ceritanet, situs nir-laba untuk karya tulis              edisi 101 sabtu 21 mei 2005,  po box 49 jkppj 10210 

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Pekerjaan membersihkan rel itu makan tiga hari dan seluruh keluarga Zhivago, juga Nyusha, ikut serta. Inilah tiga hari yang paling nyaman selama perjalanan.

Suasana di daerah itu seperti rahasia tertutup. Di dalamnya ada sesuatu yang mengingatkan kita pada pemberontakan Pugachov seperti yang disaksikan Pushin dan pada Asia yang liar menurut sketsa-sketsa Aksakov. Reruntuhan menambah sifat keaiban; begitu pula sikap-sikap sisa penduduk yang curiga dan hati-hati, takut pada pertanyaan orang dan menghindari para penumpang; bahkan di kalangan sendiripun mereka bungkam.

Yang bekerja itu dibagi dalam regu-regu, tawanan dipisahkan dari warga bebas. Seluruh tempat dikelilingi pasukan keamanan.

Wilayah jalan kereta api ini dibagi dalam bagian-bagian, tiap regu diserahi satu bagian dan semua dikirim ke bagian masing-masing serta bekerja berbarengan. Gunduk-gunduk salju antara bagian-bagian itu menyembunyikan tiap regu dari yang lain dan tak disentuh-sentuh sebelum pekerjaan selesai. Sepanjang hari para pekerja itu tinggal di luar dan kembali hanya untuk tidur. Hawa nyaman dan dingin dan giliran bekerja pendek-pendek, lantaran cakup tak cukup banyak. Senang semata-mata.

Di bagian Yury sepanjang rel ada pemandangan bagus. Di sebelah Timur tanah menurun jadi lembah dan timbul bergelombang sejauh kaki langit.

Di puncak bukit ada rumah yang disasari semua angin; di musim panas pohon-pohonnya tentu memberi kesejukan tapi kini renda esnya tak sanggup melindunginya.

Salju memperhalus dan membulatkan segala garis keliling. Ia tak dapat menutup seluruhnya dasar anak sungai berkelok-kelok, yang dimusim semi akan lari ke bawah ke viaduk di bawah tanggul jalan kereta api, tapi ini tersungkap salju, seperti anak dalam ranjangnya dengan kepalanya di bawah selimut berbulu.

Adakah yang tinggal dalam rumah di atas bukit itu, pikir Yury, ataukah ia kosong dan segera akan runtuh, diserahkan pada suatu pantai tanah? Apa terjadi dengan orang-orang yang pernah berdiam di situ? Sudah lari keluar negeri? Atau mati ditangani kaum tani? Ataukan mereka disukai, higgga boleh tinggal di daerah ini sebagai spesialis teknis? Dan andaikata mereka tinggal apakah Strelnikov membiarkan mereka hidup, ataukah mereka senasib dengan kaum kulak?

Rumah itu menggelitik rasa ingin tahunya, namun tetap bungkam dengan murungnya. Dewasa ini tak biasa orang bertanya-tanya, pun tak ada yang akan menjawab.

Tapi matahari bersinar di atas keputihan yang menyilaukan dan Yury memotong salju berkeping-keping, menimbulkan longsoran sinar intan yang kering. Itu mengenangkan pada masa kecilnya. Ia melihat dirinya di pekarangan rumah, pakai topi bertepi dan kulit domba hitam yang dirajut dalam bulu domba ikal, sedang memotong salju yang menyilaukan juga menjadi kubus dan limas roti dadih dan benteng dan kota bergua. Penghidupan sangat nikmat pada masa jauh lampau itu, tiap hal merupakan pesta bagi mata dan perut.

Tapi sekarang inipun selama bekerja tiga hari di bawah kolong langit, para pekerja merasa senang dengan perut kenyang. Tak heran. Waktu malam mereka mendapat pungkahan-pungkahan besar roti baru yang panas (tak seorangpun tahu dari mana datangnya dan atas perintah siapa): roti itu berkerak kerut merut dan lezat, mengkilat sebelah atas, retak dipinggir dari arang kecil-kecil ikut teramsuk di sebelah bawahnya.
***bersambung

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 101

sajak Tragedi Pembunuhan Kenangan
Gendhotwukir

memoar Saripohatji
Farah Rachmat

ceritanet
©listonpsiregar2000