam-diam dipanggil Paman Gober oleh
para reporter
junior, yang menurut mereka “pasti
tunduk menyembah sama kekuatan apapun
yang bisa menjadi potensi ancam bagi
kelanjutan bisnis medianya.”
Aku
coba menenangkan diri, bahwa suasana
tahun 2005 sudah jauh lebih bernuansa
reformasi sehingga mungkin akan lebih
mudah meyakinkan pemimpin redaksi untuk
minta petunjuk ke Paman Gober. Tapi
ingin rasanya aku bangun besok pagi
dan sudah
melupakan segala hal yang berbau KKR,
atau keluar
dari ruang rapat dengan membanting pintu
tanpa pernah kembali lagi.
“Kami harus pulang sekarang,” kata
Lina seperti sengaja melepasku ke malam
panjang yang tidak nyaman.
“ Iyalah, terimakasih sudah mau datang.”
“
Jangan lupa, laporan khusus untuk
peringatan 40 tahun. Tak banyak lagi
kesempatan para korban, jadi sebelum
KKR terbentuk resmi harus dikasih tekanan
terus,” tekannya
lagi sebelum pulang.
Kami berempat mengantarkan mereka berdua
ke pintu gerbang, sedang tawaran mengantar
ke halte bis di jalan raya mereka tolak.
Ketika
hendak masuk kembali ke dalam rumah,
aku lihat sepintas pantulan
wajahku di kaca jendela. Aku berhenti
sebentar, mengamati lebih dekat uban
yang sudah jauh lebih banyak dari rambut
hitamku.
***