laporan Untung
Ada
Abbas
Kiarostami
Liston
P Siregar
Saya
bertekad akan gosok gigi setiap menjelang
tidur sejak Selasa 4 Mei
2005.
Sebelumnya? Angin-anginan. Kalau kedua
anak saya protes ‘kenapa kami
harus gosok gigi, tapi kau tidak’ atau
ketika istri sedang galak, maka sayapun
ogah-ogahan gosok gigi sebelum tidur.
Tapi kalau istri cuma mengancam ‘biar
nanti kau cepat ompong’ maka
saya cuma tersenyum.
Bapak
saya, yang lahir tahun 1928 di kampung
Sibadoar
--sekitar 12 kilometer
dari Sipirok, sekitar 90 kilometer dari
Padang Sidempuan, sekitar 300 kilometer
dari Medan, Sumatera Utara— baru
mengenal sikat gigi setelah sekolah PSKD
(Pendidikan Sekolah Kesehatan Djasmani)
di Medan. Dan, seingat saya, sampai akhir
hayatnya, dia tidak pernah menggosok
gigi menjelang tidur. Saat meninggal
dunia pada usia 74 tahun --karena serangan
jantung-- hanya dua giginya depannya
yang rusak –bukan ompong tapi agak
maju ke depan-- dan itupun karena jatuh
ketika SD dulu, di Sibadoar.
Selebihnya masih utuh.
Ibunya
bapak saya, Ompu ni Ihutan, tinggal
bersama kami,
dan juga tak pernah gosok
gigi setiap malam. Dia meninggal dunia
di usia 82 pada tahun 1984, dan memang
ompong total. Tapi ompong pada usia 82
tahun pada masa itu jelas merupakan kewajaran.
Lantas ibu saya –70 tahun-- juga
tidak gosok gigi setiap menjelang tidur,
juga masih utuh giginya
Dengan
catatan sejarah keluarga seperti itu,
amat berat rasanya kalau masih harus
gosok gigi lagi ketika mata sudah terkantuk-kantuk.
Kadang saya selesai kerja jam 1200 malam,
dan sampai rumah sekitar 30 menit selepas
tengah malam. Istri dan anak-anak sudah
terlelap tidur, jadi buat apa lagi saya
harus tersadarkan kembali oleh pedasnya
mentol kuat dari odol Euthymol
--cobalah sekali odol Euthymol?
Memang
gigi geraham kiri saya yang paling
belakang sudah
setengah hancur, tapi
saya tetap teguh; gosok gigi
menjelang tidur hanya jika terpaksa –baik
dipaksa kedua anak maupun istri.
Sampai
Selasa 4 Mei 2005. Malam itu saya sampai
rumah jam sekitar pukul 2330,
dan istri serta kedua anak sudah terlelap.
Saya ganti baju, cuci muka, gosok gigi
secara baik dan benar dengan odol pedas
Euthymol.
Kenapa?
Sakit Gigi
Saya penggemar berat Abbas Kiarostami.
Beberapa perburuan saya atas film-filmnya
cukup berhasil, mulai dari sebuah situs
www.iranianmovie.com di Amerika Serikat,
persewaan video, perpustakaan umum,
sampai bioskop non-konvensional ICA
di pusat kota London. Praktis semua
filmnya yang sudah dalam format video
dan DVD saya tonton, dan beberapa bahkan
saya beli. Tiga tahun lalu saya juga
beruntung sempat menonton lima film
pendeknya yang bertema pendidikan,
ketika Abbas Kiarostami masih bekerja
di Lembaga Pengembangan Intelektual
Anak dan Remaja Iran.
Bulan
Mei 2005, NFT dan Iran Heritage Foundation
bekerja-sama menggelar festival
film Abbas Kiarostami dengan memutar
semua film yang pernah dia produksi,
mulai dari tahun 1973 sampai tahun 2002.
Semua karya-karyanya, komplit. Dengan
booklet festival film Abbas Kiarostami
di tangan kiri dan jadwal kerja di tangan
kanan, saya berhasil menyusun rencana
yang matang untuk tidak kehilangan
kesempatan menyaksikan karya-karya awalnya,
yang belum pernah saya tonton. Dan ada
kekuatiran, bahwa inilah kesempatan satu-satunya.
Selain
itu ada pula satu pameran foto dan
instalasi
di Victoria & Albert
Museum – salah satu pusat kemapanan
seni dan budaya Inggris— juga workshop
di beberapa tempat. Dan sebuah saluran
TV Inggris, Channel Four, ikut meluncurkan
dua pekan film Iran untuk mendamping
Bulan Abbas Kiraostami.
