ceritanet, situs nir-laba untuk karya tulis              edisi 100 minggu 8 mei 2005,  po box 49 jkppj 10210

sajak Dyah Nyiur, Anak Perempuan Kami
Syam Asinar Radjam

Dyah Nyiur, anak perempuan pertama kami yang belum dibuat. Kemaluanku juga belum kugesekkan pada mesin auto-debet. Jangan cuma jadi perempuan. Matahari mulai sukar membentuk bayang-bayang. Jemuran basah diam saja. Angin hanya tertiup bersama genangan karbon dari knalpot. Dyah nyiur, anak perempuan pertama yang belum kami buat. Jika laut bernasib baik, anak kami akan lahir di tepiannya. Mengajarinya berenang dan mengirim pesan dalam botol. Ibunya, istriku, bingung mengajarinya memasak dan menyulam. Jika pagi bernasib baik, anak kami akan lahir bersama matahari. Segera mandi, kata ibunya. Taburkan bedak di ketiak. Buang iklan gincu itu, kataku. Kalau kami yang beruntung, Dyah Nyiur adalah satu dari 999 saudara sedaging yang tertendang ibunya.
(Permata Hijau Jakarta, 29 April 2004)


Sinesatron

Orang-orang di muncul di dalam tombol nomor remote control. Tiba-tiba kaya, tiba-tiba melarat dan kena cacar. Aku mengunyah suara calon biniku di ponsel. Garing seperti kerupuk kemplang ikan belida. Kadang gigiku tak kuat jadi kukulum saja. Istriku muncul di gelas kopi yang mulai dingin. Aku sembunyi ke tumpukan kretek. Petak umpet. Batereku kuat, tapi sinyalnya lemah, kataku. Orang-orang berjoget dalam tabung berwarna. Seperti sekerumun sorak ketika Marconi nyetel radio. Ketika desahku berakhir di kamar mandi, orang-orang dalam tombol nomor remote control seperti habis berkelahi. Ada yang tiba-tiba jadi lonte, ada yang langsung jadi da’i. Gelas kopiku sudah jadi asbak. Orang-orang dalam tombol nomor remote control senyum seperti resepsionis. Selamat Malam. Adakah kalian mau kurayu? Melompatlah dari tabung berwarna. Sayang remote controlku angka 0-nya copot dicuri iklan. Orang-orang dalam tombol nomor remote control tak terayu untuk singgah ke tikarku. Hei, bagaimana akhir ceritanya nanti, tanyaku. “Akhiri dulu ceritamu!” tandas mereka. Lalu iklan, lalu hantu-hantu, lalu mimpi-mimpi lagi, lalu pemakan bangkai, lalu ulat-ulat, lalu orang miskin kejatuhan emas sebesar deritanya sejak berabad lalu...
(Permata Hijau Jakarta, 29 April 2004)
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 100

memoar Ke Madania
Hendiarto

laporan Untung Ada Abbas Kiarostami
Liston P Siregar

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000