ceritanet, situs nir-laba untuk karya tulis              edisi 100 minggu 8 mei 2005,  po box 49 jkppj 10210

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Esoknya, kereta api yang merayap bagai siput lantaran takut keluar dari rel yang dibedaki angin dengan salju dan tak ada yang membersihkannya itu, berhenti disamping reruntuh yang habis terbakar, tiada bernyawa. Hanya inilah sisa stasiun itu, Kelmes Hilir; namanya masih terbaca sedikit di sebelah depan yang hangus.

Di belakangnya terletak dusun tak berpenghuni, diselimuti salju, Dusun inipun rusak terbakar. Sebuah rumah diujungnya hangus, rumah disebelahnya ambruk karena kayu-kayu pojoknya jatuh; kereta salju yang patah, pagar, potongan-potongan logam berkarat dan perabot peyot-peyot tersebar di seluruh lorong salju kotor kena jelaga dan pungkah-pungkah tanah hitam nampak di celah-celah lumpur beku, berjerambai oleh balok-balok setengah terbakar, dimana orang telah bersusah payah menyirami api dengan air atau memukulnya supaya padam.

Tempat itu sebetulnya tak begitu mati seperti nampaknya, masih ada sedikit penduduk.. Kepala stasiun keluar dari puing, pengawal melompat dari kereta api dan menaruh kasihan padanya.

"Saya duga, dusun di makan api dan stasiun ikut terbakar?"
"Selamat siang dan selamat datang. Meman ada kebakaran, tapi da yang lebih buruk lagi."
"Saya tak mengerti."
"Jangan coba mengeeti."
"Strelnikov yang tuan maksudkan?"
"Ya."
"Mengapa? Apa yang tuan buat?"
"Kami tak berbuat apa-apa, tapi para tetangga; kamilah yang dihajar untuk balas dendam. Tuan lihat desa di sana --itulah Kelmes Hilir di daerah Ust-Nemdinsk --merakalah biang keladinya."
"Kejahatan apa yang mereka buat?"
"Kira-kira dosa terberat ketujuh-tujuhnya. Mereka membubarkan Panitia Petani Miskin, itu dosa pertama: tak mau beri kuda pada Tentara Merah, itu yang kedua (dan mereka semua Bangsa Tartar, jadi menunggang kuda), menentang dekrit mobilisasi --itulah sedikit-dikitnya nomor tiga."
"Saya paham, paham betul. Jadi digranat?"

"Tentu."
"Dari kereta api baja?"
"Begitulah."
"Sedih benar. Namun bukan urusan kami."
"Betapa juga, sudah lewat. Tapi kabar yang kami dapat untuk kamupun tak begitu baik, saya kuatir kamu harus tinggal di sini berhari-hari."
"Kamu main-main. Kami angkut tentara ke medan perang."
"Sama sekali tidak main-main. Seminggu lamanya ada badai di sini, hujan salju di sepanjang jalur, sedangkan tak ada orang membersihkannya. Separuh dusun sudah lari. Sisanya saya suruh bekerja, tapi tak akan cukup."
"Setan alas! Jahanam, apa mesti saya kerjakan sekarang?"
"Kita bersihkan pada waktunya."
"Berapa dalamnya salju itu?"
"Tak begitu buruk. Dalamnya berbeda-beda. Sebelah tengah paling sulit. Ada penggalian tanah kurang lebih dua mil panjangnya, di situ kita pasti kerepotan. Lebih ke sana lagi hutan menghindarkan sebagian besar salju dari rel. Dan sebelah sini tanah terbuka, jadi angin ada juga membuang salju."
"Jahanam, kacau pula. Saya suruh kerja penumpang."
"Itulah yang saya pikirkan."
"Pelaut-pelaut jangan dikutik-kutik. Tapi ada sepasukan kerja paksa dan juga para penumpang bebas, semua kira-kira tujuh ratus orang."
"Lebih dari cukup. Kita akan mulai, bila catuk-catuk sudah tiba. Kami agak kekurangan catuk, jadi kami minta pada dusun terdekat. Sebentar lagi datang."
"Wah celaka amat! Kamu pikir, kita bisa berhasil?"
"Tentu bisa. Kata orang, kota dapat direbut dengan jumlah orang banyak, sedangkan ini cuma rel. Jangan kuatir."
***bersambung

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 100

memoar Ke Madania
Hendiarto

laporan Untung Ada Abbas Kiarostami
Liston P Siregar

sajak Dyah Nyiur, Anak Perempuan Kami
Syam Asinar Radjam

ceritanet
©listonpsiregar2000