ceritanet, situs nir-laba untuk karya tulis              edisi 100 minggu 8 mei 2005,  po box 49 jkppj 10210

laporan Untung Ada Abbas Kiarostami
Liston P Siregar

Saya bertekad akan gosok gigi setiap menjelang tidur sejak Selasa 4 Mei 2005. Sebelumnya? Angin-anginan. Kalau kedua anak saya protes ‘kenapa kami harus gosok gigi, tapi kau tidak’ atau ketika istri sedang galak, maka sayapun ogah-ogahan gosok gigi sebelum tidur. Tapi kalau istri cuma mengancam ‘biar nanti kau cepat ompong’ maka saya cuma tersenyum.

Bapak saya, yang lahir tahun 1928 di kampung Sibadoar --sekitar 12 kilometer dari Sipirok, sekitar 90 kilometer dari Padang Sidempuan, sekitar 300 kilometer dari Medan, Sumatera Utara— baru mengenal sikat gigi setelah sekolah PSKD (Pendidikan Sekolah Kesehatan Djasmani) di Medan. Dan, seingat saya, sampai akhir hayatnya, dia tidak pernah menggosok gigi menjelang tidur. Saat meninggal dunia pada usia 74 tahun --karena serangan jantung-- hanya dua giginya depannya yang rusak –bukan ompong tapi agak maju ke depan-- dan itupun karena jatuh ketika SD dulu, di Sibadoar. Selebihnya masih utuh.

Ibunya bapak saya, Ompu ni Ihutan, tinggal bersama kami, dan juga tak pernah gosok gigi setiap malam. Dia meninggal dunia di usia 82 pada tahun 1984, dan memang ompong total. Tapi ompong pada usia 82 tahun pada masa itu jelas merupakan kewajaran. Lantas ibu saya –70 tahun-- juga tidak gosok gigi setiap menjelang tidur, juga masih utuh giginya

Dengan catatan sejarah keluarga seperti itu, amat berat rasanya kalau masih harus gosok gigi lagi ketika mata sudah terkantuk-kantuk. Kadang saya selesai kerja jam 1200 malam, dan sampai rumah sekitar 30 menit selepas tengah malam. Istri dan anak-anak sudah terlelap tidur, jadi buat apa lagi saya harus tersadarkan kembali oleh pedasnya mentol kuat dari odol Euthymol --cobalah sekali odol Euthymol?

Memang gigi geraham kiri saya yang paling belakang sudah setengah hancur, tapi saya tetap teguh; gosok gigi menjelang tidur hanya jika terpaksa –baik dipaksa kedua anak maupun istri.

Sampai Selasa 4 Mei 2005. Malam itu saya sampai rumah jam sekitar pukul 2330, dan istri serta kedua anak sudah terlelap. Saya ganti baju, cuci muka, gosok gigi secara baik dan benar dengan odol pedas Euthymol.

Kenapa?

Sakit Gigi
Saya penggemar berat Abbas Kiarostami. Beberapa perburuan saya atas film-filmnya cukup berhasil, mulai dari sebuah situs www.iranianmovie.com di Amerika Serikat, persewaan video, perpustakaan umum, sampai bioskop non-konvensional ICA di pusat kota London. Praktis semua filmnya yang sudah dalam format video dan DVD saya tonton, dan beberapa bahkan saya beli. Tiga tahun lalu saya juga beruntung sempat menonton lima film pendeknya yang bertema pendidikan, ketika Abbas Kiarostami masih bekerja di Lembaga Pengembangan Intelektual Anak dan Remaja Iran.

Bulan Mei 2005, NFT dan Iran Heritage Foundation bekerja-sama menggelar festival film Abbas Kiarostami dengan memutar semua film yang pernah dia produksi, mulai dari tahun 1973 sampai tahun 2002. Semua karya-karyanya, komplit. Dengan booklet festival film Abbas Kiarostami di tangan kiri dan jadwal kerja di tangan kanan, saya berhasil menyusun rencana yang matang untuk tidak kehilangan kesempatan menyaksikan karya-karya awalnya, yang belum pernah saya tonton. Dan ada kekuatiran, bahwa inilah kesempatan satu-satunya.

Selain itu ada pula satu pameran foto dan instalasi di Victoria & Albert Museum – salah satu pusat kemapanan seni dan budaya Inggris— juga workshop di beberapa tempat. Dan sebuah saluran TV Inggris, Channel Four, ikut meluncurkan dua pekan film Iran untuk mendamping Bulan Abbas Kiraostami.

