ceritanet, situs nir-laba untuk karya tulis              edisi 101 minggu 8 mei 2005,  po box 49 jkppj 10210

sajak Tragedi Pembunuhan Kenangan
Gendhotwukir

Sejak aku membunuh kenangan, ada yang mengatakan aku akan membunuh kehidupan. Tidaklah demikian. Hidup tanpa kenangan berarti berenang-renang di lautan waktu obyektif. Dengan kekar tangan-tangan memegang rembulan dan matahari. Tiada malam tiada siang, karena telah kuhancurkan semuanya. Dengan remuknya matahari dan rembulan maka bertaburan kunang-kunang di setiap sudut pandang. Itulah keabadian. Malam dan siang tiada, maka tiada kemarin, tiada masa yang akan datang. Masa kini pun tiada karena yang ada adalah "ini hidup". Siapa tidak merindukan itu. Aku adalah yang sama. Tapi yang sama tetap akan dirindu agar ada yang baru. Surgaku adalah kesendirian dalam keabadian tanpa malam dan siang. Saat itu tiada duka, duka adalah kelahiran janin dari gelap dan terang. Camkan dunia tanpa terang dan gelap! Jangan lalu mengigau yang ada adalah kegelapan. Yang ada adalah keabadian terang. Kegelapan adalah terang yang belum sempurna. Kesempurnaan dan keabadian tanpa mengenal sekepak kegelapan. Keabadian sejati adalah bersama matahari-matahari yang memancar dari berpenjuru-penjuru. Tiada mengenal perjalanan hidup, bukan berenang melainkan berenang-renang.......
Sungai Rhein, 060304

Kelahiran Bulan

Dewi kegelapan mengandung tanpa persetubuhan. Di bulan ke-7 terhuyung-huyung memegang buncit di perutnya. Limbung di perjalanan bentang 7-9 bulan. Peluh di dahinya mengucur, membasahi malam panjang di paro sepi. Rintik air peluh jatuh menjadi hujan malam, menggenang di danau kecil, tempat bercermin wajah membiru di pucat sayu. Embun-embunnya menggantung di ranting malam, menggerayut menanti semarak cahya kelahiran baru.

Di bulan ke-8 genderang malam mendentang. Kali mendepak-jejak dinding perut, menjelmakan harmoni kidung malam. Membangkitkan nyenyak dewi malam dari lelap tidurnya. Pesta malam menggema di kekidungan menanti tiba. Malam-malam di bulan ke-8 adalah malam pesta penantian. Di wajahnya membintik galaksi, merajut lukisan bening dalam derap bintang-bintang kecil berlarian kesana-kemari. Gerayat terurai, di antaracahya kerlip menderai.

Di bulan ke-9 dewi malam lelap dalam tidurnya. Sunyi-senyap meratui malamnya. Rona wajahnya asri, menyanjung degup-degup di riang nyanyi jiwa. Di jiwanya ada jiwa menahan himpit dinding gelap. Tak sabar segera ingin mendua.

Tiba-tiba saja ia terjaga, satu gelepak-getar digetar janin. Pening dan mual dibuatnya. Segera saja ia rebah di atas awan hitam yang melembut di raganya. Merenggangkan paha-mekangkang dinafas tersengal. Jerit dan erang membangunkan penghuni malam. Sais, ngais, nyayat jeritnya menanda saat juang, menggema di dinding-dinding langit. Pegang erat degulan awan. Air ketubannya mulai mengalir menjatuh di muka bumi, memalur diwujudalur aliran sungai.

Aurora terang merebah di sekelilingnya, menyapa geliat melepas beban di buncitnya. Lambat-laun merekah cahya di genangan awan. Jelas dan bening menerawang cahya pelangi. Lalu mendarat di muka bumi, menanda kelahiran baru. Kelahiran bulan berbinar meninggalkan bunda kegelapan. Temani malam-malammu.
Sankt Augustin, 141204

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 101

memoar Saripohatji
Farah Rachmat

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000