sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 259, 17 mei 2016

Tulisan lain

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 7 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 23 - Aminatul Faizah

Rochester

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 6 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

 

“Cal, burung ini di sini ada tidak?”
“Oh, itu ibu. Itu paling banyak di hutan, dia pe telur paling sedap. Itu ayam besar yang baru-baru ini saya ceritakan, bu!”

“Ini yang kalian makan itu?”
"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Aku coba menyembunyikan tangisanku tetapi tidak berhasil dan tangisan itu dianggap orang sebagai tanda kekurangajaran. Aku diundang datang, diberi penghormatan, dihidangkan makanan lezat. Mengapa aku berkelakuan demikian? Menangis itu kurang sopan. Kalau kau ada masalah pergilah ke dokter psikiatri, membayar tujuh puluh dolar dan biarlah dia yang menolongmu. Dari Kehidupan Para Jutawan - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Antibes

Kita musti bercerai
Sebelum kicau murai berderai

Terlalu kita minta pada malam ini

Benar belum puas serah-menyerah
Bercerai - Chairil Anwar

Aku baru tahu apa itu Syiah dan juga Sunni. Tapi aku tak memperdulikannya. Apa yang orang tuaku pilih itulah yang terbaik bagiku. Perasaan gejolak tentang siapa aku timbul dengan seketika saat kami melaksanakan salat tarawih. Memang orang Syiah tak melaksanakan salat tarawih, bahkan masjid Al Nur yang berada di depan rumah kami juga tampak seperti biasanya saja. Teheran Dalam Stoples - Aminatul Faizah

ceritanet©listonpsiregar2000