Dari deretan film Abbas Kirasotami, salah satunya adalah Dandan dard atau Sakit Gigi, tentang Mohamad Reza. “Dia anak yang rajin belajar, juga rajin membantu orang tua…” papar narator saat memulai cerita dengan gambar Mohammad Reza duduk di bangku paling depan, bersama dua temannya di kiri dan kanan. Kamera kemudian menyorot Reza, siswa kelas 2 SD, mengangkat tong sampah ke depan rumahnya, dan belajar sebelum tidur.

“Masalahnya Reza malas gosok gigi….” dilanjutkan dengan narasi tentang ayahnya yang selalu mengingatkan dia untuk gosok gigi setiap pagi dan setiap malam. Dari tampilan wajahnya, ayah Reza yang berusia sekitar 40 tahun tersenyum dengan gigi putih bersih yang rapi. Tapi itu gigi palsu, karena malas gosok gigi. Dan menjelang tidur, di meja samping tempat tidur ayahnya, terletak sebuah gelas air berisi gigi palsu.

Kamera kemudian menampilkan foto keluarga hitam putih. Ayah Reza masih kecil, bersama kakeknya, yang juga tidak gosok gigi dan ompong. Pengalaman buruk itulah yang membuat ayah Reza menegakkan rejim disiplin gosok gigi. Tapi Reza masih tetap dengan rejim tidak perlu gosok gigi jika ayah tidak ada, baik pagi maupun malam.

Adegan pindah ke kelas Reza, dan dia ditinggal kedua teman sebangku. “Karena mulut Reza bau,” kata teman di sebelah kanan ketika ditanya kenapa ikut-ikutan pindah bangku menjauh dari Reza, seperti teman di sayap kiri. Lebih parah lagi keesokan harinya Reza tak bisa ikut main bersama kawan-kawan karena sakit gigi. Dia duduk di pojok memegang rahang kanan, menahan sakit gigi.

Penderitaan semakin buruk dan Reza menangis keras bertahan menutup mulut di depan dokter gigi. Juru kamera kemudian mewawancarai dokter gigi; “kenapa orang sakit gigi?’ Sambil kamera berpindah-pindah --dari penjelasan si dokter, ke ilustrasi setan-setan sisa makanan yang memukul-mukul gigi, juga ke wajah Reza yang kesakitan giginya dicabut-- maka lengkaplah penjelasan kenapa orang bisa sakit gigi, kenapa orang penting gosok gigi sedikitnya selepas sarapan dan sebelum tidur –karena ketika tidur mulut tidak memproduksi saliva. Lengkaplah penjelasan –yang untuk sebagian besar orang— sebenarnya sudah amat biasa.

Sakit Gigi kemudian ditutup dengan Reza yang kembali ditemani kedua teman sebangku, Reza yang riang ikut main bersama teman-teman, dan Reza yang setiap pagi dan malam rajin gosok gigi, secara baik dan benar sesuai petunjuk dokter.

Film sepanjang 23 menit ini diproduksi oleh Abbas Kiarostami ketika dia masih bekerja di Lembaga Pengembangan Intelektual Anak dan Remaja Iran. Pada masa inilah Abbas memproduksi sejumlah film-film pendidikan berbasis dokumentasi dengan plot kehidupan sehari-hari yang jauh dari pendekatan ‘indoktrinasi’ dan --salah satu ciri Abbas-- selalu diwarnai dengan unsur jenaka.

Dalam sebuah wawancara, Abbas mengenang gagasan dibalik Sakit Gigi. "Kenapa, ketika kita sudah setengah tertidur, masih harus menaruh odol yang rasanya tidak enak ke sikat gigi dan memasukkannya ke dalam mulut?" Karya-karya Abbas memang bermula dari pertanyaan sederhana, seperti Mashq-e shab yang berawal dari pekerjaan rumah anak sekolah. Pertanyaan kecil yang kemudian bisa melempar renungan besar, tanpa harus menggurui.

Negara Kuat ?
Dalam First Case and Second Case (1979), Abbas menyusun skenario tentang sekelompok murid yang memukul-mukul meja setiap guru menghadap ke papan tulis. Karena tak bisa menemukan pelakunya, Pak guru memutuskan untuk mengirim keluar 7 siswa di dua barisan paling belakang. “Kalian akan diluar kelas selama seminggu sampai ada yang memberi tahu siapa yang memukul-mukul meja.”