Dari deretan
film Abbas Kirasotami, salah satunya
adalah Dandan dard atau
Sakit Gigi, tentang Mohamad Reza. “Dia
anak yang rajin belajar, juga rajin membantu
orang
tua…” papar narator saat
memulai cerita dengan gambar Mohammad
Reza duduk di bangku paling depan, bersama
dua temannya di kiri dan kanan. Kamera
kemudian menyorot Reza, siswa kelas 2
SD, mengangkat tong sampah ke depan rumahnya,
dan belajar sebelum tidur.
“Masalahnya
Reza malas gosok gigi….” dilanjutkan
dengan narasi tentang ayahnya yang selalu
mengingatkan dia untuk gosok gigi setiap
pagi dan setiap malam. Dari tampilan
wajahnya, ayah Reza yang berusia sekitar
40 tahun tersenyum dengan gigi putih
bersih yang rapi. Tapi itu gigi palsu,
karena malas gosok gigi. Dan menjelang
tidur, di meja samping tempat tidur ayahnya,
terletak sebuah gelas air berisi gigi
palsu.
Kamera kemudian menampilkan foto keluarga
hitam putih. Ayah Reza masih kecil, bersama
kakeknya, yang juga tidak gosok gigi
dan ompong. Pengalaman buruk itulah yang
membuat ayah Reza menegakkan rejim disiplin
gosok gigi. Tapi Reza masih tetap dengan
rejim tidak perlu gosok gigi jika ayah
tidak ada, baik pagi maupun malam.
Adegan
pindah ke kelas Reza, dan dia ditinggal
kedua
teman sebangku. “Karena
mulut Reza bau,” kata teman di
sebelah kanan ketika ditanya kenapa
ikut-ikutan pindah bangku menjauh dari
Reza, seperti
teman di sayap kiri. Lebih parah
lagi keesokan harinya Reza tak bisa ikut
main bersama kawan-kawan karena sakit
gigi. Dia duduk di pojok memegang rahang
kanan, menahan sakit gigi.
Penderitaan
semakin buruk dan Reza menangis keras
bertahan
menutup mulut di depan
dokter gigi. Juru kamera kemudian mewawancarai
dokter gigi; “kenapa orang sakit
gigi?’ Sambil kamera berpindah-pindah
--dari penjelasan si dokter, ke ilustrasi
setan-setan sisa makanan yang memukul-mukul
gigi, juga ke wajah Reza yang kesakitan
giginya dicabut-- maka lengkaplah penjelasan
kenapa orang bisa sakit gigi, kenapa
orang penting gosok gigi sedikitnya selepas
sarapan dan sebelum tidur –karena
ketika tidur mulut tidak memproduksi
saliva. Lengkaplah penjelasan –yang
untuk sebagian besar orang— sebenarnya
sudah amat biasa.
Sakit Gigi kemudian ditutup dengan Reza
yang kembali ditemani kedua teman sebangku,
Reza yang riang ikut main bersama teman-teman,
dan Reza yang setiap pagi dan malam rajin
gosok gigi, secara baik dan benar sesuai
petunjuk dokter.
Film sepanjang
23 menit ini diproduksi oleh Abbas
Kiarostami ketika dia masih
bekerja di Lembaga Pengembangan Intelektual
Anak dan Remaja Iran. Pada masa inilah
Abbas memproduksi sejumlah film-film
pendidikan berbasis dokumentasi dengan
plot kehidupan sehari-hari yang jauh
dari pendekatan ‘indoktrinasi’ dan
--salah satu ciri Abbas-- selalu diwarnai
dengan unsur jenaka.
Dalam
sebuah wawancara, Abbas mengenang gagasan
dibalik Sakit Gigi. "Kenapa, ketika
kita sudah setengah tertidur, masih
harus menaruh odol yang rasanya
tidak enak ke sikat gigi dan memasukkannya
ke dalam mulut?" Karya-karya Abbas
memang bermula dari pertanyaan sederhana,
seperti Mashq-e shab yang
berawal dari pekerjaan rumah anak sekolah.
Pertanyaan kecil yang kemudian bisa
melempar renungan besar, tanpa harus
menggurui.
Negara
Kuat ?
Dalam First Case and Second Case (1979),
Abbas menyusun skenario tentang sekelompok
murid yang memukul-mukul meja setiap
guru menghadap ke papan tulis. Karena
tak bisa menemukan pelakunya, Pak guru
memutuskan untuk mengirim keluar 7
siswa di dua barisan paling belakang. “Kalian
akan diluar kelas selama seminggu sampai
ada yang memberi tahu siapa yang memukul-mukul
meja.”
