ceritanet, situs nir-laba untuk karya tulis              edisi 100 minggu 8 mei 2005,  po box 49 jkppj 10210

memoar Ke Madania
Hendiarto

Sebulan lalu, istriku minta ditemenin ke Parung, mengantar bidadariku Arinditya Wrningdhanu test masuk SD (gila nggak tuh, masuk SD pake di test segala?). Bidadari keduaku ini memang cuantik (semoga kalian juga bilang begitu...) dan belakangan ini cerewetnya minta ampun. Dan Madania perlu test karena bidadariku ini divonis autis.

Sepanjang jalan dia bertanya, berkomentar, berkisah, berceloteh macam-macam sampai bikin supir-tembaknya, hari itu diperankan oleh bapaknya langsung-- tertawa geli. Selama di sekolah dia --tidak seperti biasanya-- bertindak patut dan tertib, kooperatif sama guru dan temannya yang baru. Aku yang menunggu di luar, bersama istri, ketar-ketir. Meski yang pasang plank banyak, saat ini sekolah alternatif di Jakarta buat si Arin cuma ada 3; Madania, Cita Buana dan Vincentius.

Selama menunggu, kami mampir ke kelas khusus yg disediakan sekolah buat pelajar yg minor. Hampir sejam kami berbincang dengan guru, diseling anak asuh yang bolak-balik masuk dengan aneka watak mereka --umumnya kesulitan berbicara-- ada yang sekedar mengatakan hello, ada yang terapi. Waktu rehat si Arin ikut berbaris menuju kantin, dia cuma "hai" pada bapak dan ibunya, bergabung bersama rombongan teman dan gurunya.

Waktu pulang kutanya: "Arin suka sama sekolahnya?"
" He-eh..."
" Tadi diajarin apa sama bu guru...?"
" Disuruh gambar.... " jawabnya.
" Arin gambar apa?"

Ah, tak terlalu semangat dia menjawab, mungkin capek karena sudah jam 12. Kami pun 'menyimpan' dengan penuh harap.

Jumat 1 Muharam, kocek lagi bokek dan terpaksa di rumah saja. Sorenya temen istriku datang, mengantar rancangan rumah yg kami impikan. Sejak 2 tahun yang lalu kami pindah dari Bekasi ke Pangkalan Jati Baru karena Arin perlu sekolah yang paham atas kasusnya.

Akhir tahun lalu kami beli tanah di seberang Ciganjur dan berharap ini menjadi 'rumahku-istanaku.' Kami masih bermimpi kalau 'rumahku-istanaku' itu segera dapat diwujudkan dan Juli besok pindah kontrak ke Ciganjur selama setahun, sambil menunggu rumah selesai.

Tapi Sabtu paginya temanku bilang kalau tanahku bakal kegusur jalan tol. Sepanjang Sabtu sampai Senin pagi suasana hati seperti terganjal, tapi tawa si kecil bertiga sedikit menawarkan.

Senin siang aku terima SMS dari istriku. "Alhamdullilah, Arin diterima di Madania tanpa perlu shadow."

Terimakasih Tuhan. Gua traktir kalian semua. Lisoi!
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 100

laporan Untung Ada Abbas Kiarostami
Liston P Siregar

sajak Dyah Nyiur, Anak Perempuan Kami
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000