Dua hari kemudian, seorang anak memutuskan masuk ke dalam kelas setelah memberi tahu siswa yang meng’goyang’ guru itu. Abbas kemudian mewawancarai sejumlah tokoh masyarakat –penyair, menteri, pejabat pendidikan, sutradara film, dokter, ulama, maupun akademisi. Juga diwawancarai ketujuh orang tua murid yang terlibat. Apa pendapat mereka?

“Itu pertanyaan sulit, antara menjaga persatuan dan solidaritas dengan menjadi mata-mata teman,” kata seseorang. Ada yang berpendapat; “untuk apa menjaga solidaritas demi sebuah perbuatan yang tidak benar.” Sedangkan seorang tua murid cuma bisa mengungkapkan keyakinan kalau anaknya tidak mungkin mengganggu guru karena dia sudah bersusah payah mencari uang untuk menyekolahkan anaknya.

Seorang lainnya mengatakan; “gurunya yang salah karena memprovokasi anak-anak dengan pilihan sulit tersebut.” Sementara seorang ibu berpendapat tidak ada gunanya lagi memberi tahu siapa pelakunya; “lihatlah anak itu, dia duduk di kelas dengan wajah merasa bersalah.”

Gambar kemudian diulang untuk kasus kedua. Setelah satu minggu berlalu para murid masuk kelas lagi dengan tetap sepakat tidak memberi tahu kepada guru siapa pelaku ‘kejahatan’ itu. Para narasumber kembali ditanya pendapatnya atas ‘keputusan mempertahankan solidaritas dan persatuan.’ Masing-masing pun kembali menguraikan pendapat. “Masalah ini cerminan dari masyarakat Iran yang memiliki dinas rahasia yang mematai-matai masyarakat sejak tahun 1950an,” pendapat seseorang yang diwawancara.

Jadi apa yang sebenarnya harus dilakukan. Dari kasus pertama maupun kedua yang amat sederhana --yang hampir dipastikan pernah terjadi di semua ruang kelas di seluruh dunia-- jelas tak ada solusi yang terbaik. Namun bagi masyarakat Iran --yang berada di bawah rejim ulama yang ketat, yang ingin mengatur seluruh perilaku masyarakatnya-- pertanyaan atau perdebatan seperti itu bisa dianggap sebagai rongrongan terhadap negara, atau terhadap sebuah nilai yang sudah diyakini keluhuran dan kebenarannya. Ghazieh-e shekl-e eval, ghazieh-e shekl-e douum sempat dilarang beredar di Iran.

Abbas Kiarostami juga punya First Graders. Lokasi utama adalah ruang kepala sekolah dan kamera menyorot ke pintu masuk serta dinding tempat murid-murid bermasalah berdiri menunggu ‘penyelidikan kepala sekolah.’

Ada seorang mengaku di’pukul’ temannya, dan dia menceritakan kronologi pemukulan. Temannya mengakui pemukulan itu dan kepala sekolah menganjurkan meminta maaf dan korban pemukulan menerima permintaan maaf. “Sekarang kalian kembali ke kelas dengan berpegangan tangan.” Masuklah giliran kasus-kasus lainnya, yang tidak lagi sekedar hitam putih.

Tiga orang anak dikirim ke ruang kepala sekolah. Yang satu mengaku di’pukul’ sama yang satunya, sedang orang ketiga berperan sebagai tukang ketawa. Masalahnya adalah kenapa si korban dipukul? “Mereka berdua mengatakan ayah dan ibu saya berasal dari hutan.” Penyelidikan kepala sekolah tidak berhasil memutus rantai, tapi ketiganya sepakat juga untuk saling memaafkan.

Atau seorang anak yang terlambat karena disuruh ayahnya membeli roti. “Di tempat roti ada tiga orang antri di depan saya, dan mereka ngobrol sama tukang roti.” Yang lain menghadap kepala sekolah sambil menangis karena kehilangan gelas minum. “Saya pasti dimarahi ibu di rumah.” Atau seorang anak yang mengaku disepak tapi yang menyepak mengaku tidak sengaja karena dia tergelincir. Tentu ada juga anak yang bandal yang sudah 5 kali menghadap kepala sekolah, yang kemudian merasa perlu menulis surat panggilan kepara orang tua si anak.

Gambar lain tentang seorang ibu yang mendaftarkan anaknya masuk sekolah. “Sudah terlambat, karena mestinya sepekan lalu,” kata kepala sekolah --tapi sang ibu sakit dan tidak bisa mengantar anaknya ke sekolah. “Baiklah, mana akte kelahirannya,” kata Pak kepsek yang kemudian menyadari; “mestinya dia sudah kemari tahun lalu.”