Dua hari
kemudian, seorang anak memutuskan masuk
ke dalam
kelas setelah memberi tahu
siswa yang meng’goyang’ guru
itu. Abbas kemudian mewawancarai sejumlah
tokoh masyarakat –penyair, menteri,
pejabat pendidikan, sutradara film, dokter,
ulama, maupun akademisi. Juga diwawancarai
ketujuh orang tua murid yang terlibat.
Apa pendapat mereka?
“Itu
pertanyaan sulit, antara menjaga persatuan
dan solidaritas dengan
menjadi mata-mata teman,” kata
seseorang. Ada yang berpendapat; “untuk
apa menjaga solidaritas demi sebuah perbuatan
yang tidak benar.” Sedangkan seorang
tua murid cuma bisa mengungkapkan keyakinan
kalau anaknya tidak mungkin mengganggu
guru
karena
dia
sudah bersusah payah mencari uang untuk
menyekolahkan anaknya.
Seorang
lainnya mengatakan; “gurunya
yang salah karena memprovokasi anak-anak
dengan pilihan sulit tersebut.” Sementara
seorang ibu berpendapat tidak ada gunanya
lagi memberi tahu siapa pelakunya; “lihatlah
anak itu, dia duduk di kelas dengan wajah
merasa bersalah.”
Gambar
kemudian diulang untuk kasus kedua.
Setelah
satu minggu berlalu para
murid masuk kelas lagi dengan tetap sepakat
tidak memberi tahu kepada guru siapa
pelaku ‘kejahatan’ itu. Para
narasumber kembali ditanya pendapatnya
atas ‘keputusan mempertahankan
solidaritas dan persatuan.’ Masing-masing
pun kembali menguraikan pendapat. “Masalah
ini cerminan dari masyarakat Iran yang
memiliki dinas rahasia yang mematai-matai
masyarakat sejak tahun 1950an,” pendapat
seseorang yang diwawancara.
Jadi apa
yang sebenarnya harus dilakukan. Dari
kasus pertama maupun kedua yang
amat sederhana --yang hampir dipastikan
pernah terjadi di semua ruang kelas di
seluruh dunia-- jelas tak ada solusi
yang terbaik.
Namun bagi masyarakat Iran --yang berada
di bawah rejim ulama yang ketat, yang
ingin mengatur seluruh perilaku masyarakatnya--
pertanyaan atau perdebatan seperti itu
bisa dianggap sebagai rongrongan terhadap
negara, atau terhadap sebuah nilai yang
sudah diyakini keluhuran dan kebenarannya.
Ghazieh-e shekl-e eval, ghazieh-e
shekl-e douum sempat dilarang beredar
di Iran.
Abbas
Kiarostami juga punya First Graders.
Lokasi utama
adalah ruang kepala sekolah
dan kamera menyorot ke pintu masuk serta
dinding tempat murid-murid bermasalah
berdiri menunggu ‘penyelidikan
kepala sekolah.’
Ada seorang
mengaku di’pukul’ temannya,
dan dia menceritakan kronologi pemukulan.
Temannya mengakui pemukulan itu dan kepala
sekolah menganjurkan meminta maaf dan
korban pemukulan menerima permintaan
maaf. “Sekarang
kalian kembali ke kelas dengan berpegangan
tangan.” Masuklah giliran kasus-kasus
lainnya, yang tidak lagi sekedar hitam
putih.
Tiga orang
anak dikirim ke ruang kepala sekolah.
Yang
satu mengaku di’pukul’ sama
yang satunya, sedang orang ketiga berperan
sebagai tukang ketawa. Masalahnya adalah
kenapa si korban dipukul? “Mereka
berdua mengatakan ayah dan ibu saya berasal
dari hutan.” Penyelidikan kepala
sekolah tidak berhasil memutus rantai,
tapi ketiganya sepakat juga untuk saling
memaafkan.
Atau seorang
anak yang terlambat karena disuruh
ayahnya
membeli roti. “Di
tempat roti ada tiga orang antri di depan
saya, dan mereka ngobrol sama tukang
roti.” Yang lain menghadap kepala
sekolah sambil menangis karena kehilangan
gelas minum. “Saya pasti dimarahi
ibu di rumah.” Atau seorang
anak yang mengaku disepak tapi yang menyepak
mengaku tidak sengaja karena dia tergelincir.
Tentu ada juga anak yang bandal yang
sudah 5 kali menghadap kepala sekolah,
yang kemudian merasa perlu menulis
surat panggilan kepara orang tua si anak.
Gambar
lain tentang seorang ibu yang mendaftarkan
anaknya masuk sekolah. “Sudah
terlambat, karena mestinya sepekan lalu,” kata
kepala sekolah --tapi sang ibu sakit
dan tidak bisa mengantar anaknya ke sekolah. “Baiklah,
mana akte kelahirannya,” kata Pak
kepsek yang kemudian menyadari; “mestinya
dia sudah kemari tahun lalu.”
