sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 262, 15 agustus 2016

Tulisan lain

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

Kota Melampaui Perutmu - Jajang Kawentar

Detik Yang Memudarkan Cinta - Ani Mulyani

Ada Lelah Tanpa Upah - Arifah Nugraheni

Cerita - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 9 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 25 - Aminatul Faizah

Bewl Water

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 8 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

Hari ini aku mengajar tiga kelas, semuanya adalah kelas IX. Karena hidup seseorang harus memiliki tujuan, begitu juga kehidupan anak-anak di SMP N 2 Pulau Morotai, seringkali aku bertanya kepada mereka, “Apa cita-citamu, nak?” Bibirku akan menyimpul jika anak yang aku tanya dengan tegas menjawab, “Saya ingin jadi tentara nanti kalau sudah besar”. Sedang menghadapi anak yang hanya menunduk, berpikir atau hanya garuk-garuk kepala, mataku akan lekat tanpa berkedip memandang wajahnya. Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Inang 1, kuatkanlah hatimu. Kaunya nanti yang mengantarkan kami satu per satu.” Purnama ingat betul kalimat itu. Mamak yang mengatakannya, dalam perjalanan pulang usai pemakaman bapaknya bertahun silam, sembari memegang tangannya erat dengan isak tangis yang tak habis-habisnya. Tak ditanggapinya kata itu dan lebih memilih memeluk ibunya lebih kuat. Ketika itu. Kini kalimat itu memaksanya menggali ingatan dan menghadapkannya pada sesuatu. Purnama Tak Bisa Memilih (Kematian) - Liston P Siregar

Mulutmu mencubit di mulutku
Menggelegak benci sejenak itu

Mengapa merihmu tak kucekik pula
Ketika halus-perih kau meluka??

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Tangkahan
Tangkahan, Agustus 2016

"Segala-galanya oke," dia menambahkan dengan nada puas.
"Apa yang kau derita?" tanyaku meskipun tidak tahu apakah sopan pertanyaan seperti itu.
"Kanker. Sedikit saja."
Aku terus menundukkan kepala untuk menyembunyikan kebingunganku. Kanker merupakan
  hukuman. Dan hukuman tak pernah cukup sedikit saja. Itu hukuman mati yang diperpanjangkan dalam perjalanan waktu
. Dari Kehidupan Para Jutawan - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Ayatollah Khomeini adalah manusia setengah dewa yang menguasai seluruh kehidupan di Iran termasuk keluargaku. Ibu merasa kalau kami harus buru-buru meninggalkan Iran. Harus. Ia tak mau negeri yang ia yakini akan bergejolak mengambil masa laluku. Itu tidaklah benar. Aku dan teman-temanku hanya tahu bahwa laki-laki itu adalah pahlawan. Teheran Dalam Stoples - Aminatul Faizah

ceritanet©listonpsiregar2000