Tidak, balas si ibu. “Akte kelahirannya sengaja dibuat lebih tua satu tahun oleh bapaknya supaya kelak bisa lebih cepat masuk tentara.”.

Kisah-kisah sebuah masyarakat --yang pasti beragam-- di dalam sebuah rejim yang berupaya menyeragamkannya menjadi dasar bagi Kiarostamisme. Dalam Fellow Citizen, seorang petugas lalu lintas, jelas tak mampu mengendalikan zona bebas kenderaan bermotor. Semua orang punya alasan masing-masing, dan petugas lalu lintas itu ternyata tak bisa menegakkan hukum yang terdengar amat sederhana; ‘kenderaan bermotor dilarang masuk, kecuali ambulans, polisi, diplomat asing, dan para pemilik kartu pas.”
Kamera yang menyorot perdebatan pengemudi mobil dan petugas lalu lintas itu menujukkan bahwa petugas bukanlah mesin yang bisa diprogram dengan rapi dan masyarakat bukanlah kelompok individu yang kaku. Negara boleh unjuk kekuatan, tapi masyarakat punya instink menyelamatkan diri pula.

Cuma, mungkin ketegasan sebuah rejim pula yang membuat Abbas berhasil mengembangkan film-film cerita berbasis dokumenter yang unik dan istimewa. Larangan keras atas adegan percintaan, kekerasan, penentangan atas rejim, justru membuat Abbas Kiarostami memeras kreatifitas, jadi bukan sekedar mengikuti peraturan dengan karya-karya konvensional yang membosankan. Juga bukan melarikan diri ke dunia underground untuk mengeksploitir kebebasan ekspresi. Abbas menyesuaikan diri dengan tekanan lewat pilihan-pilihan baru.

Tahun 2002, Abbas Kiarostami, memproduksi Ten yang terdiri dari 10 adegan pembicaraan seorang supir taksi perempuan dengan 10 penumpangnya. Kamera ditempatkan di kaca spion menghadap ke penumpang, dan sesekali ditaruh di pinggir jendela untuk menyorot supir taksi. Film ini –yang menggunakan pendekatan ketika Abbas bekerja untuk film pendidikan sekitar 25 tahun lalu— sudah menjadi milik sinema internasional.

Sebelumnya, Taste of Cherry, meraih penghargaan tertinggi Palme d'Or di Cannes Film Festival tahun 1997. Film ini juga tak jauh berbeda dari masa-masa awal Abbas, dengan menuturkan perjalanan seorang pria untuk mencari orang yang mau membantunya bunuh diri. Abbas juga menurunkan trilogy –begitulah kata para penggemarnya— dengan konteks gempa bumi yang melanda Iran Utara tahun 1990 yang menewaskan sekitar 50.000 jiwa: Where is My Friend House, Life and Nothing More, dan Through The Olive Tree. Film-film yang menggambarkan hubungan antar manusia, kepedihan manusia diterpa bencana sekaligus kekuatan manusia menghadapi tragedi. “Biarlah yang meninggal itu meninggal dan yang hidup pasti memerlukan yang saya beli ini,” kata seorang kakek yang membawa toilet di tengah-tengah reruntuhan gempa.

Di London, salah satu pusat peradaban modern Barat, Abbas Kiraostami mendapat tempat khusus. Karya-karyanya yang tidak pretensius dan tidak artifical –dia percaya keberadaan kamera tidak akan membuat orang terganggu melakukan kegiatannya; “walau sesekali melihat ke kamera tapi tidak menatap,” katanya — tidak akan pernah membanjiri bioskop-bioskop di seluruh dunia. Tapi, dibalik heroisme film-film Holywood --yang selalu membanjiri bioskop-bioskop seluruh dunia-- betapa melegakan ketika menyadari ada orang bernama Abbas Kiarostami, yang lahir di Iran tahun 1940 dan menjadi warga dunia.

Jadi apakah saya bertekad gosok gigi setiap malam karena Abbas Kiarostami? Mungkin ya, mungkin tidak. Saya jelas bukan orang pintar, tapi juga tidak terlalu bodoh untuk tidak bisa memahami seluruh tataran kognisi dan afeksi di Sakit Gigi-nya Abbas Kiraostami. Tapi, siapa tahu pula tekad saya cuma bertahan dua minggu.
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 100

memoar Ke Madania
Hendiarto

sajak Dyah Nyiur, Anak Perempuan Kami
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000