Tidak,
balas si ibu. “Akte kelahirannya
sengaja dibuat lebih tua satu tahun oleh
bapaknya supaya kelak bisa lebih
cepat masuk tentara.”.
Kisah-kisah
sebuah masyarakat --yang pasti
beragam-- di
dalam sebuah rejim yang berupaya menyeragamkannya
menjadi dasar
bagi Kiarostamisme. Dalam Fellow Citizen,
seorang petugas lalu lintas, jelas tak
mampu mengendalikan zona bebas kenderaan
bermotor. Semua orang punya alasan masing-masing,
dan petugas lalu lintas itu ternyata
tak bisa menegakkan hukum yang terdengar
amat sederhana; ‘kenderaan bermotor
dilarang masuk, kecuali ambulans, polisi,
diplomat asing, dan para pemilik kartu
pas.”
Kamera yang menyorot perdebatan pengemudi
mobil dan petugas lalu lintas itu menujukkan
bahwa petugas bukanlah mesin
yang bisa
diprogram dengan rapi dan masyarakat
bukanlah kelompok individu yang kaku. Negara
boleh unjuk kekuatan, tapi masyarakat punya
instink
menyelamatkan diri pula.
Cuma,
mungkin ketegasan sebuah rejim pula
yang membuat Abbas berhasil
mengembangkan film-film cerita berbasis
dokumenter yang unik dan istimewa. Larangan
keras atas adegan percintaan, kekerasan,
penentangan atas rejim, justru membuat
Abbas Kiarostami memeras kreatifitas,
jadi bukan sekedar mengikuti peraturan
dengan karya-karya konvensional yang
membosankan. Juga bukan melarikan
diri ke dunia underground untuk mengeksploitir
kebebasan ekspresi. Abbas menyesuaikan
diri dengan tekanan lewat
pilihan-pilihan baru.
Tahun
2002, Abbas Kiarostami, memproduksi
Ten yang terdiri
dari 10 adegan pembicaraan
seorang supir taksi perempuan dengan
10 penumpangnya. Kamera ditempatkan di
kaca spion menghadap ke penumpang, dan
sesekali ditaruh di pinggir jendela untuk
menyorot supir taksi. Film ini –yang
menggunakan pendekatan ketika Abbas bekerja
untuk film pendidikan sekitar 25 tahun
lalu— sudah menjadi milik
sinema internasional.
Sebelumnya,
Taste of Cherry, meraih penghargaan
tertinggi
Palme d'Or di Cannes
Film Festival tahun 1997. Film ini juga
tak jauh berbeda dari masa-masa awal
Abbas, dengan menuturkan perjalanan
seorang pria untuk mencari orang yang
mau membantunya
bunuh diri. Abbas juga menurunkan trilogy –begitulah
kata para penggemarnya— dengan
konteks gempa bumi yang melanda Iran
Utara tahun 1990 yang menewaskan sekitar
50.000 jiwa: Where is My Friend House,
Life and Nothing More, dan Through The
Olive Tree. Film-film yang menggambarkan
hubungan antar manusia, kepedihan manusia
diterpa bencana sekaligus kekuatan manusia
menghadapi tragedi. “Biarlah yang
meninggal itu meninggal dan yang hidup
pasti memerlukan yang saya beli ini,” kata
seorang kakek yang membawa toilet di
tengah-tengah reruntuhan gempa.
Di London,
salah satu pusat peradaban modern
Barat, Abbas Kiraostami mendapat
tempat khusus. Karya-karyanya yang tidak
pretensius dan tidak artifical –dia
percaya keberadaan kamera tidak akan
membuat orang terganggu melakukan kegiatannya; “walau
sesekali melihat ke kamera tapi tidak
menatap,” katanya — tidak
akan pernah membanjiri bioskop-bioskop
di seluruh dunia. Tapi, dibalik heroisme
film-film Holywood --yang selalu membanjiri
bioskop-bioskop seluruh dunia-- betapa
melegakan ketika menyadari ada orang
bernama Abbas
Kiarostami, yang lahir di Iran tahun
1940 dan menjadi warga dunia.
Jadi apakah
saya bertekad gosok gigi setiap malam
karena Abbas Kiarostami? Mungkin ya,
mungkin tidak. Saya jelas bukan orang
pintar, tapi juga tidak terlalu
bodoh untuk tidak
bisa memahami seluruh tataran kognisi
dan afeksi di Sakit Gigi-nya Abbas
Kiraostami. Tapi, siapa tahu pula tekad
saya cuma bertahan dua minggu.
***