sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 263, 15 september 2016
Tulisan lain

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

Kota Melampaui Perutmu - Jajang Kawentar

Detik Yang Memudarkan Cinta - Ani Mulyani

Ada Lelah Tanpa Upah - Arifah Nugraheni

Cerita - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 9 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 25 - Aminatul Faizah

Bewl Water

Sungguh, serasa setiap orang di pulau ini punya satu matahari di atas kepalanya. Terlihat jelas fatamorgana di atas jalan aspal Morotai. Minggu kedua di bulan Februari, panas membara hingga keringat tidak hentinya menetes. Tiga hari yang lalu seorang teman guru melahirkan bayi perempuan, aku dan kedua temanku sedang dalam perjalanan untuk membesuk. Langkah kami bertiga seperti lomba jalan cepat. Membara - Arifah Nugraheni

Pada keesokan harinya, Maurice membawaku ke bandara. Naik Jaguar biru. Koporku tak juga ditemui tetapi aku diyakinkan kopor itu akanĀ  ditemui juga nanti. Aku sudah biasa dengan kehilangan. Aku memperoleh gaun baru dan dengan wajah baru bergaya seorang perempuan penggoda lelaki. Apakah itu sama nilainya dengan satu kopor? Dari Kehidupan Para Jutawan - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

 

Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Pernah

Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah-kumamah

Merdeka - Chairil Anwar

Berlin

Aku merasakan duniaku yang normal saat aku kembali ke Indonesia, rumahku dan tanah airku. Dari beribu-ribu pulau dan dari berjuta-juta kota, Kediri yang ibu pilih sebagai tempat untuk menulis novel dan tempat aku tumbuh menjadi remaja yang normal. Aku orang asing namun berbeda dengan saat di Iran, aku diperlakukan bak dewi, bukan dihina melainkan pujian dan perlakukan khusus datang padaku baik waktu main atau saat menimba ilmu. Teheran Dalam Stoples - Aminatul Faizah

ceritanet©listonpsiregar2000